edisi 14
Cilegon : Seperti Tak Ingin Aku Beranjak
Matahari menyengat di ubunubun. Kaki terus melangkah
Masuk ke tembok tua. Melata di tanah lapang yang gersang
Di tiangtiang kuburan Belanda yang runtuh. Kumuh berdebu
Di Benteng Spelwijk ini membaca bukti sejarah
Kejayaan Belanda yang porakporanda
Pada sebuah danau Tasikkardi. Kubasuh mata kubasuh tubuh
Sepanjang permukaan danau yang kemilau. Kulabuh tubuh
Di tubuh angsa berenang menyisir wajah danau
Kupetik sekuntum teratai suntingan buat kekasih
Sepanjang jalan menuju perkampungan santri
Mengalun Terbang Gede mengajak kita menari
Debus seni yang magis dan Patingtung para pendekar
Di dalam kehidupan budaya di kota ini masih lestari
Cilegon, 2014
131
Kuasapkan Kemenyan Saat Balian Mati
Kuasapkan kemenyan di tato sekujur tubuh digerincing
gelang bawo di kalanye di karaben
di batubatu di bukitbukit di riamriam di guagua
di lembahlembah di guntungguntung sampai kepuncakpuncak gunung
Aku asapkan di ubunubun damang yang kehabisan darah di balai yang terbelah
Aku asapkan di rumah kehilangan rimba
di kubur kehidupan di mata yang menahan airmata
Kuasapkan kemenyan tersebab jantung Kalimantanku lemah berdenyut
Digemuruh mesin gergaji membabat hutan digemuruh pengangkut batubara pengangkut kelapa sawit
Aku asapkan di ruh nenek moyang yang dibantai investor asing,kavitalis, pejabat laknat
Aku asapkan yang mengalir dari hatinurani kami
Agar kau memahami tumpah darah kami
Agar kau memahami arti kelestarian pegunungan meratus
Hutan rimba dijarah menjadi padang anaksima
Gunung batubara runtuh menjadi danau kubangan bumburaya
Meranti, lanan, ulin, para dijajah kelapa sawit menjadi halimatak
Dayak terperangkap dalam perangkap kabibitak
Kuasapkan kesabaran menyusur akar kariwaya sampai pada
mata damak batang tubuh Mandau parang bungkul parang maya tersebab talimbaran
pasti ada putingnya
Dangsanak kuasapkan kemenyan lantaran balian kami telah mati
Banjarbaru, 2014
132
Bunga Sedap Malam
Masih ingatkah, katanya, lalu menyebutkan nama
Saat di Rumah Budaya Kalimasada cuma menatap harap
Dan di Istana Gebang Blitar malam itu jadi berdua
Entahlah
Tapi aku melihat sebuah wajah di bunga sedap malam
Sepasang bola mata menetes di kelopaknya
Menetes bening di hatiku
Blitar,2014
133
Gunung Kelud : Negri Yang Malang
Karena menistakan kejujuran
Memberhalakan kebohongan
Terjadi bencana dan malapetaka
Berimbas pada orang yang tak berdosa
Negri ini apakah serupa riwayat Gunung Kelud
Orangorang seperti Dewi Kilisuci menyembunyikan janji
dan sumpahnya di balik singgasana jabatannya
Hingga Lembu Suro dan Mahesa Suro murka
Gunung Kelud di tanggal 14 Februari 2014 erupsi
Malam Kamis bencana yang kesekian kalinya
Tetapi adakah orangorang becermin pada malapetaka itu
Selain merundung nasib
Orang melupa
Kejujuran yang dinista
Negri yang malang
Kediri, 2014
134
Daun Jendela
Mentari senja
Lenyap pandangan mata
Hanya gulita
Membayangkan jendela ini tanpa berdaun jendela
Tak cukup kata kata selain merenung
Masuk ke dalam jiwa
Ke dalam diri yang fana
Kamar kehidupan
Kamar kematian
Hidup kehilangan warna
Kehilangan makna
Kala merenung
Pekat depan jendela
Sonder berdaun
Membayangkan jendela ini tanpa berdaun jendela
Jendela hati
Membayangkan apakah akan dapat bercinta lagi
Kekasih :
Menggali cinta
Sampai ke batas fajar
Penghuni jiwa
Banjarbaru,2014
135
Di Puncak Gunung Tidar
Kitab kitab suci yang disucikan itu
Tak perlu lagi sebagai landasan hidup dan kehidupan
Sebab dari jaman peradaban keperadaban
Manusia lebih pandai membuat kitab undang undang
Kesadaran sengaja di bunuh
Sebab pikiran nafsu pada artokumulus
Tuhan diasingkan atau pun dipenjarakan
Sebab tujuan adalah berhala
Semesta bergoncang
Karena sengketa manusia tak pernah usai usai
Apa yang kau cari pada derita dan sengsara
Semata pikiran nafsu yang melata
Kusenyawakan tubuhku pada puncak Gunung Tidar
Dan beringin tiga ratus tahun rumah ruhku
Tak ada lagi sengketa dalam pikiran nafsu
Semata nikmat hakikat cinta
Magelang, 2014
136
( Suatu Malam. Kutulis Haiku )
1.
Hanyalah satu
Walau seribu nama
Jalan membentang
2.
Di mana bulan
Jatuh di sudut malam
Lantera wajah
3.
Di tirai malam
Melukis kunang kunang
Sketsa semesta
4.
Jalan membentang
Lantera wajah jiwa
Semesta cinta
5.
Sketsa semesta
Adakah kau di sana
Lelawa terbang
Semarang, 2014
137
Lakum Dinukum Waliyadin
Sepanjang peradaban manusia dari poros bumi yang berputar
Perjalanan dari kutub ke kutub
Tapi manusia itu telah mengingkari dirinya
Agama cuma di luar perilaku hidup dan kehidupannya
Hanyalah kebanggan serakah dan kebencian
Dan jika mereka menegakkan keadilan
Niscaya tidak akan saling berseteru
Semesta bergoncang
Lalu berkali kali kerukunan umat beragama itu dibahasakan
Di tengah tengah hiruk pikuknya ideologisme
Lalu bertasamuh dan bermuamalah
Namun pemahaman itu bersimpang jalan dari kebenaran
Dan kami sesungguhnya bukan golongan mereka
Telah kami tanamkan aya tayat teologi
jauh dikedalaman kemurnian umat beragama itu
sepanjang peradaban manusia
Lalu apa yang kau cari kaum sekularis, sinkretis, zionis, pluralis
Selain mungkir
Sebab dari satu titik ke titik yang lain hanyalah garis lingkaran
Tidakkah semua itu hanyalah pendustaan
Jika ideologimu jujur dan terbuka
Maka damailah di bumi damailah di langit
Banjarbaru, 2014
138
Kemunafikan
Tumpukan utang tak pernah terlunasi
Janji memang tipu muslihat
Suara suara yang kau pungut adalah kuitansi kosong
Untuk dimanipulasi
Jabatan yang diberhalakan
Berhala setiap tindakan dan perbuatan
Apa yang kau banggakan di mata tuhan
Selain kemunafikan
Banjarbaru,2014
139
Kasih Sayang Dan Cinta
Begitu hakikinya kasih sayang.
Tapi adakah orang menyelami sampai ke dasarnya
Lalu bersyukur atas nikmat itu
Jika kita mendaki imprerium cinta
Sampai ke kulminasi
Niscaya kau tak akan mendustakan ayat ayat itu
Sebab kasih sayang adalah inti dari cinta
Banjarbaru, 2014
Di Benteng Spelwijk ini membaca bukti sejarah
Kejayaan Belanda yang porakporanda
Sepanjang permukaan danau yang kemilau. Kulabuh tubuh
Di tubuh angsa berenang menyisir wajah danau
Kupetik sekuntum teratai suntingan buat kekasih
Mengalun Terbang Gede mengajak kita menari
Debus seni yang magis dan Patingtung para pendekar
Di dalam kehidupan budaya di kota ini masih lestari
di batubatu di bukitbukit di riamriam di guagua
di lembahlembah di guntungguntung sampai kepuncakpuncak gunung
Aku asapkan di ubunubun damang yang kehabisan darah di balai yang terbelah
Aku asapkan di rumah kehilangan rimba
di kubur kehidupan di mata yang menahan airmata
Kuasapkan kemenyan tersebab jantung Kalimantanku lemah berdenyut
Digemuruh mesin gergaji membabat hutan digemuruh pengangkut batubara pengangkut kelapa sawit
Aku asapkan di ruh nenek moyang yang dibantai investor asing,kavitalis, pejabat laknat
Aku asapkan yang mengalir dari hatinurani kami
Agar kau memahami tumpah darah kami
Agar kau memahami arti kelestarian pegunungan meratus
Gunung batubara runtuh menjadi danau kubangan bumburaya
Meranti, lanan, ulin, para dijajah kelapa sawit menjadi halimatak
Dayak terperangkap dalam perangkap kabibitak
Dangsanak kuasapkan kemenyan lantaran balian kami telah mati
Saat di Rumah Budaya Kalimasada cuma menatap harap
Dan di Istana Gebang Blitar malam itu jadi berdua
Tapi aku melihat sebuah wajah di bunga sedap malam
Sepasang bola mata menetes di kelopaknya
Menetes bening di hatiku
Memberhalakan kebohongan
Terjadi bencana dan malapetaka
Berimbas pada orang yang tak berdosa
Orangorang seperti Dewi Kilisuci menyembunyikan janji
dan sumpahnya di balik singgasana jabatannya
Hingga Lembu Suro dan Mahesa Suro murka
Malam Kamis bencana yang kesekian kalinya
Tetapi adakah orangorang becermin pada malapetaka itu
Selain merundung nasib
Kejujuran yang dinista
Negri yang malang
Lenyap pandangan mata
Hanya gulita
Tak cukup kata kata selain merenung
Masuk ke dalam jiwa
Ke dalam diri yang fana
Kamar kematian
Hidup kehilangan warna
Kehilangan makna
Pekat depan jendela
Sonder berdaun
Jendela hati
Membayangkan apakah akan dapat bercinta lagi
Kekasih :
Sampai ke batas fajar
Penghuni jiwa
Tak perlu lagi sebagai landasan hidup dan kehidupan
Sebab dari jaman peradaban keperadaban
Manusia lebih pandai membuat kitab undang undang
Sebab pikiran nafsu pada artokumulus
Tuhan diasingkan atau pun dipenjarakan
Sebab tujuan adalah berhala
Karena sengketa manusia tak pernah usai usai
Apa yang kau cari pada derita dan sengsara
Semata pikiran nafsu yang melata
Dan beringin tiga ratus tahun rumah ruhku
Tak ada lagi sengketa dalam pikiran nafsu
Semata nikmat hakikat cinta
Hanyalah satu
Walau seribu nama
Jalan membentang
Di mana bulan
Jatuh di sudut malam
Lantera wajah
Di tirai malam
Melukis kunang kunang
Sketsa semesta
Jalan membentang
Lantera wajah jiwa
Semesta cinta
Sketsa semesta
Adakah kau di sana
Lelawa terbang
Perjalanan dari kutub ke kutub
Tapi manusia itu telah mengingkari dirinya
Agama cuma di luar perilaku hidup dan kehidupannya
Dan jika mereka menegakkan keadilan
Niscaya tidak akan saling berseteru
Lalu berkali kali kerukunan umat beragama itu dibahasakan
Di tengah tengah hiruk pikuknya ideologisme
Namun pemahaman itu bersimpang jalan dari kebenaran
Dan kami sesungguhnya bukan golongan mereka
sepanjang peradaban manusia
Lalu apa yang kau cari kaum sekularis, sinkretis, zionis, pluralis
Selain mungkir
Sebab dari satu titik ke titik yang lain hanyalah garis lingkaran
Jika ideologimu jujur dan terbuka
Maka damailah di bumi damailah di langit
Janji memang tipu muslihat
Suara suara yang kau pungut adalah kuitansi kosong
Untuk dimanipulasi
Berhala setiap tindakan dan perbuatan
Apa yang kau banggakan di mata tuhan
Selain kemunafikan
Tapi adakah orang menyelami sampai ke dasarnya
Lalu bersyukur atas nikmat itu
Sampai ke kulminasi
Niscaya kau tak akan mendustakan ayat ayat itu
Sebab kasih sayang adalah inti dari cinta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar