Minggu, 21 Juli 2024

 

edisi 16


 

Fenomena Cinta

 

Kasihku jika

Terajal di hatimu

Bukanlah takdir

 

Perjalanan hidup dan kehidupan sebuah cinta

Terkadang terjadi fenomena yang dramatis

Peristiwa yang tak terduga pada endingnya

 

Cinta terkubur

Bukan suatu takdir

Semata sudah

 

Di kala pagi mentari yang bercahya indah

Di ranting ranting pohon kehidupan

Burung burung berkicau alangkah merdunya

Nyanyian tentang hakikat cinta

 

Aku berada

Dalam ada tiada

Ruang yang hening

 

Bengkulu, 2015

 

 

 

 

151.

 

( Senryu Memo Untuk Presiden )

 

1.

Amanat rakyat

Sangat mudah terlupa

Nafsu ambisi

 

2.

Janji dan sumpah

Lunas dilaksanakan

Kau lah pemimpin

 

3.

Jiwa membangun

Demi rakyat dan negri

Pemimpin kamil

 

Lubuklinggau, 2015

 

 

 

 

152.

 

Bumi Sebiduk Semare

 

Persis seperti dalam perjalanan usia

Hingga sampai di hari senja ini

Eksplorasi dari setiap  perjalanan

Tak lepas dalam catatan kehidupan

 

Jejak langkah di mana panggilan jiwa yang membuncah

Untuk memberi makna dalam hidup dan kehidupan ini

Begitu bening matamu dalam lambaian tangan

Sebuah bumi nan jauh di mata

 

Menuju impian jalan berkelok mendaki dan menurun

Nikmat dan menyenangkan seperti gairah dalam bercinta

Kemesraan pebukitan kemesraan tebing kemesraan hutan dan lembah

Derai rambutmu menyentuh dadaku setiap hembusan nafas angin

 

Tak mampu berkata banyak sebab tak habis dikata semalam dua

Sebab tirai Air Terjun Temam membungkus jiwaku dengan keasriannya

Dan terjun ke Watervang serupa ikan gurami bercanda dengan bebatuan

Kau peluk aku dengan mesra manakala di bawah pepohonan nan rindang

 

Hari ini aku belajar menyelami arti wong kito linggau

Bumi sebiduk semare Lubuklinggau di lubuk hatiku yang terdalam

Memandang bukit Sulap memandang rona wajahmu

Seperti tak ingin beranjak pulang, sayang

 

Lubuklinggau,2015

 

 

 

 

153.

 

 

Kamar 315

 

Entah ke mana tubuh akan dibaringkan

Kamar  beraroma malam metropolitan

Jiwa kehilangan nafas di sekujur tubuh

 

Meleleh di ubin lantai

Ribuan rupa duniawi dari langit langit kamar

Di cahya lampu yang merah temaram

 

Tubuhku di tubuhmu mencari nafas

Jiwa yang tersesat di pembaringan

Pintu kamar yang tak berkunci

 

Aroma malam metropolitan masih di kamar

Kubetulkan jarum jam tepat di jantungmu

Agar zikir berdetak sepanjang malam di tubuhku

 

Jakarta, 2015

 

 

 

 

154.

 

Kamar 03

 

Karena lama tak berjumpa pelukan dan ciuman kasih sayang

Riwayat masa silam yang lahir dari lereng gunung Batu Benawa

Air susu yang mengalir dari tubuh pepohonan para dan sawah

yang luas membentang menjadikan darah di tubuh kita

 

Buncahan rindu menyusur sepanjang jalan

Dan suasana yang sejuk dari denyutan jantung kota

Membangkitkan kenang lemak manis kehidupan masa kanak

Masih terdengar dalam ingatan teriakan kecil mengejar buah mahoni

yang pecah berderai jatuh melayang serupa baling baling kecil ditiup angin

 

Harum mewangi anggrek merpati yang bergayut di setiap pohon

Adalah hembus nafasmu di setiap kita menapak jalan naiknya fajar pagi

Dan dedaunan yang menjuntai embun kemilau jambon cahayanya

Di tanah rantau rindu manakah yang tak membuncah di kaca jendela ?

 

Di antara rumah perkantoran dan pertokoan yang megah pertamanan yang indah

dan tugu yang menjulang rindu itu  mencari sungai kala lampau teman bermain tempat membasuh tangis. Entah kemana

Dan tidak ada tempat untuk bertanya. Mata mengaca

 

Kasihku

Aku masih ingat begitu elok didengar orang berkata :

Ini lah Bandung Borneo

Kau tersenyum manis semanis apam yang terbungkus rapi dalam kemasan

 

Barabai, 2015

 

 

 

 

155.

 

Sungai Tapin : Kurindukan Riwayatmu

 

Sungai Tapin sungai serupa laut airnya jernih dan bening

Air yang lemak manis sumber kehidupan anak negri

Sungai yang mengaliri sawah yang setiap tahunnya memberikan

limpahan kindai limpuar

 

Dari gigir sungai menatap arus yang mengalir

Terdengar sesayup tembang mengisahkan sebuah riwayat sungai :

 

Riwayat Si Balahindang Sungai Tapin di Rantau

Asalnya urang bahuma subuh turun ka batang

Niat handak mancari iwak gasan makan hari ini

Iwak kada didapati nasibnya malang

 

Di dalam riwayatnya hanyalah sebiji telur yang besar didapat

Tatkala telur itu menetas lahirlah seekor naga putih

Sungai menjadi meluap maka berenanglah naga itu ke laut

Nampak di langit membentang spektrum yang kemilau

Naga putih sedang berlaga dengan naga habang

 

Dari gigir sungai menatap arus yang mengalir

Airnya yang kini keruh dan dangkal

Anak negri yang  tak pernah lagi tahu tentang riwayat ini

Dan tak pernah peduli keasrian dan kelestarian sungai

Karena diseret berputarnya roda zaman

 

Dari gigir sungai menatap arus yang mengalir :

Tapin aku merindukan riwayatmu

 

Rantau, 2015

 

 

 

156.

 

( Kepada sahabatku “ Yanty Tjiam “

Telah pergi abadi )

 

1.

Langit kelabu

Mataku berlinangan

Jatuh gerimis

 

2.

Burung yang terbang

Keluar dari sangkar

Pergi abadi

 

3.

Tirai gerimis

Rabun kaca jendela

Tulis namamu

 

4.

Di altar malam

Bintang bintang berkelip

Semua ikhlas

 

5.

Kupetik gitar

Di tangga gregorians

Dupa requiem

 

6.

Bunga kemboja

Irisan dari hati

Tanah pusara

 

7.

Tidurlah tenang

Nyanyian doa kudus

Bangun di surga

 

( Temanmu : Arsyad Indradi

Banjarbaru Kalsel Indonesia.2015 )

 

( To my best friend "Yanty Tjiam"

Has gone forever )

 

1.

Gray sky.

My eyes with tears.

falling drizzle

 

2.

Flying bird.

Out of the cage.

go immortal

 

3.

Curtain drizzle.

Blurred glass window.

Write your name

 

4.

The altar nights

Stars twinkling.

All sincere.

 

5.

I picked the guitar.

The stairs Gregorians.

incense requiem

 

6.

Potpourri.

Slices of the heart.

ground tomb

 

7.

Go to sleep quietly.

Chanting sacred.

Waking up in paradise

 

( Your friend: Arsyad Indradi

Banjarbaru Kalsel Indonesia.2015. )

 

 

157.

 

Membasuh Hati Memfitrah Kalbu

 

Belajar pada perahu tumpeng di alun ombak laut

Yang melayarkan kata bersyukur tanda terima kasih

Sedekah kepada laut sumber yang melimpahkan rejeki

Maha kasih sayang Allah kepada hambanya

 

Siapa pun tiada  yang mampu mendustakan

Kenikmatan dan rahmat itu yang tak berhingga

Jika orang yang melakukan korupsi itu beriman

Tentu akan menyadari betapa besar nilai sedekah

 

Di makam Sunan Kalijaga tafakur masuk ke dasar jiwa

Sudahkah bersedekah sebagai fitrah diri

Kehidupan dunia adalah fana berdebu serakah nafsu

Sudahkah membasuh hati  sebagai fitri kalbu

 

Belajar pada perahu tumpeng sedekah laut

Laut adalah kehidupan jiwa yang mengombak

Ombak adalah  tarikan nafas alunan hidup

Wallohul Muwafiq ila aqwamith Thariq

 

 Demak, 2015

 

 

158.

 

Kandangan Kotaku Manis

 

Menanjak rakit bambu membawa rejeki

Sungai Amandit dalam jernih airnya

Tempat melabuhkan jantung kehidupan

Dari hulu menghilir sambil berdendang :

 

Bukit meratus tanah pusaka

Tanaman subur si kayu manis

Tempat kelahiran tak kan terlupa

Kota Kandangan kotaku manis

 

Sebuah kota melahirkan para pejuang

Dalas bakalang tanah manyarah kada

Amuk Hantarukung mencatat sejarahnya

Teringat sepanjang masa

 

Berjalan menuju Loksado

Sebuah dusun yang asri dan lestari

Dayak yang ramah hidup yang damai

Tentram menjaga adat pusaka budaya

 

Loksado berwajah panorama

Sketsa hutan, bukit, lembah dan sungai

Dodol dan ketupat Kandangan jadi impian

Kota Kandangan kota kenangan

 

Kandangan, 2015

 

 

 

159.

 

Gunung Matah : Tetirah Jejak Langkah

 

Adalah gunung berangin dan berawan

memandang lurus tampak di bawahnya

bentangan laut mendebur pantai

dan lembah bergaris sungai

 

Di puncak

Langit yang senantiasa berubah warna

Dan pepohonan tebing bebatuan

dan hunian burungburung

Tak lagi mengenal musim

 

Kutemukan sebuah ruang sepi dan sunyi

Tempat merebahkan diri

Mengenang masa lampau

dan menafsir masa akan datang

 

Tempat membaringkan impian

Menyirami kekasih yang tumbuh di hati

Siraman kasih sayang agar tetap mekar dikala layu

Bercumbu dengan kata-kata yang paling sederhana

yang paling ia pahami

 

Demikianlah sebuah ruang itu

gunung Matah adalah jiwaku

tetirah jejak langkahku

 

Pelaihari, 2015

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar