edisi 18
Kamar 00
: Ita R.
Malam merisau
Dua b’las bidadari
Bermata jambon
Saat membuka mata
Terasa sekali di pertengahan malam
Dinding kamar ada bayangbayang
Timbul dan tenggelam dan samar
Kelepak sayap lelawa sungguh tak sudi kudengar
Sebab kesunyian terus juga mengalir mengisi kamar
Penuh bagai danau yang mengombak ngombak
Dan aku mengapung di atasnya tak ubahnya perahu kosong
Bayang bayang itu berloncatan memuati perahu
Berkayuh kayuh sampai tubuhku beroleng oleng
Malam semakin malam
Dan lelawa berkerumun entah dari mana mana
Mataku perih
Embun di ujung daun
Mencuci risau
Banjarbaru, 2016
171.
( Dalam Kamar 171 Kutuis Haiku )
1.
Sejauh mata
Di tubuh Lhokseumawe
Camar bertutur
2.
Serasa mimpi
Kapal di atas rumah
Ganas tsunami
3.
Korban tsunami
Masih terdengar jerit
Kuburan masal
4.
Riwayat batu
Memorial tsunami
Taman Al Kautsar
5.
Taman syuhada
Rangkaian batu tasbih
Tsunami ya Rab
Aceh, 2016
172.
Di Pantai Ulee
Lheue
Permata pagi
Di Pantai Ulee Lheue
Senyuman mekar
Sepanjang pantai mengalun ayat ayat ombak
Entah dari mana datangnya burung burung camar
Menebar cahya pagi begitu jambon di wajah laut
Perahu nelayan tampaknya sebentar lagi akan usai
Rajahan pagi
Di Pantai Ulee Lheue
Gadis kecilku
Gadis kecilku menari di pantai saat sunyi menyepi
Buih buih putih menyelimuti seluruh tubuhnya
Terdengar di sayap angin suara yang manja :
Desember nanti kita rayakan milad kakek di pantai ini
( Air mat
173.
Gaun Malam Kota Medan
Sekujur Medan
Beribu kunang kunang
Aku di awan
Melintas dari ketinggian ribuan kaki
Ribuan kunang kunang di rerimbun malam
Pendar cahaya menguntai gaun khatulistiwa
Gaun malam kotanya Medan
Sekuntum wajah
Mekar bergaun malam
Harum senyuman
Siapa gerangan yang melambaikan tangan
Bergaun malam pendarnya cahaya di pintu kota
Sungguh harum mewangi sebuah senyuman
Membuka lipatan sebuah kenangan
Medan, 2016
174.
Malam Istigfar
Di tengah kota metropolitan yang hingar binger
Malam istigfar di atas hamparan sajadah
Merenung dikedalaman kalbu
Malam memberi nafas yang lain
Terasa kamar diharumkan wanginya hajral aswad
Doa tangan gemetar mengalir air mata rindu
Ya Rabb jangan kau turunkan aku ke tempat lain
Melainkan ke King Abdul Aziz
Dan jika aku sampai di pintu Ka’bah karena atas rahmanrahinmu
Amin.
Jakarta, 2016
175.
Kubasuh Kalbu
Masjid Arrahmah
Kuapungkan diriku
Di Laut Merah
Sejauh jauh pandangan mata laut yang berombak tenang
Air yang bening yang bercahaya kemilau
Bahrul-Ahmar membuka riwayat Nabi Musa menyelamatkan kaumnya
dari kejaran Firaun dan tentaranya
Dan tuhan ini terkubur di laut ini
Aku mengaca
Di bening Bahrul Ahmar
Membasuh kalbu
Jeddah, 2016
176.
( Dari Jendela Kamar 336 Kutulis Haiku Ketika Melintas ribuan merpati )
1.
Gurun sahara
Berpayung pohon kurma
Percikan surga
2.
Pagi Madinah
Riuh s’ribu merpati
Menyebar cahya
3.
Masjid Nabawi
Dini hari yang hangat
Rahmat dan nikmat
4.
Rembulan emas
Di menara Nabawi
Ribuan doa
5.
Mencuci diri
Air mata sajadah
Di Masjid Quba
6.
Di makam Rasul
Dikedalaman kalbu
Munajat rindu
7.
Doa shalawat
Piddun ya wal akhirah
Husnul Khatimah
8.
Hamba semesta
Berbalut kain ihram
Tiada beda
9.
Musafir rindu
Penuhi panggilanMu
Ahad bagiMu
10.
Atas mahamu
Aku datang ya Rabi
Di pintu Ka’bah
Madinah-Makkah, 2016
177.
( Dalam Kamar 602 Kutulis
Hiku )
1.
Panas membara
Di jalan Tanah Suci
Embun mengembang
2.
Melontar jumroh
Ibadah karna Allah
Allahu Akbar
3.
Domba dan pisau
Saling merindu tuhan
di tanah Mina
Mina, 2016
178.
( Di Kamar 515 Kutulis Haiku )
1.
Gurun Arafah
Cermin akhir hayat
Sonder dunia
2.
Mentari sejuk
Bagi orang beriman
Di Muzdalifah
3.
Maha pengasih
Allah jaga tamunya
Di Tanah Haram
4.
Padang Arafah
Saat surya terbenam
Alam munajat
5.
Alam semesta
Bertawaf sunnatulloh
MahaNya Ka’bah
6.
Mengejar cinta
Antara Safa - Marwah
Nikmat dahaga
7.
Safa ke Marwah
Lari menapak gurun
Zam zam ya Rabbi
8.
Tiada punya
Hanyalah zikir ya rabb
Wukuf Arafah
9.
Air wuduku
Embun di Jabal Rahmah
Saat berwukuf
10.
Menjelang senja
Putih Padang Arafah
Panjatan doa
Makkah, 2016
179.
Dalam Masjid Quba
Aku datang memenuhi panggilanmu ya Allah. Segala puji
kemuliaan dan segenap kekuasaan adalah milikmu. Tiada sekutu bagimu. Maha esa
engkau ya rabbi.
Di atas hamparan permadanimu shalatku bermuraqabah datang memenuhi panggilanmu. Tanganku yang tadzallul gemetar mengetuk pintu malakutmu.
Di atas hamparan permadanimu kucurahkan segala isi
hatiku kerinduan yang dalam musafir yang fakir.
Doa yang mengalir di alir air mata memohon ampunan segala dosa kealpaan kesalahan kehilapan dan keridhoanmu. Engkau maha pengasih dan penyayang dan maha pengampun.
Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanatawwafil aakhirati hasanatawwaqinaa’adzaabannar
Hablunminallah. Subhanallah. Tiada jalan berliku dan
bersimpang bertemu Allah. Alhamdulillah.
Di atas hamparan permadanimu air mataku bertasbih. Entah siapa
memandangku dengan tatapan yang sejuk. Anggukan yang damai di lubuk kalbu. Adalah senyuman harum di nafasku.
Di atas hamparan permadanimu berulang kali kuucap
astagfirullah.
Tiada kesempurnaan hablunminannas. Sebab manusia itu sendiri membuat birokrasi yang mempersulit antara mereka.
Lahaula wala quawwata illabillahi al allyyi al adzimi
Madinah, 2016
180.
Saat Wukuf Di Arafah
Di atas Arafah matahari bertakbir. Batu batu berzikir.
Di hamparan cahaya takbir dan zikir aku datang menghadapmu
Aku datang hanya kepadamu
Menyerahkan diri atas maha sucimu tubuhku berbalut kain ihram
Seperti halnya aku berkain kapan manakala menghadap kehadiratmu
Aku datang memenuhi panggilanmu
Jadikan aku sebagaimana mereka yang engkau banggakan ya rabbi
Segala puji dan nikmat serta kekuasaan hanya milikmu
Aku bersaksi tiada sekutu bagimu.
Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada satu pun yang setara
Labbaik Allahumma labbaik
Jabal Rahmah rumah maha kasih sayang dan maha agungmu
Debar rinduku kaki tiada letih mendaki bukit menuju rumahmu
Dan akan kucurahkan segala isi hatiku
Rumahmu bertemunya Adam dan Hawa setelah dua ratus tahun terpisah
Udara panas Jabal Rahmah sejuk sampai dikedalaman kalbu
Tak siapa pun yang dapat mendustakan segala rahmat dan nikmatmu
Allahu Akbar
Labbaik Allahumma labbaik
Kami datang menghadapmu dari segenap penjuru dunia
Putih kain ihram tiada lagi perbedaan kedudukan dan suku bangsa
Tiada apa pun yang dibawa kecuali iman dan taqwa
Matahari akan tenggelam dan kami berkumpul menghadapmu
Memanjatkan segala doa memohon ampunan atas segala dosa dan kesalahan
Lebayung senja bertasbih mengantar matahari akan terbenam
Telah kupanjatkan doa doa yang panjang di jabarutmu
Dan yang terakhir ya rabbi semoga hajiku menjadi mabrur
Dan jika aku engkau panggil kehadiratmu ajalkan aku dalam Husnul Khotimah
Amin Yarabbal Alamin
: Ita R.
Dua b’las bidadari
Bermata jambon
Terasa sekali di pertengahan malam
Dinding kamar ada bayangbayang
Timbul dan tenggelam dan samar
Sebab kesunyian terus juga mengalir mengisi kamar
Penuh bagai danau yang mengombak ngombak
Dan aku mengapung di atasnya tak ubahnya perahu kosong
Berkayuh kayuh sampai tubuhku beroleng oleng
Malam semakin malam
Dan lelawa berkerumun entah dari mana mana
Embun di ujung daun
Mencuci risau
Sejauh mata
Di tubuh Lhokseumawe
Camar bertutur
Serasa mimpi
Kapal di atas rumah
Ganas tsunami
Korban tsunami
Masih terdengar jerit
Kuburan masal
Riwayat batu
Memorial tsunami
Taman Al Kautsar
Taman syuhada
Rangkaian batu tasbih
Tsunami ya Rab
Di Pantai Ulee Lheue
Senyuman mekar
Entah dari mana datangnya burung burung camar
Menebar cahya pagi begitu jambon di wajah laut
Perahu nelayan tampaknya sebentar lagi akan usai
Di Pantai Ulee Lheue
Gadis kecilku
Buih buih putih menyelimuti seluruh tubuhnya
Terdengar di sayap angin suara yang manja :
Desember nanti kita rayakan milad kakek di pantai ini
( Air mat
Beribu kunang kunang
Aku di awan
Ribuan kunang kunang di rerimbun malam
Pendar cahaya menguntai gaun khatulistiwa
Gaun malam kotanya Medan
Mekar bergaun malam
Harum senyuman
Bergaun malam pendarnya cahaya di pintu kota
Sungguh harum mewangi sebuah senyuman
Membuka lipatan sebuah kenangan
Malam istigfar di atas hamparan sajadah
Merenung dikedalaman kalbu
Terasa kamar diharumkan wanginya hajral aswad
Doa tangan gemetar mengalir air mata rindu
Melainkan ke King Abdul Aziz
Dan jika aku sampai di pintu Ka’bah karena atas rahmanrahinmu
Amin.
Kuapungkan diriku
Di Laut Merah
Air yang bening yang bercahaya kemilau
Bahrul-Ahmar membuka riwayat Nabi Musa menyelamatkan kaumnya
dari kejaran Firaun dan tentaranya
Dan tuhan ini terkubur di laut ini
Di bening Bahrul Ahmar
Membasuh kalbu
Gurun sahara
Berpayung pohon kurma
Percikan surga
Pagi Madinah
Riuh s’ribu merpati
Menyebar cahya
Masjid Nabawi
Dini hari yang hangat
Rahmat dan nikmat
Rembulan emas
Di menara Nabawi
Ribuan doa
Mencuci diri
Air mata sajadah
Di Masjid Quba
Di makam Rasul
Dikedalaman kalbu
Munajat rindu
Doa shalawat
Piddun ya wal akhirah
Husnul Khatimah
Hamba semesta
Berbalut kain ihram
Tiada beda
Musafir rindu
Penuhi panggilanMu
Ahad bagiMu
Atas mahamu
Aku datang ya Rabi
Di pintu Ka’bah
Panas membara
Di jalan Tanah Suci
Embun mengembang
Melontar jumroh
Ibadah karna Allah
Allahu Akbar
Domba dan pisau
Saling merindu tuhan
di tanah Mina
Gurun Arafah
Cermin akhir hayat
Sonder dunia
Mentari sejuk
Bagi orang beriman
Di Muzdalifah
Maha pengasih
Allah jaga tamunya
Di Tanah Haram
Padang Arafah
Saat surya terbenam
Alam munajat
Alam semesta
Bertawaf sunnatulloh
MahaNya Ka’bah
Mengejar cinta
Antara Safa - Marwah
Nikmat dahaga
Safa ke Marwah
Lari menapak gurun
Zam zam ya Rabbi
Tiada punya
Hanyalah zikir ya rabb
Wukuf Arafah
Air wuduku
Embun di Jabal Rahmah
Saat berwukuf
Menjelang senja
Putih Padang Arafah
Panjatan doa
Di atas hamparan permadanimu shalatku bermuraqabah datang memenuhi panggilanmu. Tanganku yang tadzallul gemetar mengetuk pintu malakutmu.
Doa yang mengalir di alir air mata memohon ampunan segala dosa kealpaan kesalahan kehilapan dan keridhoanmu. Engkau maha pengasih dan penyayang dan maha pengampun.
Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanatawwafil aakhirati hasanatawwaqinaa’adzaabannar
Di atas hamparan permadanimu air mataku bertasbih. Entah siapa
memandangku dengan tatapan yang sejuk. Anggukan yang damai di lubuk kalbu. Adalah senyuman harum di nafasku.
Tiada kesempurnaan hablunminannas. Sebab manusia itu sendiri membuat birokrasi yang mempersulit antara mereka.
Lahaula wala quawwata illabillahi al allyyi al adzimi
Di hamparan cahaya takbir dan zikir aku datang menghadapmu
Aku datang hanya kepadamu
Menyerahkan diri atas maha sucimu tubuhku berbalut kain ihram
Seperti halnya aku berkain kapan manakala menghadap kehadiratmu
Aku datang memenuhi panggilanmu
Jadikan aku sebagaimana mereka yang engkau banggakan ya rabbi
Segala puji dan nikmat serta kekuasaan hanya milikmu
Aku bersaksi tiada sekutu bagimu.
Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada satu pun yang setara
Labbaik Allahumma labbaik
Debar rinduku kaki tiada letih mendaki bukit menuju rumahmu
Dan akan kucurahkan segala isi hatiku
Rumahmu bertemunya Adam dan Hawa setelah dua ratus tahun terpisah
Udara panas Jabal Rahmah sejuk sampai dikedalaman kalbu
Tak siapa pun yang dapat mendustakan segala rahmat dan nikmatmu
Allahu Akbar
Kami datang menghadapmu dari segenap penjuru dunia
Putih kain ihram tiada lagi perbedaan kedudukan dan suku bangsa
Tiada apa pun yang dibawa kecuali iman dan taqwa
Matahari akan tenggelam dan kami berkumpul menghadapmu
Memanjatkan segala doa memohon ampunan atas segala dosa dan kesalahan
Telah kupanjatkan doa doa yang panjang di jabarutmu
Dan yang terakhir ya rabbi semoga hajiku menjadi mabrur
Dan jika aku engkau panggil kehadiratmu ajalkan aku dalam Husnul Khotimah
Amin Yarabbal Alamin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar