edisi 17
Tongkat Putih : Mata Hati
Tak pernah tahu
apakah malam apakah siang
Hanya yang tahu gelap
Tapi bagi yang lain
gelap tiada cahaya yang terang
Gelap itu terang
Gelap bilamana tidur
Terang bilamana terjaga
Di tugu api
Tugu puncaknya mengeluarkan api
tak pernah padam di siang di malam
Kami menghilangkan letih beban dunia
Di kaki tugu
Selesai percakapan hidup dan kehidupan
cinta dan rindu
membunuh dendam
membunuh sekalian yang menjadikan duka
Tongkat putihnya menyusur jalan sampai tak tampak lagi
Di mata batinku masih jelas terlihat serupa tugu api
berjalan
Membaca tentang dunia ini fana
Tabalong, 2015
161
Kuriding : Berlinang Air Mata
Dendang musik kuriding
Di hulu banyu seluang mudik
Di atas jukung di arus sungai
Dari Bakumpai merasuk sukma
Jangan di patah jangan dibuang, sayang
Kuriding sasangkutan hati merindu
Merindu badan kekasih di rantau
Di rantau sayang berlinang si air mata
Mengayuh jukung mengayuh hati
Risau dedaun bakau risau pepohon rambai
Menyusur pesisir di mana rumah lanting
Tempat meraut bilah kuriding
Banyak orang berkata asli orang banua
Tidaklah kata cuma terendam di lidah
Batang terendam di kedalaman dirinya
Di mana angin semilir dari Bakumpai
Jukung berkayuh
menyisir arus sungai
Semata dendang pengayuh berkayuh
Berkayuh :
Empat si empat lima kuriding patah
Halinai terpendam di tanah pusaka
Apa dikata zaman berganti sudah
Kur sumangat bilahnya kuambil jua
Handil Bakti, 2015
162.
Basambang Di Dalam Surau
Tak ada rasa lapar dan haus
Tak ada nafsu duniawi di jiwa
Kecuali nikmat puasa yang rahmat
Bagi sekalian orang yang beriman
Di dalam surau basambang dengan khidmat
Ayatayat al quran yang dilantunkan
Menunggu sampai beduk berbunyi
Waktu untuk berbuka puasa
Di antara empat puluh satu macam kue
Kue pendatang baru bernama ipau
Telah dikerat mengisi piring berbaris
Dan ada yang mengatakan berasal dari Arab
Bersambang ditemani ipau tubuh berlapis
Tujuh lapis daging, sayur dan bumbu
Tujuh lapis rasa menghias kuliner Banjar
Bersambang nikmat menunggu beduk berbunyi
Kata syukur rejeki yang dilimpahkan Allah
Kepada hambanya yang dikasih sayangi
Tak ada kata dusta yang mendustakan
Segala nikmatnya yang dianugrakan
Wallohul Muwafiq ila aqwamith Thariq
Banjarbaru,2015
Basambang (bhs Banjar) = Ngabuburit ( bhs Sunda) :
Menunggu waktu untuk berbuka puasa.
163.
Jalan Kembali Membentang
: Milad Dimas Arika Mihardja
Kebajikan yang ditanam di jejak langkah
Buahnya lebat manis siapan pun boleh memetiknya
Untuk kebaikan kemanusiaaan
Karena dipetik sebiji buah berlipat ganda
Tak pernah letih semangat merkah senyuman
Keikhlasan dan santun duduk di bawah walau ada di atas
Kerendahhatian yang menjadikan birunya langit
Spektrum warna menjadikan busur pelangi
Aku memandang pelangi di langitlangit ruang hati
Dua raut wajah cahaya mata bersulang
Cinta dan rindu bersenyawa berenang di kolam jiwa
Lalu menyelam sampai jauh ke dasarnya
Tak pernah menghitung berapa sudah jumlah buah
Tapi kau tak pernah lupa menghitung detak jam
Detak jantung denyut nadi setiap kaki melangkah
Karena di ufuk warna lembayung semakin merah
Di tengah sungai Batanghari ketek mengapung
Berkasihkasihan dengan sang maha ke muara cinta
Aku melambai dari sebrang suka cita muncrat dari dada
Pintu gerbang kembali membuka kau melangkah
Jalan kembali membentang
Banjarbaru, 2015
164.
Wadai Ipau : Mekar Seraut Wajah
Masa kanak sudah akrab
Belajar mengaji dan sembahyang
Bersama ke surau bertarawih
Menapak jalan bersuluh obor
Di beranda rumah bubungan tinggi
Teman bermain cuk cuk bimbi
Di bawah rumah main ayunan
Sambil berlagu dendang
Burung punai tarabang tinggi
Bahinggapnya di puhun raman
Amun baayun talalu tinggi
Awak taambung marasa rawan
( Yun yun napan yun nana )
Nama lengkapnya Syarifah Fauziah Zen
Seharihari di panggil Ipau
Berbustan dan berlesung pipit
Alis lentik semut beriring
Waktu basambang di dalam masjid
Bertadarus al quran memang tradisi
Di dalam masyarakat Banjar
Menuggu waktu berbuka puasa
Berbuka puasa 41 macam wadai terhidang
Ketika mengharum salah satu wadai
Membuka lipatan masa lampau
Wadai Ipau mekar seraut wajah
Buka puasa
Syarifah Fauziah zen
Entah di mana
Banjarbaru, 2015
***
Berbustan : Karunia wajah bercahaya, suka berwudhu
Wadai : Kue. Basambang : Menunggu waktu berbuka puasa
Cuk cuk bimbi : Permainan anak-anak
165.
Kamar Altar
Adalah
Kalender robek
Surya s’makin tenggelam
Jalan bergegas
Maka jejak yang tertinggal
Tak lagi terhitung entah berapa jejak
Pada jalan usia yang s’makin umur
Semakin umur
Langit langit kamar
Serupa bintang bertabur
Riuh kepak lelawa
Riuh
Lelawa mengejar butiran bintang
Yang jatuh dari gugus wajahmu
Jatuh ke dalam ruang yang hampa
Ruang yang telah hampa
Jiwa yang mengosongkan beban dunia
Beban segala duka lara
Demikianlah riwayat kamar ini
Altar membasuh sekalian mimpi
Dan ribuan rupa yang tak dikenal lagi
Banjarbaru, 2015
166.
Kamar Tifa Nusantara
Jendela kamar membuka hati saling bertaut
Dan langit menyalakan rembulan dan menyulut bintang
bintang
Cahya memancar kesetiap ruang jiwa menyimpul tali percintaan
Yang datang dari segenap negri kasih sayang
Kasih dan sayang
Cahya bulan dan bintang
Jiwa yang terang
Malam jadi setanggi
Tifa menggitakan ratusan sajak ratusan jiwa mengombak
Menggitakan kapal kapal berlabuh dalam semilir birunya
langit
Dan bertambat pada dermaga kehidupan yang dibangun
bersama
Hati bersatu
Malam nian setanggi
Dermaga cinta
Malam ini malam penuh riwayat
Sebab bersatu hati tidak ada lagi perbedaan yang
dipersengketakan
Tidak ada lagi pemberhalaan dihiruk pikuknya roda zaman
Perdamaian mesti disuburkan di tanah negri tercinta
Penuh riwayat
Tahun senandung tifa
Di Nusantara
Harum bunga nusantara dalam kobaran api unggun senandung
tifa
Sajak membubus dalam hembusan semangat jiwa
Pada jendela kamar yang senantiasa terbuka
Bagi siapa saja yang menggenggam cinta
( coda :
Cinta berbunga
Aroma jagung bakar
Di api unggun )
Tangerang, 2015
167.
Jendela Kamar Bambu
Mawar merekah
Teringat bunga desa
Pagi di Jember
Wirama dari pepohonan yang mengitari rumah rumah bambu
Menjadikan wirasa lain di pagi yang berkemilau embun
Aku serupa burung kenari yang menari nari dari ranting ke
ranting
Aroma mawar yang bergayut di sayap angin
Napas pun menjadi harum
Pagi mengintip
Gadis mencuci mimpi
Sungai perawan
Dari sekian dusun di pelosok pelosok tanah negri
Demikian pula di sini sebuah dusun yang tentram dan damai
Ketika ayam jantan berkokok di dini hari dan kumandang
azan
Ucapan syukur pada Illahi Rabbi limpahan rahmat dan
nikmat
Jauh dari kebisingan dan polusi udara kota
Dusun yang tentram dan damai
Rumah bambu berhalaman rerumpun mawar
Jambun cahaya pagi
Dari jendela :
Mengintip ulat
Berubah kupu kupu
Dari kepompong
Narasi ini kala pagi pada sebuah taman
Cahaya mentari jambun
Ada sepoi angin yang mungil melayang layang :
Di ranting pagi
Kupu kupu dan mawar
Berayun ayun
Jember, 2015
168.
( Dalam Kamar 3 X 3 : Kutulis Haiku )
1.
Angin kembara
Rintih pucuk cemara
Wahana senja
2.
Kukejar ya Rabb
Sampai ke batas hening
Rindu bercinta
3.
Di bawah bulan
Bayangan itu pergi
Ini terakhir
4.
Sajadah hening
Doa setitik cahya
Seribu bulan
5.
Angin membelai
Bulan di ujung ranting
Rindu berayun
# Surabaya, 2015 #
169.
BEDIL
( Pucuk daun sirih tangkup batangkup urat
Manyampuk di padang mandura si mandurasih
Di muhara lawang wayah sanja babatis tunggal
Manawak tanah malai tawak
Tawak ka matahari pajah )
Dentuman dahsyat
Maka terbanglah merah putih ke puncak tiangnya
Melukis langit sejarah masa silam
Dimana pahlawan
meletuskan bedilnya
meletuskan semangat juangnya
mengikis imprialis kolonialis
Tanah merah darah mengalir sungai airmata
Alunalun sekarang tak seperti alunalun dulu lagi
Begitu dentuman memercik api
Orangorang dihalau bagai kerbau masuk kandangnya
Orangorang seperti tidak pernah memiliki negri
Dentuman itu menggema lagi. Cakrawala kelabu dan pecah
Hujan pun turun. Deras bongkahan airmata langit
Dan orangorang pada lari dan alunalun pada sepi
Tribun juga pada sepi kursikursi jadi sepi
Masih tegar gebyar merah putih
Gebyar gebyar dentuman demi dentuman
Di tengah alun alun adalah seseorang yang tak pernah dikenal
lagi
Masih hidmat menghormat merah putih
Dalam guyuran hujan sepuluh Nopember
Di negri ini perjuangan masih panjang mengisi kemerdekaan
Orang orang dengan semangat dan dedikasi kuat terus
meningkatkan kecintaan
Di antara itu orang orang berjubel mengaku pahlawan
Dan para koruptor terus mencuri kesempatan
( Dundang dundang si dundanglah sayang
Kamana jua bauntungai lakun lanya lalakun badanku
Langit nang barakun bauntungai langit nang barakun
Kadap rasanya kadap bauntungai panjanak )
Dentuman terus juga menggema
Di tengah guyuran sepuluh November
Seseorang yang tak pernah lagi dikenal
Hidmat mengalun doa di pintu pusara
Pahlawan pahlawan yang gugur
Masih memeluk bedilnya
Banjarbaru, 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar