Edisi 8
Saat Menunggu Kereta Api
Semata gelap. Senyap. Tak ada secelah pun tersisa
Tubuhtubuh adalah rongsokkan relkeretaapi
Bergelantung lawalawa. Memintal malam buta
Katakata cuma debu fatamurgana. Rumahkardus
Leleh nafas orangorang berselimutmimpi
Penghuni mencari negerinya. Entah kemana
Masih juga gemuruh itu tak usaiusai. Renyai
Merenung bayang ditelan malam. Kelam
Rumahgerbongsunyi . sesungguhsungguhnya sunyi
Pada secangkir kopi yang hitam mengental
Waktu merayap dari bangku kebangku
Persis seekor ular di ujung stasion waktu
Secangkir kopi di café Neng Iyem mata jadi melek
Melirik lionting yang tergantung di leherku
Aku suka Batu akik, katanya
Borneo kaya akan batu permata
Matanya mengaca : Seandainya aku di Borneo
Aku akan mendulang, katanya
Mendulang cinta, kataku. Dia tersenyum sipu
Stasion Kereta Api Kutoarjo sontak terbangun
Ular yang melata mendesis di rel pintu keberangkatan
Sisiknya yang hijau membuka lebar
Neng Iyem serupa setangkai bunga
Aku membaca lambaian tangannya
Liontin akik tergantung di lehernya
Berpayung menapak jalan
Bibir merah tumpuan harapan
Berhenti di halaman sebuah hotel
Lampu jalanan kian buram
Kembali menapak sebuah jalan
Di bawah payung di dalam tirai hujan
Mengantar jalan kehidupannya
Senyum dan tawa adalah pahit dan getir
Perempuan itu terus berjalan hilang ke balik malam
Melayang layang ditiup angin
Dan jatuh ke tanah basah
Selembar daun
Kudengar diriku mengaduh
: Merlin
Lalu membaringkan tubuh di tubuhku :
Akan kulahirkan anak puisi
Bawalah jauh ke dalam musafir mimpi
Di bawah gugusan bintang dan seraut bulan
Lalu membiarkan tubuh rebahan di puncak berumput hijau
Agar mengerti hakikat cinta sesungguhnya
Menetes embun kasih sayang
Sejuk di alir tarikan nafas dalam bersitatap
Kita pun metutup riwayat malam
Bening di cermin kaca jendela
Pada setiap hari guru
Tapi kalian menjawab tunggu
Dan kami selalu sabar
Kalian hibur dengan kata kata :
Pahlawan tanpa tanda jasa
Kalian buai dengan hymne guru
Dalam segudang program dan proyek
Tapi kalian melaksanakannya ecek ecek
Memberi kami sampai golongan empat
Pangkat jenderal ternyata setara kopral
Kalian siasati dengan sertifikasi
Tapi diam diam kalian pangkas di sana sini
Kami selalu kehilangan keseimbangan
Sebab silabus dijadikan kelinci percobaan
Pendidikan moral kalian sepelekan
Karena kepentingan kalian
Kalian beri kami pemimpin bukan ahlinya
Tak beres etos kerjanya
Setiap kami ingin bertemu kalian
Birokrasi duri duri jalan
Sungguh kami mudah bertemu tuhan
Kalian tak pernah mengerti perjalanan pasti ada perhentian
Bus meluncur dengan cepat
Penumpang penuh sesak sampai bergelantungan
Seorang ibu muda terjepit ketika bus menikung jalan
Anaknya dalam gendongan menjerit ketakutan
Sepanjang jalan anaknya menangis dan ibunya kepayahan
Dan menarik ibu muda itu agar duduk di kursiku
Dan entah apa aku merasa suka bergelantung
Rumahrumah, pepohonan dan perkampungan
Serupa bayang bayang dilintas dengan cepat
Aku lalu baca puisi berpacu dengan kecepatan bus
Langkah setiap saat dapat merubah nasib dalam garisan takdir
Sebab hidup bukanlah sewaktu mati
Dan mati sewaktu hidup
Antara gemuruh jalannya bus
Kudapatkan kedamain hidup dan kehidupan
Dalam tarikan nafas seorang bayi yang tertidur pulas
Dalam pangkuan ibunya
Agar bulan masuk kusingkap gorden jendela
Namun percakapan ini belum selesai
Bulan sudah di balik awan
Dan meleleh di ubin lantai
Melanjutkan percakapan ini
Kembali saling bersitatap
Dan gaduh terminal bus
Mencari celah masuk kamar
Kamar seisi remang
Musafir yang tiada letih
Menapak jalan kehidupan
Aku terjun ke Kali Brantas
Serupa ikan lele berenang
Dan menyelam masuk ke rahimnya
Tak usaiusai dalam perjalanan batin
Tubuh yang jatuh bangun tubuh yang berdaki
Dunia cuma selalu entah
Menjadikan detak waktu semakin peot
Semakin jauh yang bernama engkau
Lari ke warna merahnya senja
Jiwa yang tak ubahnya balingbaling angin
Dalam hembusan nafas
Dalam alir darah
Kali Brantas adalah seorang ibu yang santun
Melahirkan anak puisi
Anak musafir
Hidup yang membantai kehidupan dari ranjang ke ranjang
Dan senyum hanyalah pertaruhan nilai tubuh semata
Yang menyembunyikan perihnya airmata dari tetesan dosa
Perihnya jiwa adalah tubuh yang semakin meluka usia
Alir nafas kembali mencari jalan di jalan kota yang batu
Menuju hakikat diri yang terbuang jauh dari diri sendiri
Kubuka jendela jiwa dan doa membasuh jalan arah
Di ubin lantai airmata sajadah membuka matahati
Pulang ke rahim diri dan akan kulahirkan kembali
Sidoarjo, 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar