Minggu, 21 Juli 2024

Edisi 6


Kamar Membakar
 
Aroma kamar membuncah dendam rindu
Menyulut secangkir anggur birahi dendam
Dalam kesucian malamnya malam
 
Bibir cangkir meletupletup bunga api
Sebab manisnya anggur jiwa dahaga
Anggur tasbih musafir gila
 
Tuhan
Akan kusempurnakan hangusku
Sebab aku tidak akan bercinta dengan yang lain
Hanya kepadamu seluruh jiwaragaku
 
Bbaru, 2013
 
 
 
 
51)
 
Kamar Tidur
 
Aku pernah berjumpa dengan Dewi Aprodite
Ketika namaku Prommetius
Isteriku menatapku tak percaya
Aku pernah berjumpa dengan Dewi Ratih
Ketika namaku Kamajaya
Isteriku menatapku tak percaya
Aku pernah berjumpa dengan Yuliate
Ketika namaku Romeo
Isteriku menatapku tak percaya
Dan banyak lagi wanita cantik yang kusebut
Dan isteriku selalu tak percaya
 
Aku tidak bohong
Mari kita ke kamar tidur
Isteriku sepertinya masih menatapku tak percaya
 
Paginya isteriku berkata dengan manja :
Dasar penyair gila
 
Bbaru, 2013
 
 
 
52)
 
Kamar Pelangi
 
Entah apa isteriku sering menyendiri di ujung lanting
Menatap ilungilung larut di banyu
Atau kah ada sesuatu yang mengusik hatinya
 
Aku berkata pada isteriku :
Kemarin aku bersama Paramita Rosadi
Kemarinnya lagi aku bersama Desy Ratnasari
Dan kemarinnya lagi aku bersama Luna Maya
Isteriku memainkan ujung bajunya dan lebih dalam lagi tunduknya
Manakala serupa gumam kusebut sebuah nama : Sui Lan
 
Malam tadi tidak seperti biasanya
Kamar tidur kuberi warna pelangi
Entah apa kutatap isteriku
Di bola matanya ada mekar setangkai bunga
 
Birayang, 2013
 
Catatan : lanting = rakit tempat orang-orang mandi dan mencuci pakaian terbuat dari   
                                kayu atau bambu, terdapat di tanah Banjar
                    ilung = eceng gondok
                  banyu = ( air )  sungai
 
 
53)
 
 
Kamar Kembang Tigarun
 
Entah mimpi apa kau minta kembang tigarun
Entah kemana aku mencarikan kembang spesifik itu
Orangorang tanah Banjar sudah tidak mengenal lagi
Kecuali perempuan amat tua di dusun yang jauh dari keramaian kota
Itu pun cuma mungkin
 
Aku ingin lalapan  kembang tigarun
Ingin seperti nenek buyut awet muda harum dan cantik alami
Cantik tidak karena kosmetik dan farfum
Nenek berkata : Kembang ini tumbuh tidak sembarang tempat tumbuh di tempat yang nyaman jauh dari polusi dan  pencemaran
 
Akan kemanakah kucari kembang tigarun
Kebun ladang sudah menjadi rumahrumah toko plaza dan gedung
Hutan sudah gundul gunung menjadi danau daki batubara
Tak kudapat pada orangorang yang berkata  : aku asli urang banua
Tak kudapat pada orangorang ramai menjadi pemangku adat
 
Masih kuingat kau minta kembang tigarun padaku
Kupetikan beberapa kuntum dari taman pusaka
Yang kulukis pada dinding kamar sewaktu kau masih dalam tidur
 
Banjarbaru, 2013
 
 
 
 
54)
 
Kamar Tunggu
 
Entah berapa puntung rokok sudah
Menantikan kau membawaku melintas laut
Dan sebatang lagi saat kau di awanawan
Memantulkan bayangbayang di atas Spinggan
 
Aku tak pernah mengenalmu sebelumnya
Tetapi di dalam tidurku kita di tepi selat Palu
Satu tubuh basah oleh deburan ombak
 
Setelah itu kita tak pernah lagi bertemu
Dan tak letihletih kucari dalam ranjang rindu
 
Balikpapan, 2013
 
 
 
55)
 
Kamar Altar
 
Kamar ini kujadikan altar
Begitu rindunya rindu
Menembus kaca jendela
 
Biarkan aku jadi ombak selat Palu
Debur mendebur di pantaipantai
Menguntai semenanjung zikir
 
Selat Palu semakin membuncah
Membasuh ubin altar merajah kiblatmu
Meriwayatkan arung sebuah cinta
 
Palu, 2013
 
 
 
56)
 
Kamar Dendam
 
Seperti benar sepasang pengantin
Pada malam pertama
Kita sudah berdua dalam kamar
Dalam debur Selat Palu airnya pasang
 
Aku tidak ingin bermimpi yang sudah sudah
Selain kesumat dendamnya rindu
Melunasinya dengan beranak pinak
Pada rahim kasih sayang
 
Apa pun sesudahnya
Keyakinan lebih dari segalanya
Aku lebur dalam puisi
Dalam bersigenap hakikatnya cinta
 
Tuhan terima kasih
Sungguh seperti benar sepasang pengantin
Pada malam pertama itu
Kau jadikan aku berdua
 
 
Palu, 2013
 
 
 
 
 
 
57)
 
Kamar Pintu 5
 
Menunggu adalah pekerjaan yang merisaukan
Tetapi setelah kau beri aku beberapa bungkus kewaci
Aku dapat menangkap isyarat capung melayang
di ujung gerimis yang melahirkan pelangi
 
Berkemaslah musafir rindu
Jangan satu pun cintakasihku tertinggal
Sebelum pelangi meluruhkan warna
Demikian suaramu dalam aku terjaga
 
Makassar, 2013
 
 
 
58)
 
Kamar 99
 
Karena banyaknya fenomena tragis
sehingga sudah menjadi hal biasa
Hatinurani sudah letih dan hampa
di mimbarmimbar di forumforum
dialog, seminar, diskusi, simposium
atau pun demonstrasi
Pemimpin negeri ini
memang tidak butuh hatinurani rakyatnya
 
Di dinding kamar ada lukisan
Sebuah negeri tenggelam dilanda banjir
Badai yang maha dahsyat
Kapalkapal pesiar pemimpin negeri ini
penuh muatan harta kekayaannya
keluarganya dan kroninya
Kapalkapal itu pecah dan tenggelam ke dasar laut
 
Kurenung sembilanpuluhsembilan namamu
Maha benar firmanfirmanmu
 
Surabaya, 2013
 
 
 
59)
 
Bulan Merah Di Jendela Kamar
 
Bulan merah di jendela Kamar
Bergegas kubangunkan tidur
Tubuh terbaring mimpi berdarah
 
Langkahku langkah lukamukah
Darahnya duka setiap langkah
Di ubin lantai basah memerah
 
Bulan merah di jendela kamar
Berbayang kau pada samar bayang
Tak sudi pasrah dinasib merajah
 
Beribu langkah melangkah
Hidup mesti membangun kehidupan
mengajalkan sekalian dukaduka
bulan merah merahnya darah
 
Malang, 2013
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar