Minggu, 21 Juli 2024

 

 edisi 15

 

Di Kota Tua

 

Saat kutarik gorden jendela pagi itu

Sekuntum mawar tumbuh di kaca jendela

Hatiku jatuh di seraut wajah

 

Entah apa gerangan tadi malam

Aku gagal menafsir mimpi

Tubuhku jatuh di sebuah sungai

Hanyut dan tenggelam

 

Kuusap bias gerimis rabun di kaca

Satu per satu kelopaknya lepas

Luruh di mataku luruh

Dan tinggal ranting semata

 

Pagi itu kembali aku menafsir mimpi

Sambil kupunguti kelopak hatiku

Yang berserakan di ubin lantai :

Kau kah yang membangkitkan kenangan dan rindu

 

Jakarta, 2014

 

 

 

141

 

 

Robohnya Panggung MGR

 

 

Banjarbaru jangan kau risau

Sebab puisi tak pernah roboh

melahirkan cinta dan kesetiaan

Jika MGR yang roboh

Hanyalah fatamorgana yang roboh

Mestikah risau, sayang

 

Bb,2014

 

Catatan :

MGR = Minggu Raya

 

 

142

 

 

Dalam Sujudku

 

Kunyalakan api tasbih membakar jasadku hangus

Kalbuku lelatu meletupletup zikir menyebut asmamu

Hu Allah

Malam tak lah lagi malam pun siang tak lah lagi siang

Hu Allah

Luluh jadi asap doa di tujuh lapis langit di tujuh lapis bumi

Hu Allah

Aku anak Adam yang tersesat menuju rumahmu

Hu Allah

Di pintu kun payakunmu ruhku sujud mengetuk alifmu

Hu Allah

 

Allah

Maha benar segala firmanmu

 

Bbaru, 2014

 

 

 

143

 

Di Gunung Muria

 

Orang berjenggot tafakur pada sebuah nisan

Semilir angin aroma kembang di malam hening

Masuk ke dalam altar kehidupan hakiki

Melepas segala yang fana

 

Di ketinggian jiwa

Melayang zikir batu tasbih

Puncak Gunung Muria

Bertabur ayatayat bintang

 

Hu Allah aku bersimpuh

Aku sebesar debu tanah Gunung Muria

Di bawah bulan saat gerhana

Tak kuhapus air mata

Karna belum habis firmanmu kubaca

Batu nisan di mana alamatmu

Aku nanti akan ke haribaanmu

 

Kudus, 2015

 

 

 

144

 

Montel : Gemuruh Zikir

 

Duduk semadi

Di dalam air Montel

Menyuci diri

 

Kusenyawakan jiwa pada tebing batu

Pada air yang terjun dalam hening semesta

Jatuh ke batu batu

 

Darah nadiku mengalir dialir air

Nafasku mengalun didesir angin Muria

Air berzikir di batu batu

 

Tubuh mandi gemuruh zikir

Mencuci sekalian fana sekalian yang alpa

Menyejukkan jiwa

 

Kudus, 2015

 

 

 

145.

 

Perempuan Hakikat Cinta

 

Adakah hakiki perempuan di hatimu, hai pulan

Perempuan adalah mata air yang mengalirkan cinta

Adakah kau tempatkan di kalbumu

Maka jangan kau nistakan

 

Dua ratus tahun lamanya

Adam kehilangan tulang rusuknya

Dari kutub ke kutub dari  benua ke benua

Memanggil manggil : Hawa.Hawa

Sampai ke  Jabal Rahmah

 

Apa pun perempuan itu

Karena air matanya adalah alir cintanya

Dengar sedu sedan bongkahan batu

Karena menistakan perempuan

 

Di dalam sujud

Ijinkan aku mencium ujung tapak kakimu ibu

Karena sembilan bulan sembilan hari mengandung anakmu

Karena bahasa anakmu yang tiada santun

Ijinkan aku mencium sebutir debu di atas pusaramu ibu

Amin

 

Semarang, 2015

 

 

 

 

 

 

146.

 

Kakek Tua Penjual Sisir Rambut

 

Perjanjian sewaktu segumpal darah

Maka pada saat itulah takdir pada seseorang

Dan pada hakikatnya hidup menjalani kehidupan ini

Pada jati diri, tawakal, ikhtiar dan doa

 

Di emper sebuah toko besar dari deretan toko

Kota yang hirup pikuk dengan berbagai keperluannya

Seorang kakek tua menggelar dagangannya

Menjual beberapa buah sisir rambut

 

Tentu akan  terenyuh

Jika memperhatihan apa yang dijualnya

Dalam beberapa waktu menunggu dagangannya

Berapa sisirkah yang terjual

Sementara orang berlalu lalang melintas di hadapannya

 

Dan jika kita merenung

Niat berniaga yang iklas dan ridho

Nilai satu rupiah sama nilainya dengan seribu rupiah

Sungguh Allah maha kasih sayang

 

Malang, 2015

 

 

147.

 

Ketika Kerinduan di Jendela Kamar Pagi

: Endang Kalimasada

 

Di antara sesajian di atas meja bermacam ragam

Entah apa aku memilih kuliner ini

Sedikit dicoba. Ajaib.

Satu piring penuh kusikat tanpa menghiraukan yang lain

 

Bersisa sedikit

Kuamati dan merenung

Melayang ke Borneo Selatan :

Bulanak haruankah ini ?

 

Kuliner ini dimasak dengan tepung

Sambal pemikat selera  sebagai cecapan

Dan sesayuran sebagai asisoris lauk

Ah bukan bulanak haruan aku bergumam

 

Masih jadi tanda tanya dalam kepingin

Tapi enggan bertanya pada teman  seantero nusantara

yang menyatu di rumah Budaya Kalimasada dalam sebuah kenduri seni

Duduk di bawah pohon duduk merenung dan masih bergumam

 

Ucenglap ucenglap abahabah een een olaholah

Seraya menengok ke atas sangkar yang tergantung di pohon

Seekor beo kepala  mengangguk angguk padaku

Temanteman pada heran aku mengakak sendiri

Jelas ini masalahku yang sudah tuntas

 

Waktu pamitan seorang wanita berjilbab merah jambu di pintu gerbang

Senyum yang mekar  bibir bergayut kembang Angsoka

Masih kudengar di ujung jalan celoteh sang beo : Uceng lalapan.

 

Blitar-Bbaru, 2015

 

 

 

 

 

148

 

Kamar 016

 

Maka kubaringkan tubuh

Agar tak ada lagi beban dari seraut wajah yang tersesat dari malam

Mata berupaya melukis bulan di langit langit kamar

Sebab cahaya lampu merah legam menetes netes di ubin lantai

 

Menetes netes ke denyut nadi serupa kelepak sayap laron mencari cahaya

Deru mesin bus berlalu lalang, silih berganti, muncrat di alir darah

Bungurasih disergap bayang entah perempuan malam atau perempuan pemulung

Mata nyanyar di langit langit kamar

 

Bulan

Pengen sekali cepat berbulan

Di ranjang, tubuh, pakaian yang dilucuti, seperti orok

Menatap langit langit kamar

Bulan

 

Entah apa

Aku mau tak mau harus terenyuh merasakan tubuh kaya begitu

Tubuh yang kucarkacir di seraut wajah yang tersesat dari malam

Dan sampai tiba azan subuh dan nun di timur warna merah

Kau beruntung sempat berucap : Syukur masih ada tuhan

 

Surabaya, 2015

 

 

149.

 

 

Sebuah Danau : Dendam Tak Sudah

 

Adalah cinta

Di danau air mata

Dendam tak sudah

 

Mataku berenang di wajah sebuah danau

Membaca riwayat yang terpendam dikedalaman airnya

Dikedalaman air mata cinta

 

Dendam tak sudah demikian gemercik riak ombak

Cinta yang berpaut danau persemayaman abadi

Sungguh betapa agungnya sebuah cinta

 

Bengkulu, 2015

 

 

 

150.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar