edisi 16
Fenomena
Cinta
Kasihku jika
Terajal di hatimu
Bukanlah takdir
Perjalanan hidup dan kehidupan sebuah cinta
Terkadang terjadi fenomena yang dramatis
Peristiwa yang tak terduga pada endingnya
Cinta terkubur
Bukan suatu takdir
Semata sudah
Di kala pagi mentari yang bercahya indah
Di ranting ranting pohon kehidupan
Burung burung berkicau alangkah merdunya
Nyanyian tentang hakikat cinta
Aku berada
Dalam ada tiada
Ruang yang hening
Bengkulu, 2015
151.
( Senryu Memo Untuk Presiden )
1.
Amanat rakyat
Sangat mudah terlupa
Nafsu ambisi
2.
Janji dan sumpah
Lunas dilaksanakan
Kau lah pemimpin
3.
Jiwa membangun
Demi rakyat dan negri
Pemimpin kamil
Lubuklinggau, 2015
152.
Bumi Sebiduk Semare
Persis seperti dalam perjalanan usia
Hingga sampai di hari senja ini
Eksplorasi dari setiap
perjalanan
Tak lepas dalam catatan kehidupan
Jejak langkah di mana panggilan jiwa yang membuncah
Untuk memberi makna dalam hidup dan kehidupan ini
Begitu bening matamu dalam lambaian tangan
Sebuah bumi nan jauh di mata
Menuju impian jalan berkelok mendaki dan menurun
Nikmat dan menyenangkan seperti gairah dalam bercinta
Kemesraan pebukitan kemesraan tebing kemesraan hutan dan
lembah
Derai rambutmu menyentuh dadaku setiap hembusan nafas
angin
Tak mampu berkata banyak sebab tak habis dikata
semalam dua
Sebab tirai Air Terjun Temam membungkus jiwaku dengan
keasriannya
Dan terjun ke Watervang serupa ikan gurami bercanda
dengan bebatuan
Kau peluk aku dengan mesra manakala di bawah pepohonan
nan rindang
Hari ini aku belajar menyelami arti wong kito linggau
Bumi sebiduk semare Lubuklinggau di lubuk hatiku yang
terdalam
Memandang bukit Sulap memandang rona wajahmu
Seperti tak ingin beranjak pulang, sayang
Lubuklinggau,2015
153.
Kamar 315
Entah ke mana tubuh akan dibaringkan
Kamar beraroma
malam metropolitan
Jiwa kehilangan nafas di sekujur tubuh
Meleleh di ubin lantai
Ribuan rupa duniawi dari langit langit kamar
Di cahya lampu yang merah temaram
Tubuhku di tubuhmu mencari nafas
Jiwa yang tersesat di pembaringan
Pintu kamar yang tak berkunci
Aroma malam metropolitan masih di kamar
Kubetulkan jarum jam tepat di jantungmu
Agar zikir berdetak sepanjang malam di tubuhku
Jakarta, 2015
154.
Kamar 03
Karena lama tak berjumpa pelukan dan ciuman kasih sayang
Riwayat masa silam yang lahir dari lereng gunung Batu
Benawa
Air susu yang mengalir dari tubuh pepohonan para dan
sawah
yang luas membentang menjadikan darah di tubuh kita
Buncahan rindu menyusur sepanjang jalan
Dan suasana yang sejuk dari denyutan jantung kota
Membangkitkan kenang lemak manis kehidupan masa kanak
Masih terdengar dalam ingatan teriakan kecil mengejar
buah mahoni
yang pecah berderai jatuh melayang serupa baling
baling kecil ditiup angin
Harum mewangi anggrek merpati yang bergayut di setiap
pohon
Adalah hembus nafasmu di setiap kita menapak jalan
naiknya fajar pagi
Dan dedaunan yang menjuntai embun kemilau jambon cahayanya
Di tanah rantau rindu manakah yang tak membuncah di
kaca jendela ?
Di antara rumah perkantoran dan pertokoan yang megah
pertamanan yang indah
dan tugu yang menjulang rindu itu mencari sungai kala lampau teman bermain
tempat membasuh tangis. Entah kemana
Dan tidak ada tempat untuk bertanya. Mata mengaca
Kasihku
Aku masih ingat begitu elok didengar orang berkata :
Ini lah Bandung Borneo
Kau tersenyum manis semanis apam yang terbungkus rapi
dalam kemasan
Barabai, 2015
155.
Sungai Tapin : Kurindukan Riwayatmu
Sungai Tapin sungai serupa laut airnya jernih dan bening
Air yang lemak manis sumber kehidupan anak negri
Sungai yang mengaliri sawah yang setiap tahunnya
memberikan
limpahan kindai limpuar
Dari gigir sungai menatap arus yang mengalir
Terdengar sesayup tembang mengisahkan sebuah riwayat
sungai :
Riwayat Si Balahindang Sungai Tapin di Rantau
Asalnya urang bahuma subuh turun ka batang
Niat handak mancari iwak gasan makan hari ini
Iwak kada didapati nasibnya malang
Di dalam riwayatnya hanyalah sebiji telur yang besar
didapat
Tatkala telur itu menetas lahirlah seekor naga putih
Sungai menjadi meluap maka berenanglah naga itu ke laut
Nampak di langit membentang spektrum yang kemilau
Naga putih sedang berlaga dengan naga habang
Dari gigir sungai menatap arus yang mengalir
Airnya yang kini keruh dan dangkal
Anak negri yang tak pernah lagi tahu tentang riwayat ini
Dan tak pernah peduli keasrian dan kelestarian sungai
Karena diseret berputarnya roda zaman
Dari gigir sungai menatap arus yang mengalir :
Tapin aku merindukan riwayatmu
Rantau, 2015
156.
( Kepada sahabatku “ Yanty Tjiam “
Telah pergi abadi )
1.
Langit kelabu
Mataku berlinangan
Jatuh gerimis
2.
Burung yang terbang
Keluar dari sangkar
Pergi abadi
3.
Tirai gerimis
Rabun kaca jendela
Tulis namamu
4.
Di altar malam
Bintang bintang berkelip
Semua ikhlas
5.
Kupetik gitar
Di tangga gregorians
Dupa requiem
6.
Bunga kemboja
Irisan dari hati
Tanah pusara
7.
Tidurlah tenang
Nyanyian doa kudus
Bangun di surga
( Temanmu : Arsyad Indradi
Banjarbaru Kalsel Indonesia.2015 )
( To my best friend "Yanty Tjiam"
Has gone forever )
1.
Gray sky.
My eyes with tears.
falling drizzle
2.
Flying bird.
Out of the cage.
go immortal
3.
Curtain drizzle.
Blurred glass window.
Write your name
4.
The altar nights
Stars twinkling.
All sincere.
5.
I picked the guitar.
The stairs Gregorians.
incense requiem
6.
Potpourri.
Slices of the heart.
ground tomb
7.
Go to sleep quietly.
Chanting sacred.
Waking up in paradise
( Your friend: Arsyad Indradi
Banjarbaru Kalsel Indonesia.2015. )
157.
Membasuh Hati Memfitrah Kalbu
Belajar pada perahu tumpeng di alun ombak laut
Yang melayarkan kata bersyukur tanda terima kasih
Sedekah kepada laut sumber yang melimpahkan rejeki
Maha kasih sayang Allah kepada hambanya
Siapa pun tiada yang mampu mendustakan
Kenikmatan dan rahmat itu yang tak berhingga
Jika orang yang melakukan korupsi itu beriman
Tentu akan menyadari betapa besar nilai sedekah
Di makam Sunan Kalijaga tafakur masuk ke dasar jiwa
Sudahkah bersedekah sebagai fitrah diri
Kehidupan dunia adalah fana berdebu serakah nafsu
Sudahkah membasuh hati
sebagai fitri kalbu
Belajar pada perahu tumpeng sedekah laut
Laut adalah kehidupan jiwa yang mengombak
Ombak adalah tarikan nafas alunan hidup
Wallohul Muwafiq ila aqwamith Thariq
Demak, 2015
158.
Kandangan Kotaku Manis
Menanjak rakit bambu membawa rejeki
Sungai Amandit dalam jernih airnya
Tempat melabuhkan jantung kehidupan
Dari hulu menghilir sambil berdendang :
Bukit meratus tanah pusaka
Tanaman subur si kayu manis
Tempat kelahiran tak kan terlupa
Kota Kandangan kotaku manis
Sebuah kota melahirkan para pejuang
Dalas bakalang tanah manyarah kada
Amuk Hantarukung mencatat sejarahnya
Teringat sepanjang masa
Berjalan menuju Loksado
Sebuah dusun yang asri dan lestari
Dayak yang ramah hidup yang damai
Tentram menjaga adat pusaka budaya
Loksado berwajah panorama
Sketsa hutan, bukit, lembah dan sungai
Dodol dan ketupat Kandangan jadi impian
Kota Kandangan kota kenangan
Kandangan, 2015
159.
Gunung Matah : Tetirah Jejak Langkah
Adalah gunung berangin dan berawan
memandang lurus tampak di bawahnya
bentangan laut mendebur pantai
dan lembah bergaris sungai
Di puncak
Langit yang senantiasa berubah warna
Dan pepohonan tebing bebatuan
dan hunian burungburung
Tak lagi mengenal musim
Kutemukan sebuah ruang sepi dan sunyi
Tempat merebahkan diri
Mengenang masa lampau
dan menafsir masa akan datang
Tempat membaringkan impian
Menyirami kekasih yang tumbuh di hati
Siraman kasih sayang agar tetap mekar dikala layu
Bercumbu dengan kata-kata yang paling sederhana
yang paling ia pahami
Demikianlah sebuah ruang itu
gunung Matah adalah jiwaku
tetirah jejak langkahku
Pelaihari, 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar