Minggu, 21 Juli 2024

edisi 17


Tongkat Putih : Mata Hati

 

Tak pernah tahu

apakah malam apakah siang

Hanya yang tahu gelap

Tapi bagi yang lain

gelap tiada cahaya yang terang

 

Gelap itu terang

Gelap bilamana tidur

Terang bilamana terjaga

 

Di tugu api

Tugu puncaknya mengeluarkan api

tak pernah padam di siang di malam

Kami menghilangkan letih beban dunia

Di kaki tugu

 

Selesai percakapan hidup dan kehidupan

cinta dan rindu

membunuh dendam

membunuh sekalian yang menjadikan duka

Tongkat putihnya menyusur jalan sampai tak tampak lagi

Di mata batinku masih jelas terlihat serupa tugu api berjalan

Membaca tentang dunia ini fana

 

Tabalong, 2015

 

 

 

 

161

 

Kuriding : Berlinang Air Mata

 

Dendang musik kuriding

Di hulu banyu seluang mudik

Di atas jukung di arus sungai

Dari Bakumpai merasuk sukma

 

Jangan di patah jangan dibuang, sayang

Kuriding sasangkutan hati merindu

Merindu badan kekasih di rantau

Di rantau sayang berlinang si air mata

 

Mengayuh jukung mengayuh hati

Risau dedaun bakau risau pepohon rambai

Menyusur pesisir di mana rumah lanting

Tempat meraut bilah kuriding

 

Banyak orang berkata asli orang banua

Tidaklah kata cuma terendam di lidah

Batang terendam di kedalaman dirinya

 

Di mana angin semilir dari Bakumpai

Jukung berkayuh  menyisir arus sungai

Semata dendang pengayuh berkayuh

Berkayuh :

Empat si empat lima kuriding patah

Halinai terpendam di tanah pusaka

Apa dikata zaman berganti sudah

Kur sumangat bilahnya kuambil jua

 

Handil Bakti, 2015

 

 

 

162.

 

Basambang Di Dalam Surau

 

Tak ada rasa lapar dan haus

Tak ada nafsu duniawi di jiwa

Kecuali nikmat puasa yang rahmat

Bagi sekalian orang yang beriman

 

Di dalam surau basambang dengan khidmat

Ayatayat al quran yang dilantunkan

Menunggu sampai beduk berbunyi

Waktu untuk berbuka puasa

 

Di antara empat puluh satu macam kue

Kue pendatang baru bernama ipau

Telah dikerat mengisi piring berbaris

Dan ada yang mengatakan berasal dari Arab

 

Bersambang ditemani ipau tubuh berlapis

Tujuh lapis daging, sayur dan bumbu

Tujuh lapis rasa menghias kuliner Banjar

Bersambang nikmat menunggu beduk berbunyi

 

Kata syukur rejeki yang dilimpahkan Allah

Kepada hambanya yang dikasih sayangi

Tak ada kata dusta yang mendustakan

Segala nikmatnya yang dianugrakan

Wallohul Muwafiq ila aqwamith Thariq

 

 Banjarbaru,2015

 

Basambang (bhs Banjar) = Ngabuburit ( bhs Sunda) :

Menunggu waktu untuk berbuka puasa.

 

 

 

163.

 

Jalan Kembali Membentang
: Milad Dimas Arika Mihardja

 

Kebajikan yang ditanam di jejak langkah

Buahnya lebat manis siapan pun boleh memetiknya

Untuk kebaikan kemanusiaaan

Karena dipetik sebiji buah berlipat ganda

 

Tak pernah letih semangat merkah senyuman

Keikhlasan dan santun duduk di bawah walau ada di atas

Kerendahhatian  yang menjadikan birunya langit

Spektrum warna menjadikan busur pelangi

 

Aku memandang pelangi di langitlangit ruang hati

Dua raut wajah cahaya mata bersulang

Cinta dan rindu bersenyawa berenang di kolam jiwa

Lalu menyelam sampai jauh ke dasarnya

 

Tak pernah menghitung berapa sudah jumlah buah

Tapi kau tak pernah lupa menghitung detak jam

Detak jantung denyut nadi setiap kaki melangkah

Karena di ufuk warna lembayung semakin merah

 

Di tengah sungai Batanghari ketek mengapung

Berkasihkasihan dengan sang maha ke muara cinta

Aku melambai dari sebrang suka cita muncrat dari dada

Pintu gerbang kembali membuka kau melangkah

Jalan kembali membentang

 

Banjarbaru, 2015

 

 

164.

 

Wadai Ipau : Mekar Seraut Wajah

 

Masa kanak sudah akrab

Belajar mengaji dan sembahyang

Bersama ke surau bertarawih

Menapak jalan bersuluh obor

 

Di beranda rumah bubungan tinggi

Teman bermain cuk cuk bimbi

Di bawah rumah main ayunan

Sambil berlagu dendang

 

Burung punai tarabang tinggi

Bahinggapnya di puhun raman

Amun baayun talalu tinggi

Awak taambung marasa rawan

( Yun yun napan yun nana )

 

Nama lengkapnya Syarifah Fauziah Zen

Seharihari di panggil Ipau

Berbustan dan berlesung pipit

Alis lentik semut beriring

 

Waktu basambang di dalam masjid

Bertadarus al quran memang tradisi

Di dalam masyarakat Banjar

Menuggu waktu berbuka puasa

 

Berbuka puasa 41 macam wadai terhidang

Ketika mengharum salah satu wadai

Membuka lipatan masa lampau

Wadai Ipau mekar seraut wajah

 

Buka puasa

Syarifah Fauziah zen

Entah di mana

 

Banjarbaru, 2015

 

***

Berbustan : Karunia wajah bercahaya, suka berwudhu

Wadai : Kue. Basambang : Menunggu waktu berbuka puasa

Cuk cuk bimbi : Permainan anak-anak

 

 

165.

 

Kamar Altar

 

Adalah  

Kalender robek

Surya s’makin tenggelam

Jalan bergegas

 

Maka jejak yang tertinggal

Tak lagi terhitung entah berapa jejak

Pada jalan usia yang s’makin umur

 

Semakin umur

Langit langit kamar

Serupa bintang bertabur

Riuh kepak lelawa

 

Riuh

Lelawa mengejar butiran bintang

Yang jatuh dari gugus wajahmu

Jatuh ke dalam ruang yang hampa

 

Ruang yang telah hampa

Jiwa yang mengosongkan beban dunia

Beban segala duka lara

 

Demikianlah riwayat kamar ini

Altar membasuh sekalian mimpi

Dan ribuan rupa yang tak dikenal lagi

 

Banjarbaru, 2015

 

 

166.

 

Kamar Tifa Nusantara

 

Jendela kamar membuka hati saling bertaut

Dan langit menyalakan rembulan dan menyulut bintang bintang

Cahya memancar kesetiap ruang jiwa  menyimpul tali percintaan

Yang datang dari segenap negri kasih sayang

 

Kasih dan sayang

Cahya bulan dan bintang

Jiwa yang terang

 

Malam jadi setanggi

Tifa menggitakan ratusan sajak ratusan jiwa mengombak

Menggitakan kapal kapal berlabuh dalam semilir birunya langit

Dan bertambat pada dermaga kehidupan yang dibangun bersama

 

Hati bersatu

Malam nian setanggi

Dermaga cinta

 

Malam ini malam penuh riwayat

Sebab bersatu hati tidak ada lagi perbedaan yang dipersengketakan

Tidak ada lagi pemberhalaan dihiruk pikuknya roda zaman

Perdamaian mesti disuburkan di tanah negri tercinta

 

Penuh riwayat

Tahun senandung tifa

Di Nusantara

 

Harum bunga nusantara dalam kobaran api unggun senandung tifa

Sajak membubus dalam hembusan semangat jiwa

Pada jendela kamar yang senantiasa terbuka

Bagi siapa saja yang menggenggam cinta

 

( coda  :

 

Cinta berbunga

Aroma jagung bakar

Di api unggun )

 

Tangerang, 2015

 

 

167.

 

Jendela Kamar Bambu

 

Mawar merekah

Teringat bunga desa

Pagi di Jember

 

Wirama dari pepohonan yang mengitari rumah rumah bambu

Menjadikan wirasa lain di pagi yang berkemilau embun

Aku serupa burung kenari yang menari nari dari ranting ke ranting

Aroma mawar yang bergayut di sayap angin

Napas pun menjadi harum

 

Pagi mengintip

Gadis mencuci mimpi

Sungai perawan

 

Dari sekian dusun di pelosok pelosok tanah negri

Demikian pula di sini sebuah dusun yang tentram dan damai

Ketika ayam jantan berkokok di dini hari dan kumandang azan

Ucapan syukur pada Illahi Rabbi limpahan rahmat dan nikmat

Jauh dari kebisingan dan polusi udara kota

 

Dusun yang tentram dan damai

Rumah bambu berhalaman rerumpun mawar

Jambun cahaya pagi

Dari jendela :

 

Mengintip ulat

Berubah kupu kupu

Dari kepompong

 

Narasi ini kala pagi pada sebuah taman

Cahaya mentari jambun

Ada sepoi angin yang mungil melayang layang :

 

Di ranting pagi

Kupu kupu dan mawar

Berayun ayun

 

Jember, 2015

 

168.

 

( Dalam Kamar 3 X 3 : Kutulis Haiku )

 

1.

Angin kembara

Rintih pucuk cemara

Wahana senja

 

2.

Kukejar ya Rabb

Sampai ke batas hening

Rindu bercinta

 

3.

Di bawah bulan

Bayangan itu pergi

Ini terakhir

 

4.

Sajadah hening

Doa setitik cahya

Seribu bulan

 

5.

Angin membelai

Bulan di ujung ranting

Rindu berayun

 

# Surabaya, 2015 #

 

 

 

169.

 

BEDIL

 

( Pucuk daun sirih tangkup batangkup urat

Manyampuk di padang mandura si mandurasih

Di muhara lawang wayah sanja babatis tunggal

Manawak tanah malai tawak

Tawak ka matahari pajah )

 

Dentuman dahsyat

Maka terbanglah merah putih ke puncak tiangnya

Melukis langit sejarah masa silam

Dimana  pahlawan meletuskan bedilnya

meletuskan semangat juangnya

mengikis imprialis kolonialis

Tanah merah darah mengalir sungai airmata

 

Alunalun sekarang tak seperti alunalun dulu lagi

Begitu dentuman memercik api

Orangorang dihalau bagai kerbau masuk kandangnya

Orangorang seperti tidak pernah memiliki negri

 

Dentuman itu menggema lagi. Cakrawala kelabu dan pecah

Hujan pun turun. Deras bongkahan airmata langit

Dan orangorang pada lari dan alunalun pada sepi

Tribun juga pada sepi kursikursi jadi sepi

 

Masih tegar gebyar merah putih

Gebyar gebyar dentuman demi dentuman

Di tengah alun alun adalah seseorang yang tak pernah dikenal lagi

Masih hidmat menghormat merah putih

Dalam guyuran hujan sepuluh Nopember

 

Di negri ini perjuangan masih panjang mengisi kemerdekaan

Orang orang dengan semangat dan dedikasi kuat terus meningkatkan kecintaan

Di antara itu orang orang berjubel mengaku pahlawan

Dan para koruptor terus mencuri kesempatan

 

 

( Dundang dundang si dundanglah sayang

Kamana jua bauntungai lakun lanya lalakun  badanku

Langit nang barakun bauntungai langit nang barakun

Kadap rasanya kadap bauntungai panjanak )

 

Dentuman terus juga menggema

Di tengah guyuran sepuluh November

Seseorang yang tak pernah lagi dikenal

Hidmat mengalun doa di pintu pusara

Pahlawan pahlawan yang gugur

Masih memeluk bedilnya

 

Banjarbaru, 2015

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar