Edisi 1
Tanah Lot
Pada Kamar 5
Di senja itu di Tanah Lot
Kaukah di puncak ombak yang gemuruh mengejar tebing batu
Sayupsayup lenguh angin menyimpan warna senja manakala matahari jatuh dalam pelukan bibir laut
Aku masih di sini tak ingin sedikit pun beranjak menatap seluasluas laut
Menatap sukmamu nun di kaki langit di putih buih ayatayat utsaha dharma
Seusai ombak melontar pantai
Sepiyangrisau sekeras jerit tebing batu di batinku
Menjadikan sukmaragaku luruh di pasirpasir
Buihbuih merajah seluruh tubuh
Angin yang melengguh di rambutku melaras mantram tri sandya
Tanah
Lot sudah tidak bersenja lagi
Aku yang kehilangan manusia di tubuh fana
Di goa yoga aku bersoja
Sekuntum kemboja kau sunting di telingakananku kau pasak sebutir beras di antara
ke dua keningku secupak air pura menyiram wajahku
Kau sucikan manusiaku yang berklesa
Setiap aku merindu
Tanah Lot ini memberi jendela kamar menatap seluasluas laut
Menatap sukmamu nun di kaki langit di putih buih ayatayat utsaha dharma
Bali, 2011
2)
Lumpur Lapindo
lumpur lapindo
lumpur muntah manusia rakus
terus membuncah
sidoarjo sudah kehabisan airmata
kemana jerit mengadu duka
tanyakan kepada bumi
akankah berakhir derita ini
Sidoarjo, 2011
3 )
Dalam
Kamar 111
Kubakar tubuhmu
Dalam pedupaan malam
Agar angan anganku mencair
Jika besok mentari terbit
Tak pernah lagi menjadikan pudar kehidupan
Nyalamukah yang bergoyang dalam tatapan
Wanginya harum bibir pijar
Aku mendaki puncak letupan dadamu
Berpacu pada bubus asap nafasmu
Gerai rambut lelatu
Menguntai bara liar
Pada kamar nyala damar
Berturai menyibak kelam
Tubuhmu tubuh tak lagi lelaki
Apa yang kau harap dari sembunyi
Inilah semata dusta semesta
Pada tarikan gorden penghabisan
Kau lepas burung burung di alir cahya
Dengan kepak dan kicau :
Selamat pagi wahai insan yang merindu
Malang 2011
4)
Dalam
Kamar 230
Tubuhmukah di atas tubuhku
Persis seperti dulu
Seperti akan menjadikan aku kembali berdua
Getar bibir memetik katakata
Yang masih jelas kau untai
Di dinding kamar ingatan
Begitu tulus
Dalam dosa dan doa
Tubuhmu luka
Tangan cuma meraba raba kesekalian dinding
Gulita yang membungkus tubuh kita
Membungkus sekalian angan angan
Dalam kamar 3 X 3
Aku pelita
Kehilangan cahaya
Tubuh nestapa
Aku berlari apakah kau disana
ke loronglorong cuma kosong ke padangpadang cuma ilalang ke batubatu cuma batu kupetik bintang cuma kunangkunang siapasiapa cuma dusta
Setelah itu tinggal bayang
Tubuhmu masih di atas tubuhku
Getar bibir : Tuhan jangan kau tinggalkan aku
Malang, 2011
5)
Dalam
Kamar 045
Kumasuki dirimu
Tenggelam ke dasar angan
Seperti seribu tahun
Musafir gila
Antara bumi dan langit
Hampa semata
Engkau semata entah
Dalam hampa aku merindu
Dalam entah aku menyeru
Semata hanyalah cuma
Dirimu ternyata jika
Saat kubuka jendela negri
Jendela hati sarat mimpi
Yogya, 2011
6)
Dalam
Kamar 010
Jatuh buah mahoni
Serupa kincir angin
Mataku jadi kaca
Menetes anak lelaki
Kehilangan ibubapa
Sejak ia lahir di negri ini
Sudah makan buah mahoni
Tuhan tidak
Kau yang menanam di tubuhnya
Buah mahoni berguguran
Dipungutnya kembali lalu diterbangkan
Serupa kincir angin
Mencari kasih sayang
Kutulis namamu
Di kamar kaca buram airmata
Kutulis namaku
Sampai teduh airmata
Barabai, 2011
7)
Dalam
Kamar 029
Kenari di atas ranting
Kicau sesuka hati
Kini kau terbaring
Mimpi mengusik hati
Mengejar bayang padang risau ke mana angan ke mana
langkah
Senja luruh lembayung sampaikah tak cuma
Kenari kepak sayap angin seribu langkah ranting bergoyang
Senja luruh lembayung
Malam luruh kelamnya
Jalan tiada berujung
Kerlip bintang apa artinya
Dalam kelam mata terpejam
Kuasap dupa kembang setanggi
Kamar kenduri meracik mimpi
Sidoarjo, 2011
8)
Dalam
Kamar 606
Kudaku melompat dari kaca jendela
Di punggung kuda aku kehilangan peta
Bau keringat angkot yang melata dan dibalik gedung bertingkat
Kaukah di puncak ombak yang gemuruh mengejar tebing batu
Sayupsayup lenguh angin menyimpan warna senja manakala matahari jatuh dalam pelukan bibir laut
Aku masih di sini tak ingin sedikit pun beranjak menatap seluasluas laut
Menatap sukmamu nun di kaki langit di putih buih ayatayat utsaha dharma
Sepiyangrisau sekeras jerit tebing batu di batinku
Menjadikan sukmaragaku luruh di pasirpasir
Buihbuih merajah seluruh tubuh
Angin yang melengguh di rambutku melaras mantram tri sandya
Aku yang kehilangan manusia di tubuh fana
Di goa yoga aku bersoja
Sekuntum kemboja kau sunting di telingakananku kau pasak sebutir beras di antara
ke dua keningku secupak air pura menyiram wajahku
Kau sucikan manusiaku yang berklesa
Tanah Lot ini memberi jendela kamar menatap seluasluas laut
Menatap sukmamu nun di kaki langit di putih buih ayatayat utsaha dharma
lumpur muntah manusia rakus
terus membuncah
kemana jerit mengadu duka
akankah berakhir derita ini
Dalam pedupaan malam
Agar angan anganku mencair
Tak pernah lagi menjadikan pudar kehidupan
Wanginya harum bibir pijar
Aku mendaki puncak letupan dadamu
Berpacu pada bubus asap nafasmu
Menguntai bara liar
Pada kamar nyala damar
Berturai menyibak kelam
Apa yang kau harap dari sembunyi
Inilah semata dusta semesta
Kau lepas burung burung di alir cahya
Selamat pagi wahai insan yang merindu
Persis seperti dulu
Seperti akan menjadikan aku kembali berdua
Yang masih jelas kau untai
Di dinding kamar ingatan
Dalam dosa dan doa
Tubuhmu luka
Gulita yang membungkus tubuh kita
Membungkus sekalian angan angan
Dalam kamar 3 X 3
Kehilangan cahaya
Tubuh nestapa
ke loronglorong cuma kosong ke padangpadang cuma ilalang ke batubatu cuma batu kupetik bintang cuma kunangkunang siapasiapa cuma dusta
Setelah itu tinggal bayang
Getar bibir : Tuhan jangan kau tinggalkan aku
Tenggelam ke dasar angan
Seperti seribu tahun
Musafir gila
Hampa semata
Engkau semata entah
Dalam entah aku menyeru
Semata hanyalah cuma
Saat kubuka jendela negri
Jendela hati sarat mimpi
Serupa kincir angin
Mataku jadi kaca
Menetes anak lelaki
Kehilangan ibubapa
Sudah makan buah mahoni
Tuhan tidak
Kau yang menanam di tubuhnya
Dipungutnya kembali lalu diterbangkan
Serupa kincir angin
Mencari kasih sayang
Di kamar kaca buram airmata
Kutulis namaku
Sampai teduh airmata
Kicau sesuka hati
Kini kau terbaring
Mimpi mengusik hati
Senja luruh lembayung sampaikah tak cuma
Kenari kepak sayap angin seribu langkah ranting bergoyang
Malam luruh kelamnya
Jalan tiada berujung
Kerlip bintang apa artinya
Kuasap dupa kembang setanggi
Kamar kenduri meracik mimpi
Di punggung kuda aku kehilangan peta
Bau keringat angkot yang melata dan dibalik gedung bertingkat
rumahrumah kardus tumbuh di gurungurun dan bukit batu
dan monas jadi
berhala aku kehilangan Jakarta
Aku cari ciliwung tapi entah di mana
Aku cari saudara di mana kuburnya
Dalam pelana duka mencari Jakarta
Kakiku tumbuh roda pedati pada sebuah arca negri
Di kaca jendela orang orang merayakan hari ibu
Dikedalaman rindu aku mencari ibu
Kuucap salam tapi kau diam aku berharap kau cuma menatap
Di mana mana orang orang menjadikan berhala
Aku tak pernah lagi mau menyebutmu ibu karena kau kehilangan ibu
Anak anak negri tak pernah berhenti merajut mimpi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar