Edisi 7
Tidak katamu harus sempurna lukisan ini
Serupa pejalan jauh menelusuri jalan
Mata menembus kaca jendela di luar kerlip kunangkunang
Terbang ribuan imaji pada jemari memadu warna
di situ ada warnawarna lahir dari spektrum pelangi
Matamu pun jadi berkacakaca
Kulihat putri bidaadari kecilku menari dalam lukisan
Terpajang pada dinding kamar kasihsayang
: Suyitno Ethexs,Ardi Susanti
Berteriak : Jangan tinggalkan aku
Sebab puisi kita melesat serupa kilat
Menikung dengan cepat setiap tikungan
Rumahrumah gedunggedung tokotoko
bahkan gubukgubuk di kanankiri jalan
bertanyatanya siapa gerangan si perkasaelok itu
Tarian heroik yang akan dilontarkan
di panggung road show puisi menolak korupsi
Semarang : Indonesia berjuang
Dari lawang ke lawang kususur
Menyusur setiap sketsa peristiwa kehidupan
Bertanya pada orang yang jatuh dari panel
Tergeletak di lantai ubin
Pelukis yang tak terawat itu
Mengisyaratkan di antara lawang yang tertutup
Kuhabiskan pada secangkir blewah selasih
Yang terjepit di antara coca cola fanta dan sprite
Saat matahari di ubunubun gedung megah
Lokomotif purba itu membuka lawang sejarah
Penjajah bangsa sendiri yang bikin aku muntah
Ketika kau bawa aku menyusuri tubuhmu
Sebuah kota harum dalam mimpiku
Selain percaya pada diri sendiri
Sebab karena mimpi tak selesaiselesai
Terperangkap dalam artokumulus
Berteori pada selembar daun
Saat pergi jauh pada diri sendiri
Mencari tempat hunian
Selain kembali pada diri sendiri
Menyemai karamunting yang sudah punah
Pada kamar yang sekian lama kosong
Persemayaman yang kau bangun kembali
Dari reruntuhan riwayat masa silam
Meski hati risau tapi ini adalah pilihan
Dari kaca jendela kehirukpikukan zaman
Di mana tempat yang sudah berganti rupa
Dan orangorang sudah tidak lagi punya ingatan
Jangankan legenda sejarah pun tidak
Di sanggam yang mengepul asap dupa
Tentang kelestarian kehidupan sebuah negeri
Balangan kaukah bermula kota Paringin
Bukitbukit kehilangan tanahnya
Lembahlembah kehilangan guntungnya
Hutanhutan kehilangan rimbanya
Sungai di tubuhmu adakah lagi sungaimu
Putri Batu Piring kubasuh dukaku pada bulan
Dikala kau lahirkan purnama itu
Aku bersukma seperti apa yang kau sukmakan
Kuucap salam pada bukit yang runtuh
Kudengar hanyalah aduh
Kuucap salam pada lembah yang mati
Kudengar hanyalah nyeri
Kuucap salam pada hutan yang tumbang
Kudengar hanyalah erang
Mencuci dan membasuh hati
Kucari sungai di tubuhmu
Hanyalah alir airmata
Lebih baik dari kota yang dianggap surga
Salam burungburung di pohon rindu
Kepak dan kicaunya riuh di hatimu
Jagat semesta cuma di mata
Anganangan sayap kepak harap
Yang kuterbangkan jatuh ke lantai
Jatuh tubuhku memburai
Di cermin malam kubangun mimpi
Kubangunkan sekalian jiwa
Kudengar kicau dikemerahan surya
Dikedalaman cinta : Kaukah maha
Yang maha penyair adalah Allah
Bersyukurlah kita dikaruniai nikmat
Dapat menyadur ciptaan Allah
Ia berkata : abah jika pelukis atau pun penyair bersombong
maka ia mendustakan dirinya sendiri
Tentu, sayang
Abah negeri kita sangat indah subur dan kaya
Banyak panoramanya
Tentu, sayang
Tetapi ia bernama Fathan
Ia menyimpan airmatanya agar jangan jatuh
Negeri kita Indonesia ya abah
Tentu, sayang
berjiwa Pancasila yang bukan bohongan
mengutamakan pendidikan, menegakkan hukun dengan baik
benci korupsi, kolusi, nipotisme, narkoba
dan kapitalis imprealis
Tentu, sayang
Negeriku Indonesia
Allah maha tahu doa kita ya abah
Tentu, sayang
Di zaman globalisasi ini orangorang pada berlari seperti dikejar katakutan pada dirinya sendiri
Seperti tak ingin masih berada pada masa purba
Bahkan menistakannya
Masih tertulis riwayatnya
Airnya terus mengalir tak pernah henti
Rerumpun bambu di tebingnya
Semilir angin dari lereng gunung lembut membelai
Bengawan Solo
Penghuninya merenda notasi usia renta
Sesayup lagu Bengawan Solo mengantar senja
Aku teringat Gesang
Mawarkan tidurku
Jika wangi
Harumkan mimpiku
Tapi jangan kau durikan mataku
yang mencari terang pada bulan mencari terang pada bintang
pada raut kelopakmu yang mekar dimalammalamku
Tersebab aku lahir dari rahimnya mawarmalam
meronce segala masa lampau lalu aku menulis riwayat mawar
menulis riwayat musafir mawar
di dinding kamar di pembaringan di gorden jendela
di kaca jendela
Mawar
Mawar
Jika kau mawar seperti dalam rinduku
Mawar
Seperti mawar yang terlahir dari rahimmu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar