Minggu, 21 Juli 2024

 

Edisi 1

Tanah Lot Pada Kamar 5
 
Di senja itu di Tanah Lot 
Kaukah di puncak ombak yang gemuruh mengejar tebing batu
Sayupsayup lenguh angin menyimpan warna senja  manakala matahari jatuh dalam pelukan bibir laut 
Aku masih di sini tak ingin sedikit pun beranjak menatap seluasluas laut
Menatap sukmamu nun di kaki langit di putih buih ayatayat utsaha dharma
 
Seusai ombak melontar pantai 
Sepiyangrisau sekeras jerit tebing batu di batinku
Menjadikan sukmaragaku luruh di pasirpasir
Buihbuih merajah seluruh tubuh 
Angin yang melengguh di rambutku melaras mantram tri sandya
 
Tanah Lot sudah tidak bersenja  lagi
Aku yang kehilangan manusia di tubuh fana
Di goa yoga aku bersoja
Sekuntum kemboja kau sunting di  telingakananku kau pasak sebutir beras di antara
ke dua keningku secupak air pura menyiram wajahku 
Kau sucikan manusiaku yang berklesa
 
Setiap aku merindu
Tanah Lot ini memberi jendela kamar menatap seluasluas laut
 Menatap sukmamu nun  di kaki langit di putih buih ayatayat utsaha dharma
 
Bali, 2011
 
 
2)
 
Lumpur Lapindo
 
lumpur lapindo
lumpur muntah manusia rakus
terus membuncah
 
sidoarjo sudah kehabisan airmata
kemana jerit mengadu duka
 
tanyakan kepada bumi
akankah berakhir derita ini
 
Sidoarjo, 2011
 
 
3 )
 
Dalam Kamar 111
 
Kubakar tubuhmu
Dalam pedupaan malam
Agar angan anganku mencair
Jika besok mentari terbit
Tak pernah lagi menjadikan pudar kehidupan
 
Nyalamukah yang bergoyang dalam tatapan
Wanginya harum bibir pijar
Aku mendaki puncak letupan dadamu
Berpacu pada bubus asap nafasmu
 
Gerai rambut lelatu
Menguntai bara liar
Pada kamar nyala damar
Berturai menyibak kelam
 
Tubuhmu tubuh tak lagi lelaki
Apa yang kau harap dari sembunyi
Inilah semata dusta semesta
 
Pada tarikan gorden penghabisan
Kau lepas burung burung di alir cahya
Dengan kepak dan kicau :
Selamat pagi wahai insan yang merindu
 
 
Malang  2011
 
 
4)
 
Dalam Kamar 230
 
Tubuhmukah di atas tubuhku
Persis seperti dulu
Seperti akan menjadikan aku kembali berdua
 
Getar bibir memetik katakata
Yang masih jelas kau untai
Di dinding kamar ingatan
 
Begitu tulus
Dalam dosa dan doa
Tubuhmu luka
 
Tangan cuma meraba raba kesekalian dinding
Gulita yang membungkus tubuh kita
Membungkus sekalian angan angan
Dalam kamar 3 X 3
 
Aku pelita
Kehilangan cahaya
Tubuh nestapa
 
Aku berlari apakah kau disana
ke loronglorong cuma kosong ke padangpadang cuma ilalang ke batubatu cuma batu  kupetik bintang cuma kunangkunang siapasiapa cuma dusta
Setelah itu tinggal bayang
 
Tubuhmu masih di atas tubuhku
Getar bibir : Tuhan jangan kau tinggalkan aku
 
Malang, 2011
 
 
5)
 
Dalam Kamar 045
 
Kumasuki dirimu
Tenggelam ke dasar angan
Seperti seribu tahun
Musafir gila
 
Antara bumi dan langit
Hampa semata
Engkau semata entah
 
Dalam hampa aku merindu
Dalam entah aku menyeru
Semata hanyalah cuma
 
Dirimu ternyata jika
Saat kubuka jendela negri
Jendela hati sarat mimpi
 
 
Yogya, 2011
 
 
6)
 
Dalam Kamar 010
 
Jatuh buah mahoni
Serupa kincir angin
Mataku jadi kaca
Menetes anak lelaki
Kehilangan ibubapa
 
Sejak ia lahir di negri ini
Sudah makan buah mahoni
Tuhan tidak
Kau yang menanam di tubuhnya
 
Buah mahoni berguguran
Dipungutnya kembali lalu diterbangkan
Serupa kincir angin
Mencari kasih sayang
 
Kutulis namamu
Di kamar kaca buram airmata
Kutulis namaku
Sampai teduh airmata
 
Barabai, 2011
 
 
7)
 
Dalam Kamar 029
 
Kenari di atas ranting
Kicau sesuka hati
Kini kau terbaring
Mimpi mengusik hati
 
Mengejar bayang padang risau ke mana angan ke mana langkah 
Senja luruh lembayung sampaikah tak cuma
Kenari kepak sayap angin seribu langkah ranting bergoyang
 
Senja luruh lembayung
Malam luruh kelamnya
Jalan tiada berujung
Kerlip bintang apa artinya
 
Dalam kelam mata terpejam
Kuasap dupa kembang setanggi
Kamar kenduri meracik mimpi
 
 
Sidoarjo, 2011
 
 
8)
 
Dalam Kamar 606
 
Kudaku melompat dari kaca jendela
Di punggung kuda aku kehilangan peta
Bau keringat angkot yang melata dan dibalik gedung bertingkat
rumahrumah kardus tumbuh di gurungurun dan bukit batu 
dan monas jadi berhala aku kehilangan Jakarta
 
Aku baca puisi di punggung kuda jingga berkaki kelana
Aku cari ciliwung tapi entah di mana
Aku cari betawi kaukah di sana
Aku cari saudara di mana kuburnya
Kudaku melompatlompat dikedalaman risaunya
 
Kudaku jingga melompat dari jendela
Dalam pelana duka mencari Jakarta
 
Jakarta, 2011
 
 
9)
 
Dalam Kamar 001
 
Sejak kehilangan ibu tak pernah lagi aku merasa anak
Kakiku tumbuh roda pedati pada sebuah arca negri
Di kaca jendela orang orang merayakan hari ibu
Dikedalaman rindu aku mencari ibu
Kuucap salam tapi kau diam aku berharap kau cuma menatap
 
Di mana mana orang orang merayakan hari ibu
Di mana mana orang orang menjadikan berhala
Aku tak pernah lagi mau menyebutmu ibu karena kau kehilangan ibu
 
Di kaca jendela roda pedati menghela arca negri
Anak anak negri tak pernah berhenti merajut mimpi
 
Banjarbaru, 2011
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar