Di Kota Tua
Saat kutarik gorden jendela pagi itu
Sekuntum mawar tumbuh di kaca jendela
Hatiku jatuh di seraut wajah
Entah apa gerangan tadi malam
Aku gagal menafsir mimpi
Tubuhku jatuh di sebuah sungai
Hanyut dan tenggelam
Kuusap bias gerimis rabun di kaca
Satu per satu kelopaknya lepas
Luruh di mataku luruh
Dan tinggal ranting semata
Pagi itu kembali aku menafsir mimpi
Sambil kupunguti kelopak hatiku
Yang berserakan di ubin lantai :
Kau kah yang membangkitkan kenangan dan rindu
Jakarta, 2014
141
Robohnya Panggung MGR
Banjarbaru jangan kau risau
Sebab puisi tak pernah roboh
melahirkan cinta dan kesetiaan
Jika MGR yang roboh
Hanyalah fatamorgana yang roboh
Mestikah risau, sayang
Bb,2014
Catatan :
MGR = Minggu Raya
142
Dalam Sujudku
Kunyalakan api tasbih membakar jasadku hangus
Kalbuku lelatu meletupletup zikir menyebut asmamu
Hu Allah
Malam tak lah lagi malam pun siang tak lah lagi siang
Hu Allah
Luluh jadi asap doa di tujuh lapis langit di tujuh
lapis bumi
Hu Allah
Aku anak Adam yang tersesat menuju rumahmu
Hu Allah
Di pintu kun payakunmu ruhku sujud mengetuk alifmu
Hu Allah
Allah
Maha benar segala firmanmu
Bbaru, 2014
143
Di Gunung Muria
Orang berjenggot tafakur pada sebuah nisan
Semilir angin aroma kembang di malam hening
Masuk ke dalam altar kehidupan hakiki
Melepas segala yang fana
Di ketinggian jiwa
Melayang zikir batu tasbih
Puncak Gunung Muria
Bertabur ayatayat bintang
Hu Allah aku bersimpuh
Aku sebesar debu tanah Gunung Muria
Di bawah bulan saat gerhana
Tak kuhapus air mata
Karna belum habis firmanmu kubaca
Batu nisan di mana alamatmu
Aku nanti akan ke haribaanmu
Kudus, 2015
144
Montel : Gemuruh Zikir
Duduk semadi
Di dalam air Montel
Menyuci diri
Kusenyawakan jiwa pada tebing batu
Pada air yang terjun dalam hening semesta
Jatuh ke batu batu
Darah nadiku mengalir dialir air
Nafasku mengalun didesir angin Muria
Air berzikir di batu batu
Tubuh mandi gemuruh zikir
Mencuci sekalian fana sekalian yang alpa
Menyejukkan jiwa
Kudus, 2015
145.
Perempuan Hakikat Cinta
Adakah hakiki perempuan di hatimu, hai pulan
Perempuan adalah mata air yang mengalirkan cinta
Adakah kau tempatkan di kalbumu
Maka jangan kau nistakan
Dua ratus tahun lamanya
Adam kehilangan tulang rusuknya
Dari kutub ke kutub dari benua ke benua
Memanggil manggil : Hawa.Hawa
Sampai ke Jabal
Rahmah
Apa pun perempuan itu
Karena air matanya adalah alir cintanya
Dengar sedu sedan bongkahan batu
Karena menistakan perempuan
Di dalam sujud
Ijinkan aku mencium ujung tapak kakimu ibu
Karena sembilan bulan sembilan hari mengandung anakmu
Karena bahasa anakmu yang tiada santun
Ijinkan aku mencium sebutir debu di atas pusaramu ibu
Amin
Semarang, 2015
146.
Kakek Tua Penjual Sisir Rambut
Perjanjian sewaktu segumpal darah
Maka pada saat itulah takdir pada seseorang
Dan pada hakikatnya hidup menjalani kehidupan ini
Pada jati diri, tawakal, ikhtiar dan doa
Di emper sebuah toko besar dari deretan toko
Kota yang hirup pikuk dengan berbagai keperluannya
Seorang kakek tua menggelar dagangannya
Menjual beberapa buah sisir rambut
Tentu akan terenyuh
Jika memperhatihan apa yang dijualnya
Dalam beberapa waktu menunggu dagangannya
Berapa sisirkah yang terjual
Sementara orang berlalu lalang melintas di hadapannya
Dan jika kita merenung
Niat berniaga yang iklas dan ridho
Nilai satu rupiah sama nilainya dengan seribu rupiah
Sungguh Allah maha kasih sayang
Malang, 2015
147.
Ketika Kerinduan di Jendela Kamar Pagi
: Endang Kalimasada
Di antara sesajian di atas meja bermacam ragam
Entah apa aku memilih kuliner ini
Sedikit dicoba. Ajaib.
Satu piring penuh kusikat tanpa menghiraukan yang lain
Bersisa sedikit
Kuamati dan merenung
Melayang ke Borneo Selatan :
Bulanak haruankah ini ?
Kuliner ini dimasak dengan tepung
Sambal pemikat selera
sebagai cecapan
Dan sesayuran sebagai asisoris lauk
Ah bukan bulanak haruan aku bergumam
Masih jadi tanda tanya dalam kepingin
Tapi enggan bertanya pada teman seantero nusantara
yang menyatu di rumah Budaya Kalimasada dalam sebuah
kenduri seni
Duduk di bawah pohon duduk merenung dan masih bergumam
Ucenglap ucenglap abahabah een een olaholah
Seraya menengok ke atas sangkar yang tergantung di pohon
Seekor beo kepala
mengangguk angguk padaku
Temanteman pada heran aku mengakak sendiri
Jelas ini masalahku yang sudah tuntas
Waktu pamitan seorang wanita berjilbab merah jambu di
pintu gerbang
Senyum yang mekar
bibir bergayut kembang Angsoka
Masih kudengar di ujung jalan celoteh sang beo : Uceng
lalapan.
Blitar-Bbaru, 2015
148
Kamar 016
Maka kubaringkan tubuh
Agar tak ada lagi beban dari seraut wajah yang tersesat
dari malam
Mata berupaya melukis bulan di langit langit kamar
Sebab cahaya lampu merah legam menetes netes di ubin
lantai
Menetes netes ke denyut nadi serupa kelepak sayap laron
mencari cahaya
Deru mesin bus berlalu lalang, silih berganti, muncrat di
alir darah
Bungurasih disergap bayang entah perempuan malam atau
perempuan pemulung
Mata nyanyar di langit langit kamar
Bulan
Pengen sekali cepat berbulan
Di ranjang, tubuh, pakaian yang dilucuti, seperti orok
Menatap langit langit kamar
Bulan
Entah apa
Aku mau tak mau harus terenyuh merasakan tubuh kaya
begitu
Tubuh yang kucarkacir di seraut wajah yang tersesat dari
malam
Dan sampai tiba azan subuh dan nun di timur warna merah
Kau beruntung sempat berucap : Syukur masih ada tuhan
Surabaya, 2015
149.
Sebuah Danau : Dendam Tak Sudah
Adalah cinta
Di danau air mata
Dendam tak sudah
Mataku berenang di wajah sebuah danau
Membaca riwayat yang terpendam dikedalaman airnya
Dikedalaman air mata cinta
Dendam tak sudah demikian gemercik riak ombak
Cinta yang berpaut danau persemayaman abadi
Sungguh betapa agungnya sebuah cinta
Bengkulu, 2015
150.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar