Edisi 3
Dalam Kamar 06
dalam kamar meluput dari serbuan dingin
Kaca jendela bukan lagi kaca
Sehingga kebun teh membubung gumpalan uap putih puncak gemunung
Aku gelisah mencarimu tempat berdiang
Di bawah merkuri semacam ada lampu mengerdip
Tapi aku amat malas membeli api di sebuah vila
Masih berkongres berlanjut dengan seminar dan diskusi
Literatur dan literasi serupa burung kertas terbang melayang
Mereka membakar dirinya sampai jadi arang bahkan jadi abu
Ramai ramai melontarkan puisi sampai ke puncak Puncak
Halaman berupa padang rumput menjadi hijau lumut
Telah mencatat peristiwa itu dalam kitab khazanah kesastraan Indonesia
Eksplorasi dahaga sampai pagi membuka gorden jendela
Kaukah yang memancar nun di timur
Mengicaukan burungburung padang sunyi
Dalam renung di kedalaman diri
Dulang tak cukup mengitung tapakjejak pada jarak
Dan mata tak cukup pada batubatu ayatmu
Di dasar dukalara menatapmu di dinding kamar mendamar
Bergegas ke pintu jendela
Sampaikah doa
Tak habishabis renung pendosa
Sujud di kakinya
Saat menanti angin melintas wangi
Saat kucari harumnya kutengok cakrawala
Angan yang kulepas entah kemana lenyap
Kugali diri dalam buncah resah
Hanyut pada dinding kamar
Tibatiba tumpah di ubin lantai
Agar menghapus dahaga dosa
Dan bimbang setiap persimpangan
Raga dan jiwa semakin bersimpuh
Manakala semakin jauh
M’lintas kaca jendela
Kamar menyepi
Mengalir sampai tak berhingga
Menggali angan angan yang terpendam
Dalam misteri kehidupan
Misteri kehidupan
Kamar ekstase
Aku pun menggelepar dan jatuh
di ubinubin lantai
Tak sampai dari tangan
Kelam di nian
tubuhku begitu nista
Terdampar di tubuhmu
lalu tenggelam di lampu padam
Cuma kepak lelawa
Melintas kelam
Dan kamar tak ada lorong
Dinding batu
membuka gorden jendela :
Aku kehilangan tuhan
Jangan tinggalkan aku
Siluet malam
Melompat dari bukit
Malam menggigil
Demikian gemerisik rerumpun anggur
Jantungku mendebur
Dalam bayangan malam
Lengkingan sepi
Langkah apa yang membawaku kemari
Hingga tubuhku jadi kaku begini
Dua b’las bidadari
Memberi sebuah kamar
Kucium aroma mawar
Apakah kau akan sampai padanya
Menghela seperangkat usia
Aku tengadah menyusur jejak langkah
Jenggot semakin panjang
Tak mampu mewarna lain
Putih kian memutih
Kau kah di muara pintu senja
Di atas sukma sajadah
Zikir, aminkan fitrah
Wahai maha berkendara nur
Terima kasih kau pinjamkan lagi diriku
Kembali musafir menyukur nikmatmu
Di ujung gemerisik daunmu
Tetes embun di jiwaku
Melapangkan langkah tapakjejakku
Bulan kau cahyakan dalam mimpiku
Angin menjadikan napasku semilir
Riak ombak memakna laut anganku
Kupetik fajar di matamu
Yang kau tanam dalam kasihsayang
Pagi ini kubaca rawi : nyanyian seribu burung
Ini mahar dari nikah rindu katamu
Di kelopak kuncup bunga yang memerkah
Sebelum lepas dari tangkai waktu
Kujadikan tinta catatan pengembaraan
Kapal yang bertolak di luasnya lautan
Adalah nikah kita dalam rindu dendam
Melunas rindu dendam kita sayang
Saat ingin berbaring
Entah apa tibatiba bulan di kaca jendela
Dan kulihat sekuntum mawar di vas bunga
Tak tercium lagi aroma harumnya
Dan mabuk dalam kristal mimpi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar