Minggu, 21 Juli 2024

 

Epilog : Oleh Usup Supriyadi

Yang Kudapati Saat Menginap Di Tiga Kamar Arsyad Indradi

Beberapa sajak Arsyad Indradi yang saya akrabi selalu berembel-embelkan (pada bagian judul) kata "Kamar." Saya sendiri tidak begitu tahu asal-muasal mengapa senantiasa menggunakan kata tersebut, dan hampir selalu mirip, misalnya, "Dalam Kamar 010", atau "Dalam Kamar 111." Ini menurut saya sebuah bentuk keaslian ekspresi dari seorang Arsyad Indradi, saya baru lihat-sejauh yang saya tahu-sajak-sajak seperti itu dalam hal judul. Dan apa yang dilakukannya adalah bagus dan sangat khas.

Ada dua kemungkinan barangkali, pertama ialah itu menandakan sebuah sajak yang ditulis memang benar di dalam kamar bernomer sekian dan sekian. Atau kamar di situ identik dengan ruang-batin si penyair, hal itu terindikasi dalam salah satu baris puisinya dalam sajak "Dalam Kamar 230" katanya, Getar bibir:/ Tuhan/ jangan kau tinggalkan aku//. Bisa pula berarti bulan. Lepas dari uniknya judul-judul tersebut, saya akan mencoba menginap lalu lenyap dalam kamar-kamar Arsyad Indradi berikut;

Dalam Kamar 111

Kubakar tubuhmu
Dalam pedupaan malam
Agar angananganku mencair
Jika besok mentari terbit
Tak pernah lagi menjadikan pudar kehidupan
 
Nyalamukah yang bergoyang dalam tatapan
Wanginya harum bibir pijar
Aku mendaki puncak letupan dadamu
Berpacu pada bubus asap nafasmu
 
Gerai rambut lelatu
Menguntai bara liar
Pada kamar nyala damar
Berturai menyibak kelam
 
Tubuhmutubuh tak lagi lelaki
Apa yang kau harap dari sembunyi
Inilah semata dusta semesta
 
Pada tarikan gorden penghabisan
Kau lepas burungburung di alir cahya
Dengan kepak dan kicau :
Selamat pagi wahai insan yang merindu
 
 
Malang 2011
 

 

Betapa alunan kata-kata yang melagu dan indah lagi menyentuh kalbu. Permainan diksinya begitu tepat, dan rimanya tidak terkesan dipaksakan. Benar-benar, natural. Jelas sekali sajak tersebut berisikan kesah hati yang dirumahkan dalam "kamar" tersebut, sehingga saya bisa memasukinya dan tinggal di dalamnya, tidak hanya itu, saya pun terhibur dengan ucapan "selamat" di akhir. Adakah pesannya? Secara singkat singkat kita semua adalah perindu, yang merindu "menyibak kelam" di "semesta" yang "semata dusta" betapa hal tersebut sesuatu yang tak bisa dibilang sakral ataupun profan. Namun, siapa saja yang melepas "burung" dalam hal ini adalah hati, ke "alir cahya" maksudnya jalan maha kuasa, maka betapapun mengerihkannya "bara liar" kita akan mendapati "nyala damar" di "kamar" mengucapkan "selamat."

Dalam Kamar 230

Tubuhmukah di atas tubuhku
Persis seperti dulu
Seperti akan menjadikan aku kembali berdua 
Getar bibir memetik katakata
Yang masih jelas kau untai
Di dinding kamar ingata 
Begitu tulus
Dalam dosa dan doa
Tubuhmu luka 
Aku pelita
Kehilangan cahaya
Tubuh nestapa 
Aku berlari apakah kau disana
ke loronglorong cuma kosong ke padangpadang cuma ilalang ke batubatu cuma batu
kupetik bintang cuma kunangkunang siapasiapa cuma dusta
Setelah itu tinggal bayang 
Tubuhmu masih di atas tubuhku
Getar bibir : Tuhan jangan kau tinggalkan aku 
Malang, 2011

Saya menyebut sajak di atas sajak manunggaling kawula gusti atau senggama sang hati dengan sang pemilik hati. Betapa jujur penyair membuka kita dengan ungkapannya, "begitu tulus/ dalam dosa dan doa/" tak peduli "tubuh(mu) tuhan luka" kita acapkali serius dalam dosa maupun doa. Tapi betapapun ironis dan paradoksisnya manusia, yakni kita, "getar bibir" dari dalam kamar jiwa, selalu berharap agar persenggamaan antara "aku" dan sang tuhan tidak kenal selesai. secara keseluruhan diksinya pun menawan, walaupun pada baris keempat belas terlalu panjang menurut saya.

 

 

Dalam Kamar 045

 

Kumasuki dirimu

Tenggelam ke dasar angan

Seperti seribu tahun

Musafir gila

 

Antara bumi dan langit

Hampa semata

Engkau semata entah

 

Dalam hampa aku merindu

Dalam entah aku menyeru

Semata hanyalah cuma

 

Dirimu ternyata jika

Saat kubuka jendela negri

Jendela hati sarat mimpi

 

Yogya, 2011 

Sajak yang ketiga yang memikat saya ini, terlihat singkat dan padat tapi begitu banyak sekat-sekat sehingga bisa melihat berbagai sisi dimensi. namun, saya menangkap bahwa sajak tersebut adalah tentang generasi penerus bangsa, ini mungkin tidak tepat. tapi saya ingin membacanya dari arah tersebut. kita adalah generasi bangsa yang penuh dengan mimpi-mimpi dan harapan yang begitu "masa depan" semua pemuda-pemudi bahkan para tetua yang masih setia tidak mau mengalah-atau lebih tepatnya masih nyari untung, di gedung-gedung yang serupa gudang di sana, kebanyakan hanya wacana "hampa semata" jika kita atau generasi yang mewacana itu tidak melakukan laku "jika" apa maksudnya dari laku jika? adalah usaha untuk mewujudkan "jendela hati sarat mimpi" tersebut. 

Saya bersyukur bisa membaca ketiga sajak Arsyad Indradi penyair yang lahir di Barabai yang menyajikan sajak-sajak yang bombai, dan begitu limbai. Mungkin itu juga karena Arsyad Indradi memang suka terhadap seni tari.

Ketiganya, bagi saya memuisi dan memuasi. lepas dari adanya kata-kata yang ejaannya tidak sesuai dengan KBBI. Saya harap Arsyad Indradi terus berkarya! dan sehat selalu. Amin. Berikut ini sajak yang bisa saya tulis dari hasil lenyap pada ketiga sajak di atas ter

Umbai

: Kepada Penyair Dalam Kamar a.k.a Arsyad Indradi

umbi-umbian masihkah mudah

didapatkan di pelosok-pelosok hutan

yang menjerit-pekik anak-anak itik

di hamparan kalimantan?

 aku melihat sebuah truk

mengangkut potongan-potongan

pohon berusia tua-lalu aku ingat

kamu berbadan pohon

banyak sungguh yang tak suka

kata bicara soal daun-daun,

embun-embun kita rabun

lalu membalurkan sabun pada tubuh

agar luruh semangat jatuh

 

tapi aku lihat kau masih setia

memanen rindu pada nyala tetabuhan

dan umbai dari penari di barabai

selalu kaupakai untuk mengajak

jejak agar ingat saat dijejakkan

 

rupanya benar

jangan tanya masih adakah

hingga nyata tak ada

tapi sebelum datang itu hilang

marilah kita menanam sekarang

Bogor, April 2012 


Usup Supriyadi

Salam!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar