Minggu, 21 Juli 2024

 

Edisi 7


 
Kamar Putri
 
Tidakkah kau mengantuk hari semakin malam
Tidak katamu harus sempurna lukisan ini
Serupa pejalan jauh menelusuri jalan
Mata menembus kaca jendela di luar kerlip kunangkunang
Terbang ribuan imaji pada jemari memadu warna
 
Seperti gumam : kata abah bila lolos menafsir persimpangan jalan
di situ ada warnawarna lahir dari spektrum pelangi
Matamu pun jadi berkacakaca
Kulihat putri bidaadari kecilku menari dalam lukisan
Terpajang pada dinding kamar kasihsayang
 
Tulungagung, 2013
 
Catatan : Gadis kecilku, Putri Dikha Sahirah belajar melukis.
 
 
61)
 
Berpacu Dengan Puisi
: Suyitno Ethexs,Ardi Susanti
 
Bus yang kita tumpangi menuju Semarang
Berteriak : Jangan tinggalkan aku
Sebab puisi kita melesat serupa kilat
Menikung dengan cepat setiap tikungan
Rumahrumah gedunggedung tokotoko
bahkan gubukgubuk di kanankiri jalan
bertanyatanya siapa gerangan si perkasaelok itu
 
Puisi kita menari di jalan bertikung berlubang dan bebatuan
Tarian heroik yang akan dilontarkan
di panggung road show puisi menolak korupsi
Semarang : Indonesia berjuang
 
Tulungagung-Semarang, 2013
 
 
 
62)
 
Kamar Lawang Sewu
 
Adakah kau di sana
Dari lawang ke lawang kususur
Menyusur setiap sketsa peristiwa kehidupan
 
Pada sebuah lawang
Bertanya pada orang yang jatuh dari panel
Tergeletak di lantai ubin
Pelukis yang tak terawat itu
Mengisyaratkan di antara lawang yang tertutup
 
Hasratku yang besar
Kuhabiskan pada secangkir blewah selasih
Yang terjepit di antara coca cola fanta dan sprite
Saat matahari di ubunubun gedung megah
 
Di depan bangunan antik
Lokomotif purba itu membuka lawang sejarah
Penjajah bangsa sendiri  yang bikin aku muntah
 
Aku masih berdiri di kamar lawang sewu
Ketika kau bawa aku menyusuri tubuhmu
Sebuah kota harum dalam mimpiku
 
Semarang, 2013
 
 
63
 
Kamar Karamunting
 
Tidak dengan siapasiapa
Selain percaya pada diri sendiri
Sebab karena mimpi tak selesaiselesai
Terperangkap dalam artokumulus
 
Tak selamanya metamorfose
Berteori pada selembar daun
Saat pergi jauh pada diri sendiri
Mencari tempat hunian
 
Tak siapasiapa lagi
Selain kembali pada diri sendiri
Menyemai karamunting yang sudah punah
Pada kamar yang sekian lama kosong
 
Bajarbaru, 2013
 
 
 
 
 
 
64
 
Kamar Batu Piring
 
Kau bawa aku masuk ke dalam diri
Persemayaman yang kau bangun kembali
Dari reruntuhan riwayat masa silam
Meski hati risau tapi ini adalah pilihan
Dari kaca jendela kehirukpikukan zaman
Di mana tempat yang sudah berganti rupa
Dan orangorang sudah tidak lagi punya ingatan
Jangankan legenda sejarah pun tidak
 
Dalam kamar bunga setanggi kau bersyair
Di sanggam yang mengepul asap dupa
Tentang kelestarian kehidupan sebuah negeri
Balangan kaukah bermula kota Paringin
 
Aku lalu becermin pada jiwamu yang risau
Bukitbukit kehilangan tanahnya
Lembahlembah kehilangan guntungnya
Hutanhutan kehilangan rimbanya
Sungai di tubuhmu adakah lagi sungaimu
 
Aku belajar memahami kesumat jiwamu
Putri Batu Piring kubasuh dukaku pada bulan
Dikala kau lahirkan purnama itu
Aku bersukma seperti apa yang kau sukmakan
 
 
Paringin, 2013
 
 
65
 
Kamar Lembah Bukit
 
Dari jendela bukit batu piring saat pagi
Kuucap salam pada bukit yang runtuh
Kudengar hanyalah aduh
Kuucap salam pada lembah yang mati
Kudengar hanyalah nyeri
Kuucap salam pada hutan yang tumbang
Kudengar hanyalah erang
 
Mandi dan membasuh mimpi
Mencuci dan membasuh hati
Kucari sungai di tubuhmu
Hanyalah alir airmata
 
Berdiri sebuah kota berbudaya
Lebih baik dari kota yang dianggap surga
Salam burungburung di pohon rindu
Kepak dan kicaunya riuh di hatimu
 
Paringin, 2013
 
 
 
 
66
 
Kutilang Di Jendela Kamar                     
 
Hanyalah sebatas jendela tak sampai
Jagat semesta cuma di mata
Anganangan sayap kepak harap
 
Tak terbilang lipatan kertas sudah
Yang kuterbangkan jatuh ke lantai
Jatuh tubuhku memburai
 
Airmata dikedalaman cinta
Di cermin malam kubangun mimpi
Kubangunkan sekalian jiwa
 
Seekor kutilang kertas di jendela
Kudengar kicau dikemerahan surya
Dikedalaman cinta : Kaukah maha
 
Malang, 2013
 
 
 
67
 
 
Negeriku Indonesia
 
Yang maha pelukis adalah Allah
Yang maha penyair adalah Allah
Bersyukurlah kita dikaruniai nikmat
Dapat menyadur ciptaan Allah
 
Fathan bocah kecilku menatap waduk Wonorejo
Ia berkata : abah jika pelukis atau pun penyair bersombong
maka ia mendustakan dirinya sendiri
Tentu, sayang
 
Fathan bocah kecilku berkata lagi :
Abah negeri kita sangat indah subur dan kaya
Banyak panoramanya
Tentu, sayang
 
Bocah kecilku tibatiba bersedih
Tetapi ia bernama Fathan
Ia menyimpan airmatanya agar jangan jatuh
Negeri kita Indonesia ya abah
Tentu, sayang
 
Bocahku berkata lagi : kelak Fathan menjadi pemimpin
berjiwa Pancasila yang bukan bohongan
mengutamakan pendidikan, menegakkan hukun dengan baik
benci korupsi, kolusi, nipotisme, narkoba
dan kapitalis imprealis
Tentu, sayang
 
Fathan bocah kecilku berkata :
Negeriku Indonesia
Allah maha tahu doa kita ya abah
Tentu, sayang
 
Tulungagung, 2013
 
 
68
 
Kamar Di Lereng Jalan
 
Tak pernah lagi kudengar nyanyian itu
Di zaman globalisasi ini orangorang pada berlari seperti dikejar katakutan pada dirinya sendiri
Seperti tak ingin masih berada pada masa purba
Bahkan menistakannya
 
Sebuah sungai
Masih tertulis riwayatnya
Airnya terus mengalir tak pernah henti
Rerumpun bambu di tebingnya
Semilir angin dari lereng gunung lembut membelai
Bengawan Solo
 
Sebuah gubuk sunyi di tepi sungai
Penghuninya merenda notasi usia renta
Sesayup lagu Bengawan Solo mengantar senja
Aku teringat Gesang
 
Solo, 2013
 

 
69
 
Di kamar 221 : Sekuntum Mawar
 
Jika kau mawar
Mawarkan tidurku
Jika wangi
Harumkan mimpiku
Tapi jangan kau durikan mataku
yang mencari terang pada  bulan mencari terang pada bintang
pada raut kelopakmu yang mekar dimalammalamku
Tersebab aku lahir  dari rahimnya mawarmalam
 
Kamar yang mawar yang  meronce rindu di ubin lantai
meronce segala masa lampau lalu aku menulis riwayat mawar
menulis riwayat musafir mawar
di dinding kamar di pembaringan di gorden jendela
di kaca jendela
Mawar
 
Jika kau mawar seperti dalam riwayat  itu
Mawar
Jika kau mawar seperti dalam rinduku
Mawar
 
Tuhan mawarkan mawarku
Seperti mawar yang terlahir dari rahimmu
 
Yogya, 2013
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar