Edisi 5
Muraqabah
Dalam Kamar 108
Alam tafakur
Malam menghantar hening
Kalbu berzikir
Pada malam malam yang hening
Kerinduan yang dalam senantiasa bermuraqabah
Ma’rifatullah penerang jalan menuju rumahmu
Panjatan doa harapan kasih sayang
Di Malam Hening
Balut tulang belulang
Dengan asmamu
Kurapal ayat hauqalah sebab aku yang fakir
Yang tak mampu menolong diri sendiri
Yang terperangkap dalam nista dunia
Kecuali pertolonganmu ya Allah
Malam yang fitrah
Tempat panjatan doa
Hamba yang fakir
Malang, 2013
41)
Di Kamar
204
Saat kusebut namamu
Bibirku bergetar
Sudah sedemikian lama alpa
Melusuhkan gorden jendela
Aku sudah tidak mau lagi terperangkap
Lalu membuka jendela
Sebab pada dinding kamar bias tingkapan
perjalanan
Adalah fatamorgana dusta semata
Kusebut namamu berupa rangkaian doa
Di kaca jendela : Aminku sujud di kakimu
Malang, 2013
42)
Relief di Kamar
103
Pada akhirnya
akan berlumut
Jika sejarah telah mati
Tak risau tangan gemetar
Meraup pasir katakata di ubin jejakkaki
Menempa tubuh batupuisi
Kupetik daun jendela lalu kuserbukkan
Pada linang usia
Kala kaca membayang
Mentari terbenam ke perut bumi
Siapa gerangan
Yang menutup gorden jendela
Sehingga tubuhku di dinding kamar
Menjadi sumbu damar
Biarkan lampaudemilampau, katamu
Lumut beranakpinak
di nisan sejarah
Namun tubuhmu tak pernah mati
Pada dinding hati sang kekasih
Jakarta, 2013
43)
Kamar 214
Jangan ditutup jendela sebelum kaca jendela mengusai
riwayatnya
Tubuhku yang hanyut di arus usia hanyut dalam gumpalan
warna senja
Diperjalanan waktu tubuhku kaku tak mampu
menyelamatkannya
Saat lembayung luruh di sepanjang lintas jalan melangkah
Saat aku tak mengenal lagi kau sesiapa ruh pada gelisah
Pada nafasku dalam samar caya di balik gorden jendela
Entah berapa sudah ubin kehidupan retak dan pecah
Pada tapakkaki menyimpan dukalara yang luput dari arah
Kamar mulai gelita si pendosa menatap kaku tubuhnya
Mampukah mulai bercinta lagi duh jiwa yang sunyi
Riwayat janganlah berusai kala rabun kaca bias gerimis
senja
Jejaklangkah kembali menyusur hakikat cinta pada sosok
tubuh fana
Pasuruan, 2013
44)
Di Kamar
Ini Kucing Mengeong
Hanyalah kucing
Tidak ada kekuatan hukum untuk menghukum tidak ada hak
mengadili walau punya keadilan tapi tak pernah surut semangat nyali anti tikus
berdasi
Negri ini harus dicinta harus dibela ngeaw tubuhnya
melenting matanya api menggeram mendesis kukunya mencakarcakar lantai. Aumnya
jerit fakirmiskin yang lapar keluh anak bangsa
yang terasing di negri sendiri. Geramnya kesumat ngeaw diterkamnya televisi itu
dicakarnya digigitnya. Matanya liar mengendapendap mencari celah untuk
menerobos ke dalam layar kaca. Di sidang pengadilan ini tikustikus itu seperti berada di ruang
diskotik di sini tidak ada lagi moral rasa malu dan dosa. Ngeaw. Lengking panjang manakala sidang pengadilan
itu diskor dan kapan tuntasnya. Kucing
itu masih di muka layar televisi semangat nyalinya anti korupsi tak pernah mati
Blitar,2013
45)
Dalam Kamar
144 : Membuka jiwa
Alam bersabda
Belajar dari gagak
Kasih dan cinta
Setiapkali membuka jendela
Lidah senatiasa dusta
Menampar kaca jendela
Kupunguti usiaku luka luka
Di ubin jejak berserakporanda
Alir darah perih membuncah
Merintis jalan
Ke rumah masa depan
Lengsernya senja
Ranjang diri tiada lagi ranjang jiwa
Cinta kehilangan hakikatnya
Dalam keluhkesah gulita malam
Aku ingin pulang
Pada sujud pada kiblatku
Kembali lahir dari rahimmu
Membuka jiwa
Khusyu’ di dalam hening
Hakikat hayat
Malang, 2013
46)
Di kamar
Suatu Malam Seribu Bulan
Angin serupa tangis berkhabar
Banyak memberhalakan kebohongan
Setiap geraklangkah kehidupan duniawi
Adakah kau dengar firmannya
Langit bertaburan kembang api
Arakarakan sepanjang jalan
Merebut anugerah kemuliaannya
Adakah kau baca tandatanda pada ayatnya
Menyingkap goden jendela becermin pada kaca
Iktikaf si pendosa adakah lagi airmata
Perihdukanya dalam sujud dan doa
Ubin lantai taqarrub sajadahkalbunya
Tidak kah kau baca
Lailatul Qadar anugerah sesiapa saja
Yang memiliki kesempurnaan syahadat
Dalamnya iman dan taqwa
Firman mana yang kau dustakan
Bbaru, 2013
47)
Dalam
Kamar Meditasi Mencari Asal Usul
Siapa aku sesungguhnya
Sebegitu terlahir ke dunia ini
Sebab perjanjian tak tersurat pada takdir
Sewaktu masih segumpal darah
Pada cermin kaca jendela wajah resah
Pada tutup daun jendela jiwa gelisah
Hidup tanpa arti untuk apa hidup
Mati tanpa arti untuk apa mati
Diri begitu terasing pada diri
Dalam suram mata terpejam
Dalam pejam sedalam diam
O alangkah entahnya aku ini
Kucari di bayang bergoyang
Di dinding kamar yang membayang
Kusibak sapu ubin lantai tiada jejak
Kubaringkan tubuh di ranjang mimpi luruh
Di kamar mandi menyuci diri
Air airmata mataair lubuk sanubari
Tuhan aku kah anak Adam itu
Seperti dalam firmanfirmanmu
Bbaru,2013
48)
Aku Benci
Kamar Ini
Kamar ini dinginnya sampai ke tulang sumsum
Tak ada perapian mencairkan batang tubuhku
Kemana tubuhmu kutunggu di ranjang waktu
Seekor burung masuk di kaca jendela
Tubuhnya berwarna senja
Sunyi mengepak ke ruangruang sepi
Kuluruhkan bulubulu tubuhmu
Kuluruhkan ke tubuhku dan kugosokgosok
Sampai memunceratkan aduhnya risau
Apakah nafasku telah mati
Iyyasyahhu iyyah iyyahhu syiii
Jangan kau tatap aku begitu kekasih
Banjarbaru, 2013
49)
Kamar Kama
Sutra
Kekasih mengasih sayang kepayang
Ombakombak kasih pada membuih
Di pantai berlaut kasih sayang
Seekor
capung hinggap di sepotong bulan
Di
malam berbunga sedap malam
Aw
kau kah yang mengintip di balik awan
Bintang berkata betapa agungnya cinta
Di dinding kamar kutulis sebuah nama
Dari r
Alam tafakur
Malam menghantar hening
Kalbu berzikir
Pada malam malam yang hening
Kerinduan yang dalam senantiasa bermuraqabah
Ma’rifatullah penerang jalan menuju rumahmu
Panjatan doa harapan kasih sayang
Di Malam Hening
Balut tulang belulang
Dengan asmamu
Kurapal ayat hauqalah sebab aku yang fakir
Yang tak mampu menolong diri sendiri
Yang terperangkap dalam nista dunia
Kecuali pertolonganmu ya Allah
Malam yang fitrah
Tempat panjatan doa
Hamba yang fakir
Malang, 2013
41)
Di Kamar
204
Saat kusebut namamu
Bibirku bergetar
Sudah sedemikian lama alpa
Melusuhkan gorden jendela
Aku sudah tidak mau lagi terperangkap
Lalu membuka jendela
Sebab pada dinding kamar bias tingkapan
perjalanan
Adalah fatamorgana dusta semata
Kusebut namamu berupa rangkaian doa
Di kaca jendela : Aminku sujud di kakimu
Malang, 2013
42)
Relief di Kamar
103
Tak risau tangan gemetar
Meraup pasir katakata di ubin jejakkaki
Menempa tubuh batupuisi
Kupetik daun jendela lalu kuserbukkan
Pada linang usia
Kala kaca membayang
Mentari terbenam ke perut bumi
Siapa gerangan
Yang menutup gorden jendela
Sehingga tubuhku di dinding kamar
Menjadi sumbu damar
Biarkan lampaudemilampau, katamu
Lumut beranakpinak
di nisan sejarah
Namun tubuhmu tak pernah mati
Pada dinding hati sang kekasih
Jakarta, 2013
43)
Kamar 214
Jangan ditutup jendela sebelum kaca jendela mengusai
riwayatnya
Tubuhku yang hanyut di arus usia hanyut dalam gumpalan
warna senja
Diperjalanan waktu tubuhku kaku tak mampu
menyelamatkannya
Saat lembayung luruh di sepanjang lintas jalan melangkah
Saat aku tak mengenal lagi kau sesiapa ruh pada gelisah
Pada nafasku dalam samar caya di balik gorden jendela
Entah berapa sudah ubin kehidupan retak dan pecah
Pada tapakkaki menyimpan dukalara yang luput dari arah
Kamar mulai gelita si pendosa menatap kaku tubuhnya
Mampukah mulai bercinta lagi duh jiwa yang sunyi
Riwayat janganlah berusai kala rabun kaca bias gerimis
senja
Jejaklangkah kembali menyusur hakikat cinta pada sosok
tubuh fana
Pasuruan, 2013
44)
Di Kamar
Ini Kucing Mengeong
Hanyalah kucing
Tidak ada kekuatan hukum untuk menghukum tidak ada hak
mengadili walau punya keadilan tapi tak pernah surut semangat nyali anti tikus
berdasi
Negri ini harus dicinta harus dibela ngeaw tubuhnya
melenting matanya api menggeram mendesis kukunya mencakarcakar lantai. Aumnya
jerit fakirmiskin yang lapar keluh anak bangsa
yang terasing di negri sendiri. Geramnya kesumat ngeaw diterkamnya televisi itu
dicakarnya digigitnya. Matanya liar mengendapendap mencari celah untuk
menerobos ke dalam layar kaca. Di sidang pengadilan ini tikustikus itu seperti berada di ruang
diskotik di sini tidak ada lagi moral rasa malu dan dosa. Ngeaw. Lengking panjang manakala sidang pengadilan
itu diskor dan kapan tuntasnya. Kucing
itu masih di muka layar televisi semangat nyalinya anti korupsi tak pernah mati
Blitar,2013
45)
Dalam Kamar
144 : Membuka jiwa
Alam bersabda
Belajar dari gagak
Kasih dan cinta
Setiapkali membuka jendela
Lidah senatiasa dusta
Menampar kaca jendela
Kupunguti usiaku luka luka
Di ubin jejak berserakporanda
Alir darah perih membuncah
Merintis jalan
Ke rumah masa depan
Lengsernya senja
Ranjang diri tiada lagi ranjang jiwa
Cinta kehilangan hakikatnya
Dalam keluhkesah gulita malam
Aku ingin pulang
Pada sujud pada kiblatku
Kembali lahir dari rahimmu
Membuka jiwa
Khusyu’ di dalam hening
Hakikat hayat
Malang, 2013
46)
Di kamar
Suatu Malam Seribu Bulan
Angin serupa tangis berkhabar
Banyak memberhalakan kebohongan
Setiap geraklangkah kehidupan duniawi
Adakah kau dengar firmannya
Langit bertaburan kembang api
Arakarakan sepanjang jalan
Merebut anugerah kemuliaannya
Adakah kau baca tandatanda pada ayatnya
Menyingkap goden jendela becermin pada kaca
Iktikaf si pendosa adakah lagi airmata
Perihdukanya dalam sujud dan doa
Ubin lantai taqarrub sajadahkalbunya
Tidak kah kau baca
Lailatul Qadar anugerah sesiapa saja
Yang memiliki kesempurnaan syahadat
Dalamnya iman dan taqwa
Firman mana yang kau dustakan
Bbaru, 2013
47)
Dalam
Kamar Meditasi Mencari Asal Usul
Siapa aku sesungguhnya
Sebegitu terlahir ke dunia ini
Sebab perjanjian tak tersurat pada takdir
Sewaktu masih segumpal darah
Pada cermin kaca jendela wajah resah
Pada tutup daun jendela jiwa gelisah
Hidup tanpa arti untuk apa hidup
Mati tanpa arti untuk apa mati
Diri begitu terasing pada diri
Dalam suram mata terpejam
Dalam pejam sedalam diam
O alangkah entahnya aku ini
Kucari di bayang bergoyang
Di dinding kamar yang membayang
Kusibak sapu ubin lantai tiada jejak
Kubaringkan tubuh di ranjang mimpi luruh
Di kamar mandi menyuci diri
Air airmata mataair lubuk sanubari
Tuhan aku kah anak Adam itu
Seperti dalam firmanfirmanmu
Bbaru,2013
48)
Aku Benci
Kamar Ini
Kamar ini dinginnya sampai ke tulang sumsum
Tak ada perapian mencairkan batang tubuhku
Kemana tubuhmu kutunggu di ranjang waktu
Seekor burung masuk di kaca jendela
Tubuhnya berwarna senja
Sunyi mengepak ke ruangruang sepi
Kuluruhkan bulubulu tubuhmu
Kuluruhkan ke tubuhku dan kugosokgosok
Sampai memunceratkan aduhnya risau
Apakah nafasku telah mati
Iyyasyahhu iyyah iyyahhu syiii
Jangan kau tatap aku begitu kekasih
Banjarbaru, 2013
49)
Kamar Kama
Sutra
Kekasih mengasih sayang kepayang
Ombakombak kasih pada membuih
Di pantai berlaut kasih sayang
Seekor
capung hinggap di sepotong bulan
Di
malam berbunga sedap malam
Aw
kau kah yang mengintip di balik awan
Bintang berkata betapa agungnya cinta
Di dinding kamar kutulis sebuah nama
Dari ranjang kenangan risalah cinta
Barabai, 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar