edisi 12
Membuka mata kalbu
Menyempurnakan syahadat
Membetulkan arah kiblat
malam yang penuh fitrah
Tangan gemetar menadah
iwa yang pasrah
mengetuk pintu musyahadah
Malam ini kurebut hatinya
Allah Allah
Gunung Sagaling melahirkan Dusun Libaru
Danau kemilau danau kaca di kakinya
Waktu pagi membasuh mimpi
Humbut bangkala semanis masa kecil
Ingui kaririang di pohon para
Meletupkan buah para di panas hari
Melepaskan senja berganti malam
Menatap awan menatap negeri kasih didundangkan
Dundang kasih ibu bergayut angin berjuruh
Juruh alahai kasih ibu tak berhingga
Gunung Sagaling dan Dusun Libaru masuk wilayah Kabupaten HST Kalsel
Bangkala = sejenis pohon enau bentuknya sebesar lengan tumbuhan hutan.
Humbut = umbut
Ingui = suara mendayu
Kaririang = sejenis lalat besar
Dundang = tembang,nyanyian
Alahai = aduhai, duhai
Juruh = air aren yang dimasak kental menjadi gula
Pada tubuh
Kefanaan kian lusuh
Perjalanan yang teramat jauh
Persimpangan jalan pergumulan pikiran
Eksakta perhitungan semakin menjadi perhitungan
Adalah kemuskilan kesangsian kehidupan hanyalah cuma
Seperti mengejar bayang di sepanjang khatulistiwa
Perburuan senantiasa menjadikan perbudakan
Kejikaan tuak harapan
Maka apakah
Apa
Pada segala
Tawa dalam tangis
Tangis dalam seribu tanya
Garis takdir selalu menakdir kehidupan
Manusia pada batang tubuh
Fana tetaplah fana
Abadi yang
Ruh
Gaza Gaza
Gaza tanah nabi
Tak akan pernah mati
Walau beribubom kau jatuhkan disini
Negeri kami terus melahirkan para pejuang
Tanah suci tanah tempat kami menjemput syahadah
Darah kami yang tumpah tulangbelulang kami yang terserak
Adalah bendera negeri Palestina yang selalu berkibar
Jerit anakanak yang kehilangan orangtuanya
Perih orangtua kehilangan anaknya
Semesta kehilangan suara
Kehilangan hatinurani
Faris
Faris Audah
Dengan sebongkah batu
Tak gentar mengusir kaumzionis
Apakah dunia bermalu
Faris Audah
Faris
Pejuang cilik
Semangat tanah nabi
Gaza Gaza
Gaza
Buah Zaitun
Adalah darah Palestina
Aku bersumpah dalam firmanku
Tapi orangorang memperebutkannya karena serakah
Dan mendustakannya atas dirinya
Ialah munafikin kaumzionis
Hatinya iblis
Iblis
Demi Tin
Zaitun dan Thursina
Lahir anakaanak pejuang Palestina
Adalah bomwaktu bagi kaumzionis Israil
Batu di tangan anakanak Palestina yang dilontarkan
Adalah ayatayat firmanku yang melontar jumrah Aqabah
Kebencian yang meluluhlantakan tanah suci Palestina
Anakanak yang tersungkur di bawah bendera
Mereka wukuf di padang Arafah
Tetapi kau dustakan
Kau dustakan
Dusta
Demi Tin
Zaitun dan Thursina
Darah pejuang darahnya Palestina
Tak pernah mati
Demi Allah
Allah
Kusalibkan hidupku di dinding namamu
Tubuhku adalah darah tetesan dosa
Sengketa manusia
Kupantek kedua tanganku
Amin mengalir deras sujud di kakimu
Aku anak adam asal muasal dari firmanmu
Bajarmasin, 10 Agts 2014
Langkah yang diperhitungkan itu adalah arah
Hakikat kehidupan adalah tujuan
Maka jalan mana yang mesti ditempuh
Pejalan zahir pikir yang fakir
Hatta usia pun ke mana arahnya
Pada poros bumi yang berputar
Membetulkan harihari usia
Fana kembali kepada kefanaan
Di kota sungaisungai dibunuh rumah dibantai gedung
Perkantoran pabrik mall hotel dan ruko
Orangorang tidak menjadikan lagi masalah adanya bencana
Karena malapetaka hal yang sudah biasa
yang memaknai kehidupan ini
Aku merindukan pasar terapung yang kini semakin tenggelam
Dan entah di mana kuburnya rumarumah lanting
Aku merindukan kejernihan sungai kini pembuangan limbah pabrik
Dan debu batubara
Semasa kecilku tempat bermain
Aku merindukan istriku yang tumbuh di tepi sungai
Ketika sakit tak bisa disembuhkan oleh obat yang lain
Kecuali kawin dengan jingah itu dengan maharnya kain hitam
Menurut adat dinamakan kawin jingah
Aku pun sembuh dan tak pernah sakit lagi bermain mandi
dengan Kalimantan Tengah dan sejauh mata memandang
Tepian sungai Kuala Kapuas berderet bangunan megah
Dan gemerlap cahaya lampu membangkitkan kenangan masa lalu
: Kiki
Berontak dari pasungan lingkungan kehidupan
Alir Kali Brantas adalah darah yang mengalir dari tubuh
Mengalir sampai ke muaramuara jiwa
Lelatu aksara yang meletupletup dari jemari lentiknya
Terus kutulis puisi, katanya
Adalah hakikat perempuanku
Macapat demi negri
Ketika menulis puisi dalam pelukan tembang ibu pertiwi
Rahayu
Kota Malang kutanam keyakinan
Jejak langkah menapak jalan hanacharaka
Menyusur jalan datasawala
Di atas pelana lantang bersuara :
Arek arek jangan sampai padam api yang menyala di jiwamu
Api darah pahlawanmu yang tumpah menyala
Membuka lembaran sejarah
Tentara sekutu dan Belanda kembali ingin menjajah negri ini
Hangus dibakar semangat api yang berkobar
Tetapi kuda Mayangkara tetap tegar panas dan hujan
siang dan malam menerpa tubuhnya
Api tetap berkobar dalam jiwanya
Di sebuah kota yang megah bernama kota pahlawan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar