Minggu, 21 Juli 2024

 edisi 18


Kamar 00
: Ita R.
 
Malam merisau
Dua b’las bidadari
Bermata jambon
 
Saat membuka mata
Terasa sekali di pertengahan malam
Dinding kamar ada bayangbayang
Timbul dan tenggelam dan samar
 
Kelepak sayap lelawa sungguh tak sudi kudengar
Sebab kesunyian terus juga mengalir mengisi kamar
Penuh bagai danau yang mengombak ngombak
Dan aku mengapung di atasnya tak ubahnya perahu kosong
 
Bayang bayang itu berloncatan memuati perahu
Berkayuh kayuh sampai tubuhku beroleng oleng
Malam semakin malam
Dan lelawa berkerumun entah dari mana mana
 
Mataku perih
Embun di ujung daun
Mencuci risau
 
Banjarbaru, 2016
 
 
171.
 
( Dalam Kamar 171 Kutuis Haiku )
 
1.
Sejauh mata
Di tubuh Lhokseumawe
Camar  bertutur
 
2.
Serasa mimpi
Kapal di atas rumah
Ganas tsunami
 
3.
Korban tsunami
Masih terdengar jerit
Kuburan masal
 
4.
Riwayat batu
Memorial tsunami
Taman Al Kautsar
 
5.
Taman syuhada
Rangkaian batu tasbih
Tsunami ya Rab
 
Aceh, 2016
 
 
172.
 
Di  Pantai Ulee Lheue
 
Permata pagi
Di  Pantai Ulee Lheue
Senyuman mekar
 
Sepanjang pantai mengalun ayat ayat ombak
Entah dari mana datangnya burung burung camar
Menebar cahya pagi begitu jambon di wajah laut
Perahu nelayan tampaknya sebentar lagi akan usai
 
Rajahan pagi
Di Pantai Ulee Lheue
Gadis kecilku
 
Gadis kecilku menari di pantai saat sunyi menyepi
Buih buih putih menyelimuti seluruh tubuhnya
Terdengar di sayap angin suara yang manja :
Desember nanti kita rayakan milad kakek di pantai ini
( Air mat
 
173.
 
Gaun Malam Kota Medan
 
Sekujur Medan
Beribu kunang kunang
Aku di awan
 
Melintas dari ketinggian ribuan kaki
Ribuan kunang kunang di rerimbun malam
Pendar cahaya  menguntai gaun khatulistiwa
Gaun malam kotanya Medan
 
Sekuntum wajah
Mekar bergaun malam
Harum senyuman
 
Siapa gerangan yang melambaikan tangan
Bergaun malam pendarnya cahaya di pintu kota
Sungguh harum mewangi sebuah senyuman
Membuka lipatan sebuah kenangan
 
Medan, 2016
 
 
174.
 
Malam Istigfar
 
Di tengah kota metropolitan yang hingar binger 
Malam istigfar di atas hamparan sajadah
Merenung dikedalaman kalbu
 
Malam memberi nafas yang lain
Terasa kamar diharumkan wanginya hajral aswad
Doa tangan gemetar mengalir air mata rindu
 
Ya Rabb jangan kau turunkan aku ke tempat lain
Melainkan ke King Abdul Aziz
Dan jika aku sampai di pintu Ka’bah karena atas rahmanrahinmu
Amin.
 
Jakarta, 2016
 
 
 
175.
 
Kubasuh Kalbu
 
Masjid Arrahmah
Kuapungkan diriku
Di Laut Merah
 
Sejauh jauh pandangan mata laut yang berombak tenang 
Air yang bening yang bercahaya kemilau
Bahrul-Ahmar membuka riwayat Nabi Musa menyelamatkan kaumnya
dari kejaran Firaun dan tentaranya
Dan tuhan ini terkubur di laut ini
 
Aku mengaca
Di bening Bahrul Ahmar
Membasuh kalbu
 
Jeddah, 2016
 
 
 
176.
 
( Dari Jendela Kamar 336 Kutulis Haiku Ketika  Melintas ribuan merpati )
 
1.
Gurun sahara
Berpayung pohon kurma
Percikan surga
 
2.
Pagi Madinah
Riuh s’ribu merpati
Menyebar cahya
 
3.
Masjid Nabawi
Dini hari yang hangat
Rahmat dan nikmat
 
4.
Rembulan emas
Di menara Nabawi
Ribuan doa
 
5.
Mencuci diri
Air mata sajadah
Di Masjid Quba
 
6.
Di makam Rasul
Dikedalaman kalbu
Munajat rindu
 
7.
Doa shalawat
Piddun ya wal akhirah
Husnul Khatimah
 
8.
Hamba semesta
Berbalut kain ihram
Tiada beda
 
9.
Musafir rindu
Penuhi panggilanMu
Ahad bagiMu
 
10.
Atas mahamu
Aku datang ya Rabi
Di pintu Ka’bah
 
Madinah-Makkah, 2016
 
177.
 
( Dalam Kamar 602  Kutulis Hiku )
 
1.
Panas membara
Di jalan Tanah Suci
Embun mengembang
 
2.
Melontar jumroh
Ibadah karna  Allah
Allahu Akbar
 
3.
Domba dan pisau
Saling merindu tuhan 
di tanah Mina
 
Mina, 2016
 
 
178.
 
( Di Kamar 515  Kutulis Haiku )
 
1.
Gurun Arafah
Cermin akhir hayat
Sonder dunia
 
2.
Mentari sejuk
Bagi orang beriman
Di Muzdalifah
 
3.
Maha pengasih
Allah jaga tamunya
Di Tanah Haram
 
4.
Padang Arafah
Saat surya terbenam
Alam munajat
 
5.
Alam semesta
Bertawaf sunnatulloh
MahaNya Ka’bah
 
6.
Mengejar cinta
Antara Safa - Marwah
Nikmat dahaga
 
7.
Safa ke Marwah
Lari  menapak gurun
Zam zam ya Rabbi
 
8.
Tiada punya
Hanyalah zikir ya rabb
Wukuf Arafah
 
9.
Air wuduku
Embun di Jabal  Rahmah
Saat berwukuf
 
10.
Menjelang senja
Putih Padang Arafah
Panjatan doa
 
Makkah, 2016
 
179.
 
Dalam Masjid Quba
 
Aku datang memenuhi panggilanmu ya Allah. Segala puji kemuliaan dan segenap kekuasaan adalah milikmu. Tiada sekutu bagimu. Maha esa engkau ya rabbi.
Di atas hamparan permadanimu shalatku bermuraqabah datang memenuhi panggilanmu. Tanganku yang tadzallul gemetar mengetuk pintu malakutmu.
 
Di atas hamparan permadanimu kucurahkan segala isi hatiku kerinduan yang dalam musafir yang fakir.
Doa yang mengalir di alir air mata memohon ampunan segala dosa kealpaan kesalahan kehilapan dan keridhoanmu. Engkau maha pengasih dan penyayang dan maha pengampun.
Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanatawwafil aakhirati hasanatawwaqinaa’adzaabannar
 
Hablunminallah. Subhanallah. Tiada jalan berliku dan bersimpang bertemu Allah. Alhamdulillah.
Di atas hamparan permadanimu air mataku bertasbih. Entah siapa
memandangku dengan tatapan yang sejuk. Anggukan yang damai di lubuk kalbu. Adalah senyuman harum di nafasku.
 
Di atas hamparan permadanimu berulang kali kuucap astagfirullah.
Tiada kesempurnaan hablunminannas. Sebab manusia itu sendiri membuat birokrasi yang mempersulit antara mereka.
Lahaula wala quawwata illabillahi al allyyi al adzimi
 
Madinah, 2016
 
 
180.
 
 
Saat Wukuf Di Arafah
 
Di atas Arafah matahari bertakbir. Batu batu berzikir.
Di hamparan cahaya takbir dan zikir aku datang menghadapmu
Aku datang hanya kepadamu
Menyerahkan diri atas maha sucimu tubuhku berbalut kain ihram
Seperti halnya aku berkain kapan manakala menghadap kehadiratmu
Aku datang memenuhi panggilanmu
Jadikan aku sebagaimana mereka yang engkau banggakan ya rabbi
Segala puji dan nikmat serta kekuasaan hanya milikmu
Aku bersaksi tiada sekutu bagimu.
Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada satu pun yang setara
Labbaik Allahumma labbaik
 
Jabal Rahmah rumah maha kasih sayang dan maha agungmu
Debar rinduku kaki tiada letih mendaki bukit menuju rumahmu
Dan akan kucurahkan segala isi hatiku
Rumahmu bertemunya Adam dan Hawa setelah dua ratus tahun terpisah
Udara panas Jabal Rahmah sejuk sampai dikedalaman kalbu
Tak siapa pun yang dapat mendustakan segala rahmat dan nikmatmu
Allahu Akbar
 
Labbaik Allahumma labbaik
Kami datang menghadapmu dari segenap penjuru dunia
Putih kain ihram tiada lagi perbedaan kedudukan dan suku bangsa
Tiada apa pun yang dibawa kecuali iman dan taqwa
Matahari akan tenggelam dan kami berkumpul menghadapmu
Memanjatkan segala doa memohon ampunan atas segala dosa dan kesalahan
 
Lebayung senja bertasbih mengantar matahari akan terbenam
Telah kupanjatkan doa doa yang panjang di jabarutmu
Dan yang terakhir ya rabbi semoga hajiku menjadi mabrur
Dan jika aku engkau panggil kehadiratmu ajalkan aku dalam Husnul Khotimah
Amin Yarabbal Alamin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar