Minggu, 21 Juli 2024

 

Edisi 8


Saat Menunggu Kereta Api
 
Di stasionsunyi. Sepi gemuruh di hati
Semata gelap. Senyap. Tak ada secelah pun tersisa
Tubuhtubuh adalah rongsokkan relkeretaapi
Bergelantung lawalawa. Memintal malam buta
 
Menyusur dinding sunyi . Mata kehilangan kota
Katakata cuma debu fatamurgana. Rumahkardus
Leleh nafas orangorang berselimutmimpi
Penghuni mencari negerinya. Entah kemana
 
Menunggu puput perhentian waktu. Luput
Masih juga gemuruh itu tak usaiusai. Renyai
Merenung bayang ditelan malam. Kelam
Rumahgerbongsunyi . sesungguhsungguhnya sunyi
 
Sekali lagi menunggu puput itu berbunyi
Pada secangkir kopi yang hitam mengental
Waktu merayap dari bangku kebangku
Persis seekor ular di ujung stasion waktu
 
Purworejo, 2013
 
 
 
71
 
Di Stasion Kutoarjo
 
Tidak menjadi bosan menunggu jam satu malam
Secangkir kopi di café Neng Iyem mata jadi melek
Melirik lionting yang tergantung di leherku
Aku suka Batu akik, katanya
Borneo kaya akan batu permata
 
Waktu terus juga berjalan, kulihat
Matanya mengaca : Seandainya aku di Borneo
Aku akan mendulang, katanya
Mendulang cinta, kataku. Dia tersenyum sipu
 
Sesayup puput Prameks di  keheningan malam
Stasion Kereta Api Kutoarjo sontak terbangun
Ular yang melata mendesis di rel pintu keberangkatan
Sisiknya yang hijau membuka lebar
 
Dari kaca jendela
Neng Iyem serupa setangkai bunga
Aku membaca lambaian tangannya
Liontin akik tergantung di lehernya
 
Purworejo,2013
 
 
 
 
72
 
Payung Di Tirai Hujan
 
Di dalam tirai hujan
Berpayung menapak jalan
Bibir merah tumpuan harapan
Berhenti di halaman sebuah hotel
 
Kota berselimut sepi
Lampu jalanan kian buram
Kembali menapak sebuah jalan
Di bawah payung di dalam tirai hujan
 
Hanyalah sebuah payung
Mengantar jalan kehidupannya
Senyum dan tawa adalah pahit dan getir
Perempuan itu terus berjalan hilang ke balik malam
 
Malang, 2013
 
 
 
73
 
Waktu Senja Lewat Kaca Jendela Selembar Daun Lepas Dari Ranting
 
Terdengar jerit
Melayang layang ditiup angin
Dan jatuh ke tanah basah
 
Adalah selembar daun
Selembar daun
Kudengar diriku mengaduh
 
Paringin. 2013
 
 
 
 
 
 
 
74
 
Kamar 104
: Merlin
 
Setelah itu kau padamkan lampu
Lalu membaringkan tubuh di tubuhku :
Akan kulahirkan anak puisi
Bawalah jauh ke dalam musafir mimpi
 
Lalu kita pun mendaki gunung Bromo malammalam
Di bawah gugusan bintang dan seraut bulan
Lalu membiarkan tubuh rebahan di puncak berumput hijau
Agar mengerti hakikat cinta sesungguhnya
 
Setelah itu di setiap ujung daun di tubuh
Menetes embun kasih sayang
Sejuk di alir tarikan nafas dalam bersitatap
Kita pun metutup riwayat malam
Bening di cermin kaca jendela
 
Purwosari, 2013
 
 
 
75
 
 
Dalam Kamar Ini Kutulis Puisi
 
Sudah berapa kali kami sampaikan
Pada setiap hari guru
Tapi kalian menjawab tunggu
Dan kami selalu sabar
Kalian hibur dengan kata kata :
Pahlawan tanpa tanda jasa
Kalian buai dengan hymne guru
Dalam segudang program dan proyek
Tapi kalian melaksanakannya ecek ecek
 
Kalian siasati menyejahterakan guru
Memberi kami sampai golongan empat
Pangkat jenderal ternyata setara kopral
Kalian siasati dengan sertifikasi
Tapi diam diam kalian pangkas di sana sini
 
Setiap ganti menteri
Kami selalu kehilangan keseimbangan
Sebab silabus dijadikan kelinci percobaan
Pendidikan moral kalian sepelekan
 
Kami terperangkap pemerintahan otonomi
Karena kepentingan kalian 
Kalian beri kami pemimpin bukan ahlinya
Tak beres etos kerjanya
Setiap kami ingin bertemu kalian
Birokrasi duri duri jalan
Sungguh kami mudah bertemu tuhan
Kalian tak pernah mengerti perjalanan pasti ada perhentian
 
Pati, 15 Nov 2013
 
 
 
76
 
Ada Damai : Pati-Surabaya
 
Antara Pati-Surabaya
Bus meluncur dengan cepat
Penumpang penuh sesak sampai bergelantungan
Seorang ibu muda terjepit ketika bus menikung jalan
Anaknya dalam gendongan menjerit ketakutan
Sepanjang jalan anaknya menangis dan ibunya kepayahan
 
Entah apa aku berdiri dari kursi
Dan menarik ibu muda itu agar duduk di kursiku
Dan entah apa aku merasa suka bergelantung
 
Di kanan kiri jalan
Rumahrumah, pepohonan dan perkampungan
Serupa bayang bayang dilintas dengan cepat
Aku lalu baca puisi berpacu dengan kecepatan bus
 
Dalam kehidupan waktu yang berlari meninggalkan jejak
Langkah setiap saat dapat merubah nasib dalam garisan takdir
Sebab hidup bukanlah sewaktu mati
Dan mati sewaktu hidup
 
Antara Pati-Surabaya
Antara gemuruh jalannya bus
Kudapatkan kedamain hidup dan kehidupan
Dalam tarikan nafas seorang bayi yang tertidur pulas
Dalam pangkuan ibunya
 
Pati-Surabaya, 2013
 
 
77
 
Kamar 015
 
Kamar ini begitu remang
Agar bulan masuk kusingkap gorden jendela
Namun percakapan ini belum selesai
Bulan sudah di balik awan
 
Dinding serupa bongkahan sunyi
Dan meleleh di ubin lantai
Melanjutkan percakapan ini
Kembali saling bersitatap
 
Music diskotek di ruang sana
Dan gaduh terminal bus
Mencari celah masuk kamar
Kamar seisi remang
 
Bersitatap raga dan jiwa
Musafir yang tiada letih
Menapak jalan kehidupan
 
Bungurasih,2013
 
 
 
78
 
Kamar 112 : Kali Brantas
 
Selepas bulan di awan
Aku terjun ke Kali Brantas
Serupa ikan lele berenang
Dan menyelam masuk ke rahimnya
 
Melunas kerinduan yang mengganjal di hati
Tak usaiusai dalam perjalanan batin
Tubuh yang jatuh bangun tubuh yang berdaki
Dunia cuma selalu entah
 
Selalu entah
Menjadikan detak waktu semakin peot
Semakin jauh yang bernama engkau
Lari ke warna merahnya  senja
 
Melebur diri :
Jiwa yang tak ubahnya balingbaling angin
Dalam hembusan nafas
Dalam alir darah
 
Bulan jatuh di kamar di pembaringan jiwa
Kali Brantas adalah seorang ibu yang santun
Melahirkan anak puisi
Anak musafir
 
Malang, 2013
 
 
 
79
 
Kamar Pulang
 
Kehilangan keperempuanan di antara rindu dan dendam
Hidup yang membantai kehidupan dari ranjang ke ranjang
Dan senyum hanyalah pertaruhan nilai tubuh semata
Yang menyembunyikan perihnya airmata dari tetesan dosa
 
Hari selain sesal rindu membuncahkan tempat kelahiran
Perihnya jiwa adalah tubuh yang semakin meluka usia
Alir nafas kembali mencari jalan di jalan kota yang batu
Menuju hakikat diri yang terbuang jauh dari diri sendiri
 
Ingin perempuanku seperti perempuan yang lain
Kubuka jendela jiwa dan doa membasuh jalan arah
Di ubin lantai airmata sajadah membuka matahati
Pulang ke rahim diri dan akan kulahirkan kembali
Sidoarjo, 2013
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar