Edisi 4
Kamar
Suatu Pagi
Bagaimana aku tidak kan duka
Di kaca jendela
Memandang mentari pagi
Diri yang alpa
Di atas ubin yang dingin
Aku bersujud
Aku fakismiskin
Laparku
Lapar rindu padamu
Hausku
Haus telaga kasihmu
Kulorongi dinding waktu
Setiap langkah
Menuju fitrah
Ya maha
Jangan kau kosongkan
Kamarmu
bbaru, 2012
31)
Di Kamar Saat Senja
Melintas
di kaca jendela
Ambulans
memuput lengking
Kamar bau
cendana
Ambulans
cermin diri
Manifes
kehidupan
Hidup
hakikatnya fana
Merenung
kealpaan waktu
Usia kian
merenta
Kemana
jati diri
Ya Rahman Ya Razzaq
Jiwakan ragaku
Di
spektrum nuriahmu
Agar dapat sujud di asmamu
Bbaru,
2012
32)
Di Kamar Saat Azan Subuh
Di antrian
paling akhir
Entah
tahun keberapa kau panggil aku
Tiada
letih dalam doa :
Bila kau
panggil aku
Jangan kau
turunkan di airport lain
Turunkan di
Airport King of Abdul Aziz
Biar bergegas
menuju rumahmu :
Ka’bah Ka’bah
Jangan
tinggalkan aku
Sebelum
ajal atas namamu
Banjarbaru, 2012
33)
Pasar
Terapung Dari Kaca Jendela Kamar 8
Membayangkan wajahmu masihkah nanti maambun pupur ?
Waktu subuh berdendang : tambangan balarut sayang mahaga
nasib
Mencari sisa sungai dari seribu sungai
Hanya itu pun semakin dangkal dan sempit
Dermaga pada menggigil di banyu karuh
Membayangkan wajahmu menatap molmol plasaplasa rukoruko
Semakin berdiri di tanah sawah di tanah ladang di tanah
kalakai
Membayangkan wajahmu manakala ketuk pengayuh bernyanyi
sunyi
Di rantawan gandang babunyi lamatlamatan bunyi sarunai
Membayangkan wajahmu menatap daundaun nipah digunting
zaman
Menatap pohonpohon bakau ditoreh zaman
Menatap wajahmu sendiri di selasela ilungilung larut
Ratikratik sampahsampah dan tinja pabrik
Di dalam sisa lamut di dalam sisa syair di dalam sisa
pantun di dalam sisa madihin
Kucari wajahmu berkayuh di sisa sungai
Pada kota yang elok bernama seribu sungai
Di antara hirukpikuk orangorang berupa asli urang banua
Di antara hirukpikuk orangorang berupa pangeran
Wajahmu ada di wajahku, kekasih
Taungut rindu manangis talihat kakamban nang jadi ingatan
Banjarmasin., 2012
Catatan :
maambun pupur = elok,cantik, bungas (bhs Banjar)
mahaga nasib = mencari rejeki
banyu karuh = air
keruh
tanah kalakai = tanah yang ditumbuhi tanaman kalakai,
pucuknya dibikin sayur
Di rantawan gandang babunyi lamatlamatan bunyi sarunai (
lirik lagu Banjar “Palita” karya Anang
Ardiansyah ) = Di suatu tempat yang jauh dari penduduk terdengar bunyi gendang
dan sayup-sayup bunyi serunai.
ilung =ecengkondok
lamut, syair, pantun,madihin =Sastra lisan Tanah Banjar
(hampir punah)
urang banua = orang Banjar
Taungut rindu manangis talihat kakamban nang jadi ingatan
( lirik lagu
Banjar “Kakamban Habang” karya Anang
Ardiansyah ) = Merenung rindu menangis terlihat kemban/kerudung/selendang yang
jadi ingatan.
34)
Kamar
Bambu
Hanyut di rerumpun bambu berzikir
dan tenggelam dalam tubuh fana
Balai balai waktu tempat merenung usia
Teramat fakir di alam semesta
Kamar adalah ruas ruas ayatmu
Adakah tempat berteduh tulang belulangku
Jangan ada jarak antara kerinduan
Sebab kesunyian teramat dalam
Tak lelah tengadah
Doa menuju muara berkah
kota batu, 2012
35)
Kamar
Dalam Sketsa Laut 1
Rindu yang dalam
Senja gelora laut
Nun pelayaran
Dendang pelagu rindu
Melabuh cinta di kedalaman hati
Angin membawa kembara
Menyisir kaki langit
Menyisir merahnya lembayung
Membawa deburan jiwa
Perahu nelayan satu persatu berlabuh
Satu persatu rindu didendangkan
Gemuruh ombak, sebab akulah laut
Buih berdesir, sebab kaulah pantai
Laut dan pantai adalah satu jiwa
Dalam gelora cinta
Masih didendangkan
Keyakinan impian yang dilabuhkan
Di puncak ombak surya telah bersilam
Dan dermaga pun kian berkelam
Dermaga jiwa
Arung tatkala senja
Rindu yang dalam
Tanbu,2012
36)
Kamar
Dalam Sketsa Laut 2
Rindu bertasbih
Arung lautan cinta
Di nian hari
Rindukukah yang mengombak di atas laut
Selepas menyisir pantai lalu senyap ?
Kelepak camar di atas tuts – tuts buih
Lalu menasbih hari-hariku yang luruh
Debar menebar kamar
Angin yang membawa khabar
Perahu merapat ke dermaga
Selepas arung dari laut cinta ?
Di laut cinta
Arung debaran rindu
Dermaga jiwa
Tanbu, 2012
37)
Kamar 103
Kaca jendela membangkitkan birahi
Menari di atas Danau Sipin
Pada sutra bulan
Di rahim Shang Ratu
Aku gundah
Saat tak sampai padanya
Di balik dinding kamar
Kusimpan duka damar
Agar jangan menetes perihnya
Danau Sipin
Kaukah yang menabuh gendang sunyi
Sehingga memabukkan rinduku ?
Jambi,2012
38)
Kamar 203
Nanang Suryadi, temanku
Dalam tidurnya, ia menulis puisi ultah
Untuk abah, katanya
Sedang Yusri Fajar, temanku itu
Dalam tidurnya, ia menembakkan kembang api
Untuk abah, katanya
Sepanjang kabel listrik burung burung layang
Serupa untai tasbih
Zikir untuk abah, kata mereka
Di tengah Sungai Batanghari
Di semilir angin, tembang slendro sloka damai
Buat sang kekasih, kata Dimas Arika Mihardja
Aku menatap langit langit kamar
Semoga tuhan memahami airmataku
Amin
Jambi, 2013
39)
Kamar 206
Aku tidak menjadikan kamar ini
Kamar kamar
Cuma satu jendela
Di jiwa
Aku mengeksplormu
Bintang bertabur di cakrawala
Kau berkata :
Siapa mampu menghitungnya
Aku berkata :
Cinta
Tetapi jika ajal tiba
Jauhkan cinta, kataku
Sebab kau milikku
Lebih dari cinta
Malang,2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar