Edisi 6
Kamar
Membakar
Aroma kamar membuncah dendam rindu
Menyulut secangkir anggur birahi dendam
Dalam kesucian malamnya malam
Bibir cangkir meletupletup
bunga api
Sebab manisnya anggur jiwa dahaga
Anggur tasbih musafir gila
Tuhan
Akan kusempurnakan hangusku
Sebab aku tidak akan bercinta dengan yang lain
Hanya kepadamu seluruh jiwaragaku
Bbaru, 2013
51)
Kamar Tidur
Aku pernah berjumpa dengan Dewi Aprodite
Ketika namaku Prommetius
Isteriku menatapku tak percaya
Aku pernah berjumpa dengan Dewi Ratih
Ketika namaku Kamajaya
Isteriku menatapku tak percaya
Aku pernah berjumpa dengan Yuliate
Ketika namaku Romeo
Isteriku menatapku tak percaya
Dan banyak lagi wanita cantik yang kusebut
Dan isteriku selalu tak percaya
Aku tidak bohong
Mari kita ke kamar tidur
Isteriku sepertinya masih menatapku tak percaya
Paginya isteriku berkata dengan manja :
Dasar penyair gila
Bbaru, 2013
52)
Kamar
Pelangi
Entah apa isteriku sering menyendiri di ujung lanting
Menatap ilungilung larut di banyu
Atau kah ada sesuatu yang mengusik hatinya
Aku berkata pada isteriku :
Kemarin aku bersama Paramita Rosadi
Kemarinnya lagi aku bersama Desy Ratnasari
Dan kemarinnya lagi aku bersama Luna Maya
Isteriku memainkan ujung bajunya dan lebih dalam lagi tunduknya
Manakala serupa gumam kusebut sebuah nama : Sui Lan
Malam tadi tidak seperti biasanya
Kamar tidur kuberi warna pelangi
Entah apa kutatap isteriku
Di bola matanya ada mekar setangkai bunga
Birayang, 2013
Catatan : lanting = rakit tempat orang-orang mandi dan
mencuci pakaian terbuat dari
kayu atau bambu, terdapat di tanah Banjar
ilung = eceng gondok
banyu = ( air ) sungai
53)
Kamar
Kembang Tigarun
Entah mimpi apa kau minta kembang tigarun
Entah kemana aku mencarikan kembang spesifik itu
Orangorang tanah Banjar sudah tidak mengenal lagi
Kecuali perempuan amat tua di dusun yang jauh dari keramaian kota
Itu pun cuma mungkin
Aku ingin lalapan
kembang tigarun
Ingin seperti nenek buyut awet muda harum dan cantik alami
Cantik tidak karena kosmetik dan farfum
Nenek berkata : Kembang ini tumbuh tidak sembarang tempat tumbuh di tempat yang nyaman jauh dari polusi dan pencemaran
Akan kemanakah kucari kembang tigarun
Kebun ladang sudah menjadi rumahrumah toko plaza dan gedung
Hutan sudah gundul gunung menjadi danau daki batubara
Tak kudapat pada orangorang yang berkata : aku asli urang banua
Tak kudapat pada orangorang ramai menjadi pemangku adat
Masih kuingat kau minta kembang tigarun padaku
Kupetikan beberapa kuntum dari taman pusaka
Yang kulukis pada dinding kamar sewaktu kau masih dalam tidur
Banjarbaru, 2013
54)
Kamar Tunggu
Entah berapa puntung rokok sudah
Menantikan kau membawaku melintas laut
Dan sebatang lagi saat kau di awanawan
Memantulkan bayangbayang di atas Spinggan
Aku tak pernah mengenalmu sebelumnya
Tetapi di dalam tidurku kita di tepi selat Palu
Satu tubuh basah oleh deburan ombak
Setelah itu kita tak pernah lagi bertemu
Dan tak letihletih kucari dalam ranjang rindu
Balikpapan, 2013
55)
Kamar Altar
Kamar ini kujadikan altar
Begitu rindunya rindu
Menembus kaca jendela
Biarkan aku jadi ombak selat Palu
Debur mendebur di pantaipantai
Menguntai semenanjung zikir
Selat Palu semakin membuncah
Membasuh ubin altar merajah kiblatmu
Meriwayatkan arung sebuah cinta
Palu, 2013
56)
Kamar
Dendam
Seperti benar sepasang pengantin
Pada malam pertama
Kita sudah berdua dalam kamar
Dalam debur Selat Palu airnya pasang
Aku tidak ingin bermimpi yang sudah sudah
Selain kesumat dendamnya rindu
Melunasinya dengan beranak pinak
Pada rahim kasih sayang
Apa pun sesudahnya
Keyakinan lebih dari segalanya
Aku lebur dalam puisi
Dalam bersigenap hakikatnya cinta
Tuhan terima kasih
Sungguh seperti benar sepasang pengantin
Pada malam pertama itu
Kau jadikan aku berdua
Palu, 2013
57)
Kamar
Pintu 5
Menunggu adalah pekerjaan yang merisaukan
Tetapi setelah kau beri aku beberapa bungkus kewaci
Aku dapat menangkap isyarat capung melayang
di ujung gerimis yang melahirkan pelangi
Berkemaslah musafir rindu
Jangan satu pun cintakasihku tertinggal
Sebelum pelangi meluruhkan warna
Demikian suaramu dalam aku terjaga
Makassar, 2013
58)
Kamar 99
Karena banyaknya fenomena tragis
sehingga sudah menjadi hal biasa
Hatinurani sudah letih dan hampa
di mimbarmimbar di forumforum
dialog, seminar, diskusi, simposium
atau pun demonstrasi
Pemimpin negeri ini
memang tidak butuh hatinurani rakyatnya
Di dinding kamar ada lukisan
Sebuah negeri tenggelam dilanda banjir
Badai yang maha dahsyat
Kapalkapal pesiar pemimpin negeri ini
penuh muatan harta kekayaannya
keluarganya dan kroninya
Kapalkapal itu pecah dan tenggelam ke dasar laut
Kurenung sembilanpuluhsembilan namamu
Maha benar firmanfirmanmu
Surabaya, 2013
59)
Bulan
Merah Di Jendela Kamar
Bulan merah di jendela Kamar
Bergegas kubangunkan tidur
Tubuh terbaring mimpi berdarah
Langkahku langkah lukamukah
Darahnya duka setiap langkah
Di ubin lantai basah memerah
Bulan merah di jendela kamar
Berbayang kau pada samar bayang
Tak sudi pasrah dinasib merajah
Beribu langkah melangkah
Hidup mesti membangun kehidupan
mengajalkan sekalian dukaduka
bulan merah merahnya darah
Malang, 2013
Menyulut secangkir anggur birahi dendam
Dalam kesucian malamnya malam
Anggur tasbih musafir gila
Akan kusempurnakan hangusku
Sebab aku tidak akan bercinta dengan yang lain
Hanya kepadamu seluruh jiwaragaku
Ketika namaku Prommetius
Isteriku menatapku tak percaya
Aku pernah berjumpa dengan Dewi Ratih
Ketika namaku Kamajaya
Isteriku menatapku tak percaya
Aku pernah berjumpa dengan Yuliate
Ketika namaku Romeo
Isteriku menatapku tak percaya
Dan banyak lagi wanita cantik yang kusebut
Dan isteriku selalu tak percaya
Mari kita ke kamar tidur
Isteriku sepertinya masih menatapku tak percaya
Dasar penyair gila
Menatap ilungilung larut di banyu
Atau kah ada sesuatu yang mengusik hatinya
Kemarin aku bersama Paramita Rosadi
Kemarinnya lagi aku bersama Desy Ratnasari
Dan kemarinnya lagi aku bersama Luna Maya
Isteriku memainkan ujung bajunya dan lebih dalam lagi tunduknya
Manakala serupa gumam kusebut sebuah nama : Sui Lan
Kamar tidur kuberi warna pelangi
Entah apa kutatap isteriku
Di bola matanya ada mekar setangkai bunga
kayu atau bambu, terdapat di tanah Banjar
ilung = eceng gondok
Entah kemana aku mencarikan kembang spesifik itu
Orangorang tanah Banjar sudah tidak mengenal lagi
Kecuali perempuan amat tua di dusun yang jauh dari keramaian kota
Itu pun cuma mungkin
Ingin seperti nenek buyut awet muda harum dan cantik alami
Cantik tidak karena kosmetik dan farfum
Nenek berkata : Kembang ini tumbuh tidak sembarang tempat tumbuh di tempat yang nyaman jauh dari polusi dan pencemaran
Kebun ladang sudah menjadi rumahrumah toko plaza dan gedung
Hutan sudah gundul gunung menjadi danau daki batubara
Tak kudapat pada orangorang yang berkata : aku asli urang banua
Tak kudapat pada orangorang ramai menjadi pemangku adat
Kupetikan beberapa kuntum dari taman pusaka
Yang kulukis pada dinding kamar sewaktu kau masih dalam tidur
Menantikan kau membawaku melintas laut
Dan sebatang lagi saat kau di awanawan
Memantulkan bayangbayang di atas Spinggan
Tetapi di dalam tidurku kita di tepi selat Palu
Satu tubuh basah oleh deburan ombak
Dan tak letihletih kucari dalam ranjang rindu
Begitu rindunya rindu
Menembus kaca jendela
Debur mendebur di pantaipantai
Menguntai semenanjung zikir
Membasuh ubin altar merajah kiblatmu
Meriwayatkan arung sebuah cinta
Pada malam pertama
Kita sudah berdua dalam kamar
Dalam debur Selat Palu airnya pasang
Selain kesumat dendamnya rindu
Melunasinya dengan beranak pinak
Pada rahim kasih sayang
Keyakinan lebih dari segalanya
Aku lebur dalam puisi
Dalam bersigenap hakikatnya cinta
Sungguh seperti benar sepasang pengantin
Pada malam pertama itu
Kau jadikan aku berdua
Tetapi setelah kau beri aku beberapa bungkus kewaci
Aku dapat menangkap isyarat capung melayang
di ujung gerimis yang melahirkan pelangi
Jangan satu pun cintakasihku tertinggal
Sebelum pelangi meluruhkan warna
Demikian suaramu dalam aku terjaga
sehingga sudah menjadi hal biasa
Hatinurani sudah letih dan hampa
di mimbarmimbar di forumforum
dialog, seminar, diskusi, simposium
atau pun demonstrasi
Pemimpin negeri ini
memang tidak butuh hatinurani rakyatnya
Sebuah negeri tenggelam dilanda banjir
Badai yang maha dahsyat
Kapalkapal pesiar pemimpin negeri ini
penuh muatan harta kekayaannya
keluarganya dan kroninya
Kapalkapal itu pecah dan tenggelam ke dasar laut
Maha benar firmanfirmanmu
Bergegas kubangunkan tidur
Tubuh terbaring mimpi berdarah
Darahnya duka setiap langkah
Di ubin lantai basah memerah
Berbayang kau pada samar bayang
Tak sudi pasrah dinasib merajah
Hidup mesti membangun kehidupan
mengajalkan sekalian dukaduka
bulan merah merahnya darah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar