Minggu, 21 Juli 2024

 

Edisi 3

 
Dalam Kamar 06
 
Bagaimana tidak Puncak Cisarua menjadikan aku bergegas mencari persembunyian
dalam kamar meluput dari serbuan dingin
Kaca jendela bukan lagi kaca
Sehingga kebun teh membubung gumpalan uap putih puncak gemunung
Aku gelisah mencarimu tempat berdiang
Di bawah merkuri semacam ada lampu mengerdip
Tapi aku amat malas membeli api di sebuah vila
 
Di ruang gedung
Masih berkongres berlanjut dengan seminar dan diskusi
Literatur dan literasi serupa burung kertas terbang melayang
 
Dan malam yang romantis dan fantastis
Mereka membakar dirinya sampai jadi arang bahkan jadi abu
Ramai ramai melontarkan puisi sampai ke puncak Puncak
 
Halimun yang turun menggelarkan tirai embun
Halaman berupa padang rumput menjadi hijau lumut
Telah mencatat peristiwa itu dalam kitab khazanah kesastraan Indonesia
 
Cisarua Bogor, 2012
 
Catatan : Impresi Kongres KSI II, 23-25 Maret 2012,Wisma Argamulia
 
 
21)
 
 
Dalam Kamar 109
 
Mendulang cinta dalam kamar sukma
Eksplorasi dahaga sampai pagi membuka gorden jendela
Kaukah yang memancar nun di timur
Mengicaukan burungburung padang sunyi
 
Berkaca di kaca jendela menafsir cahaya
Dalam renung di kedalaman diri
Dulang tak cukup mengitung tapakjejak pada jarak
Dan mata tak cukup pada batubatu ayatmu
 
Ubin kamar tempat membasuh airmata
Di dasar dukalara menatapmu di dinding kamar mendamar
Bergegas ke pintu jendela
Sampaikah doa
 
Mendulang cinta
Tak habishabis renung pendosa
Sujud di kakinya
 
Malang, 2012
 
 
 
 
22)
 
 
Di Kamar Ungu
 
Saat mewedang cahya pagi
Saat menanti angin melintas wangi
Saat kucari harumnya kutengok cakrawala
 
Pada kaca jendela masih terdengar kepak sayap
Angan yang kulepas entah kemana lenyap
Kugali diri dalam buncah resah
 
Lalu mengalir di alir nadi
Hanyut pada dinding kamar
Tibatiba tumpah di ubin lantai
 
Tuhan beri aku secangkir duka
Agar menghapus dahaga dosa
 
Banjarbaru, 2012
 
 
 
23)
 
Dalam Kamar Ekstase
 
Lelangit kamar
Bertabur cahya bintang
Tangan tak sampai
 
Jelajah pada dikedalaman malam
Dan bimbang setiap persimpangan 
Raga dan jiwa semakin bersimpuh
Manakala semakin jauh
 
Kepak lelawa
M’lintas kaca jendela
Kamar menyepi
 
Mengalir keheningan jiwa
Mengalir sampai tak berhingga
Menggali angan angan yang terpendam
Dalam misteri kehidupan
 
Menafsir jejak
Misteri kehidupan
Kamar ekstase
 
Banjarbaru, 2012
 
 
 
 
24)
 
 
Dalam Kamar 101
 
Kaca jendela pecah
Aku pun menggelepar dan jatuh
di ubinubin lantai
 
Tersebab angan
Tak sampai dari tangan
Kelam di nian
 
Dideras napas nafsunafsi
tubuhku begitu nista
Terdampar di tubuhmu
lalu tenggelam di lampu padam
 
Di luar kamar
Cuma kepak lelawa
Melintas kelam
 
Tak  mampu diri  menolong
Dan kamar tak ada lorong
Dinding batu
 
Tanganku gemetar
membuka gorden jendela :
Aku kehilangan tuhan
 
Tuhan di mana
Jangan tinggalkan aku
Siluet malam
 
Surabaya,2012
 
 
 
 
25)
 
Pada sebuah Villa kamar
 
Udara apa
Melompat dari bukit
Malam menggigil
 
Masuklah pintu tak berkunci
Demikian gemerisik rerumpun anggur
Jantungku mendebur
 
Gorden bergoyang
Dalam bayangan malam
Lengkingan sepi
 
Tak habis aku mengerti
Langkah apa yang membawaku kemari
Hingga tubuhku jadi kaku begini
 
Di tabir kelam
Dua b’las bidadari
Bermata jambon
 
Sebuah villa di kota Batu
Memberi sebuah kamar
Kucium aroma mawar
 
Kota Batu, 2012
 
 
 
 
26)
 
Dalam Kamar 103
 
Bias jingga senja di kaca jendela
Apakah kau akan sampai padanya
Menghela seperangkat usia
Aku tengadah menyusur jejak langkah
 
Pada cermin waktu
Jenggot semakin panjang
Tak mampu mewarna lain
Putih kian memutih
 
Antara ada dan tiada
Kau kah di muara pintu senja
Di atas sukma sajadah
Zikir, aminkan fitrah
 
Malang, 2012
 
 
 
 
27)
 
Di Jendela Kamar 142
 
Assalamualaikum
Wahai maha berkendara nur
Terima kasih kau pinjamkan lagi diriku
Kembali musafir menyukur nikmatmu
 
Assalamualakum wahai mahoni
Di ujung gemerisik daunmu
Tetes embun di jiwaku
Melapangkan langkah tapakjejakku
 
Assalamualaikum wahai 142 penyair
Bulan kau cahyakan dalam mimpiku
Angin menjadikan napasku semilir
Riak ombak memakna laut anganku
 
Selamat pagi kekasih
Kupetik fajar di matamu
Yang kau tanam dalam kasihsayang
Pagi ini kubaca rawi  : nyanyian seribu burung
 
Sidoarjo, 2012
 
 
 
28)
 
Di Kamar 181
 
Kau tanam anggur di tubuhmu
Ini mahar dari nikah rindu katamu
 
Kutemukan kelelakianku yang hilang
Di kelopak kuncup bunga yang memerkah
 
Petiklah yang paling narum katamu
Sebelum lepas dari tangkai waktu
 
Malam itu kusuling anggur dari rahimmu
Kujadikan tinta catatan pengembaraan
Kapal yang bertolak di luasnya lautan
 
Luasnya lautan katamu adalah arung kehidupan
Adalah nikah kita dalam rindu dendam
Melunas rindu dendam kita sayang
 
Surabaya, 2012
 
 
 
29)
 
Dalam Kamar 026
 
Ada yang menyelinap di pembaringanku
Saat  ingin berbaring
 
Aku ingin menyalakan lampu
Entah apa tibatiba bulan di kaca jendela
Dan kulihat sekuntum mawar di vas bunga
Tak tercium lagi  aroma harumnya
 
Aku terperangkap di seraut wajah
Dan mabuk dalam kristal mimpi
 
Pasuruan, 2012
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar