Edisi 2
Kamar Melati
Saat gerimis pagi membuka mimpi
Melati yang kau tanam di taman hati
Bulan berenang di wajah Mahakam
Serupa arwana mengibasngibas ekornya
Saat kubuka jendela kucium aromanya
Membingkai di kaca serupa rupa
Kueja sederet kata memakna nama
Setiap tetes gerimis rindu terlukis
Bias gerimis tipis sungguh mengiris
Tak mampu masuk ke dalam masa silam
yang terpendam dalam lipatan kelam
Melati kutafsir sebuah mimpi
Samarinda, 2011
11)
Gunung Lipan Kamar 014
Sebuah negeri dari keringat dan darah
Dari tulangbelulang galian sejarah nenek moyang
Anggang dijunjung tinggi di tiang balai
Adalah cinta negeri etam turuntemurun
Dari kaca jendela becermin menjenguk ke dasar diri
Membaca rawi mantera yang telah diajarkan
tersurat di wajah Mahakam urat nadi gunung yang batu
hutan yang rimba bukit yang lembah
Gunung Lipan ribuan lipan yang merubah rupa
Gemerlap manik tudung saji jantungnya kota
Satu persatu lepas dari tubuhnya
Etam kehilangan tanah pusaka
Gunung yang menyimpan batubara runtuh
Hutan yang menyimpan rimba luluh
Mahakam jadi kubangan tonggkang hitam
Wajahnya yang jernih hitam legam
Gelondong pohon serupa buayabuaya tenggarong
Kau tak pernah menahu kesedihan etam
Karena kau halimatak yang tamak
Suatu masa etam menyempurnakan damak
Damak menyempurkan keadilan
Samarinda, 2011
12)
Di Kamar 127
Memandang jembatan Ampera teringat Bung Karno
Memandang rumah apung teringat tanah Banjar
Mekar senyum mengalir di alir Sungai Musi
Di gigir pantai Bentang Kuto Besak perkasa nian
Dan museum Sultan Mahmud Badaruddin II
Mencatat sejarah itu sejarah Sungai Melayu
Lewat jendela sejarah kubaca batang tubuh Lembang
Anak kecil nan elok lahir dari rahim Sungai Melayu
Di asuh putri cantik jelita Putri Ayu Sundari
Dan diasahasih Sang Sapurba juriat Iskandar Zulkarnain
Maka ramailah orangorang ke Palembang
Di arus Sungai Musi kudengar dendang
Bukit Seguntang Mahameru :
Cindonyo rai cindo la kato bebaso dimano juo
Lalu aku berketek di dayu angin :
Sarumpun tanah malayu Ikatsimpul kita basatu
Di tengah hirukpikuknya lalulalang di jembatan Ampera
Hirukpikunya lalulalang di Sungai Musi
Orangorang bergegas membahasakan nasib jembatan itu
Seperti membahasakan nasib seorang tua yang renta
Palembang, 2011
13)
Sampan Cinta Di Sungai Musi
: Dimas Arika Mihardja,Diah Hadaning, D.Kemalawati
Kita tampung airmata rindu kita
Jadi sampan kasih sayang
Di alir musi dilabuhkan
Kayuh batin ke palingmuara
Sekali pun ajal tiba
Tak mampu menenggelamkan
Cinta yang telah dilabuhkan
Di sini, di ruh kita
14)
Di Kamar Pintu
Angin yang lembut
Burung riang berlagu
Di kota Tebo
Nyanyian pagi
Berkayuh ketek di Danau Sigombak merdu kecipak ombak
Sekawan angsa putih terjun ke danau
Cahya pagi yang memantul di alir air kemilau
Kaki melangkah kata bismillah
Risalah batin yang membentang langit biru
Kota yang memberi danau kemilau
Harumnya narasi pagi
Aliran napas
Harum narasi pagi
Untaian zikir
Tafakur di ubin lantai
Makam Sultan Thaha Saifuddin, kubaca sejarahnya
Seperti aku membaca Sultan Adam yang bermakam di hatiku
Negri seloka menyimpan tanah pilih
Di kedalaman jantungnya
Kuasapkan harum setanggi di prasasti
Wajah tak pernah pupus dalam sanubari
Duduk bersimpuh masuk dalam percakapan batin saling merindu
Hari yang berjatuhan dan lenyap ditiup waktu tapi kau masih seperti dulu
Sahabatku : Ari Setya Ardhi
Dalam puisi
Ari Setya Ardhi
Tak pupus waktu
Nyanyian pagi masih berembun di daun daun
Danau Sigombak taman angsa angsa
Melahirkan cinta dan kasih sayang
Angsa berenang
Di kota Tebo
Tebo, 2011
15)
Dalam Kamar DAM
Di ranjang kehidupan
Kami tidur berdua satu jiwa
Memakna riwayat rindu kesumat
Kemana menghilang, bisikmu
Tidakkah kau beri aku mimpi, jawabku
Kau mengakak purapura tak tahu
Aku mencuri intip
Dua bidadari mandi di Batanghari
Lan Lan dan Yessika adalah api katamu
Membakar kita terus berkarya
Pagi itu aku mempelajari diri
Pada sebingkai potret diri
Dilukis Nabila Dewi Gayatri katamu
Sungguh elok makna persahabatan
Jambi, 2011
16)
Dalam Kamar 229
: Lis
Di Kali Berantas
Tanpa layar tubuh hanya semata dayung
Tak sekali panas tak sekali hujan
Dan tak pernah lagi menghitung entah berapa lengsernya malam lengsernya siang
Angin yang menggemuruhkan ombak tak sekali melempar ke tepian
Terus juga mencari muara di arus airmata
Adakah muara di kedalaman anganangannya
Kali Berantas yang semakin dangkal dan tanpa diduga meluap
Dan entah ke mana menyurutnya
Senja itu seketika aku terpana
Ada serupa dermaga di kaca jendela
Di kaca aku berkaca wajahmu luka
Kali Berantas menjadikan kamar ini danau riwayat
Kita cuci perihnya luka di kedalaman danau sepanjang senja
Dari keterasingan mata orangorang dari sebuah negeri yang gagal
Pada lembayung penghabisan kita tutup jendela
Tangan yang tak pernah terkulai mencari muara
Kali Berantas tempat berlabuh sebuah makna cinta
Malang, 2012
17)
Pelangi Di Dinding Kamar 227
Gerimis tak redareda di kaca jendela
Membuka kunci risalah yang kukembojakan
Di wajahbatumu epitaf masa silam lalu membias
Tak sempat aduhku di buram kaca
Perempuan bermata jambon menggendong anaknya
Pelangi yang membusur ribuan warna
Aku hanyut dalam tembangnya
Kukatupkan mata menatap jambonnya
Pelangi mengapungkan aku pada cairan warna
Menggali cinta dalam kamar hampa
Perempuan itu dalam tangis gerimis menatap anaknya
Tidur dalam pangkuanku
Sampai senja habis dan gerimis menipis
Anak puisiku masih lelap dalam dekap
Ibunya begitu pelan menutup gorden jendela
Agar kelopak kemboja tidak jatuh di keningnya
Malang, 2012
18)
Laron berzikir Dalam Kamar 227
Di kaca jendela bau cendana
Laron merubung lampu kamar
Sayapsayap yang patah menggelepar
Luruh : Jangan kau padamkan pijar
Sajadah cahaya menuju segala maha
Tangis duka cendana mencari makna
Bumi dan langit yang telah menjadi hampa
Sesudah itu kembali berpadu dalam pijar cahaya
Kupunguti sayapsayap yang luruh
Dalam aminku yang penuh
Kaca jendela cermin hati yang teduh
Malang, 2012
19)
Dalam Kamar 149
: Tatik
Seperti harikehari
Kali Brantas mengaruskan seribu rahasia kehidupan
Menghanyutkan ke palinghilir
Membayangkan ruang kamar sebuah muara
Seperti halnya semesta dalam galau cuaca
Setelah tercebur dan hanyut
Tak tahu lagi entah berapa senja sudah ada disini
Di batubatu kali bayang fatamorgana
Di kaca jendela seperti tangis dalam gerimis
Kehabisan airmata kehabisan katakata
Di atas ranjang waktu masih terdengar kesumat rindu sampai dipalingalir lalu gerimis itu sampai memburamkan kaca jendela sampai mencair butiran duka basah di wajahmu basah dalam pelukanku
Jangan biarkan tubuhmu jadi arca gelisah lukaluka jangan biarkan perih jadi abadi di batinku
Setelah Kali Brantas menutup gorden jendela
Matamu kau jadikan gemintang di langitlangit kamar
Lalu menghapus beberapa nama dan menulis nama aslinya di dinding kamar :
Aku ingin pulang kehakikat perempuanku
Malang, 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar